Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Usai Trump Sesumbar Mau Deklarasi Selat Hormuz Wilayah AS, Iran Belum Putuskan Lanjutkan Pembicaraan - Tribunnews

    9 min read

     

    HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni A-A+ SELAT HORMUZ - Tangkap layar Khaberni, Senin (4/5/2025) menunjukkan kapal perang Amerika Serikat (AS), di perairan sekitar Selat Hormuz. Iran menanggapi klaim Donald Trump soal segera menyatakan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS. 
    Ringkasan Berita:
    • Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan merupakan salah satu jalur pengiriman energi terpenting di dunia.
    • Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan "segera" menyatakan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS.
    • Setelah itu, Iran menegaskan pesan-pesan yang dipertukarkan melalui Qatar dan Pakistan bukanlah bentuk negosiasi.

    TRIBUNNEWS.COM - Iran masih belum memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS).

    Iran juga menegaskan pesan-pesan yang dipertukarkan melalui Qatar dan Pakistan bukanlah bentuk negosiasi.

    Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Sabtu (15/8/2026).

    Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan merupakan salah satu jalur pengiriman energi terpenting di dunia.

    Abbas Araqchi mengatakan kepada kantor berita Iran, Shahrara News, bahwa pembicaraan terpisah dengan Oman difokuskan pada penentuan jalur laut melalui Selat Hormuz.

    Sementara itu, Amerika Serikat harus memenuhi persyaratan agar pengiriman dapat dilanjutkan melalui jalur air tersebut.

    Adapun pernyataan Abbas Araqchi ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan "segera" menyatakan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS.

    Bahkan, Donald Trump mengklaim bahwa Iran sedang mengalami kekalahan telak.

    “Sebentar lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Itu benar,” katanya saat berpidato politik di sebuah akademi kepolisian di negara bagian New York, Jumat (14/8/2026), dilansir Al Arabiya.

    Pejabat Iran Sebut sebagai Kebohongan dan Rekayasa

    Para pejabat militer Iran juga membantah klaim Donald Trump soal Selat Hormuz.

    Komando militer pusat Iran menyebut pernyataan tentang kendali AS atas jalur air itu sebagai "kebohongan dan rekayasa yang tidak berdasar."

    Hingga 12 Agustus 2026, sekitar 3.371 kapal telah melintasi Selat Hormuz dalam 166 hari sejak perang dimulai, yang mewakili sekitar 20 persen dari volume lalu lintas sebelum perang, menurut data dari perusahaan analisis komoditas dan perkapalan Kpler.

    Baca juga: Pakar: Blokade AS di Selat Hormuz Belum Kendor, Iran Siapkan Strategi Lebih Ofensif

    AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada April 2026 dan kemudian menandatangani kesepakatan pada 17 Juni 2026 untuk memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir.

    Namun, pembicaraan tersebut kemudian terhenti karena perbedaan pendapat termasuk jaminan keamanan dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.

    Kedua pihak juga saling melancarkan serangan militer dari tanggal 8 hingga 24 Juli, dengan Washington menyerang target di dalam Iran, dan Teheran membalas dengan serangan terhadap apa yang mereka sebut sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

    Trump Disebut Hanya Bercanda

    Media AS, Wall Street Journal, melaporkan Donald Trump "bercanda" ketika mengatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah perang dengan Iran.

    "Trump belum bertemu dengan para penasihatnya untuk membahas langkah tersebut," kata reporter Wall Street Journal, Brian Schwartz, melalui platform media sosial AS X, mengutip seorang pejabat senior Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya.

    “Presiden Trump belum bertemu dengan para penasihatnya untuk membahas deklarasi Selat Hormuz sebagai wilayah AS pasca perang dan malah bercanda selama pidatonya hari ini di New York,” lanjut Schwartz.

    Schwartz, yang menghadiri pidato tersebut, mengatakan bahwa Trump tertawa kecil setelah mengucapkan pernyataan itu, tetapi kemudian tampak bersikeras bahwa itu benar.

    Trump Cemooh Tuntutan Iran

    PERANG IRAN - Tangkap layar YouTube Reuters 12 Agustus 2026, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump ditemui wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews Selasa (11/8/2026) malam waktu setempat.
    PERANG IRAN - Tangkap layar YouTube Reuters 12 Agustus 2026, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump ditemui wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews Selasa (11/8/2026) malam waktu setempat. (Tangkapan layar YouTube Reuters)

    Presiden AS Donald Trump sempat mengejek tuntutan Iran untuk ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh pemboman AS dan Israel selama lima bulan terakhir - sebuah tuntutan yang menurutnya belum pernah diajukan oleh para negosiator Teheran hingga saat ini.

    Unggahan Trump di media sosial pada Senin (10/8/2026) itu muncul setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menekankan bahwa Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sampai AS memenuhi persyaratannya.

    Teheran menginginkan AS mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mencabut sanksi ekonomi, dan melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan.

    Teheran juga mengatakan AS harus membayar ganti rugi atas kerusakan perang.

    “Terserah pihak AS untuk menghentikan dan memperbaiki tindakan ilegal dan destruktifnya,” kata Baghaei, dikutip dari AP News.

    Baca juga: Negosiasi AS-Iran Buntu, Faktor-Faktor Apa Saja yang Jadi Penghalang?

    Trump menanggapi bahwa dia sekarang menuntut "kompensasi dari Iran, untuk semua orang yang telah mereka bunuh dan lukai parah dengan bom pinggir jalan dan banyak konflik."

    Pemerintah AS telah menyalahkan militan yang didukung Iran atas kematian dan cedera ratusan warga Amerika selama beberapa dekade.

    Termasuk di antaranya adalah pemboman tahun 1983 yang menewaskan 241 personel militer AS di kompleks Marinir di Beirut dan kematian setidaknya 603 tentara AS di Irak antara tahun 2003 dan 2011.

    Trump mengatakan dia juga ingin Teheran memberikan kompensasi kepada keluarga para demonstran Iran yang tewas.

    “Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk memasukkan hal ini secara tegas ke dalam setiap, dan semua, negosiasi di masa mendatang,” kata Trump dalam unggahannya.

    Penutupan Selat Hormuz — yang dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang — telah menjadikan harga energi sebagai fokus utama politik AS menjelang pemilihan paruh waktu bulan November.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Komentar
    Additional JS