Skandal Polisi Jeju Guncang Korea Selatan, 298 Kasus Orang Hilang Diperiksa, 4 Pejabat Dicopot - Kompas
KOMPAS.com - Dugaan pemalsuan dokumen yang dilakukan seorang polisi Korea Selatan pada dua kasus orang hilang mengungkap celah dalam pengawasan kepolisian dan memicu ketidakpercayaan publik terhadap aparat.
Dua orang yang dilaporkan hilang tersebut, bersama dua orang lainnya, ditemukan meninggal dunia di Pulau Jeju, salah satu destinasi wisata paling populer di Korea Selatan.
Kasus tersebut menjadi sorotan media dan publik. Skandal itu muncul saat Korea Selatan tengah menyiapkan restrukturisasi sistem peradilan pidana di mana polisi akan memiliki kewenangan yang lebih besar dalam menangani kasus.
Dalam perubahan tersebut, jaksa akan kehilangan kewenangan penyidikan.
Kondisi Terkini Femas yang Kabur di Korea Selatan, Uang Menipis dan Ditolak Komunitas WNI
Menanggapi kekhawatiran publik, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada rapat Kabinet, Selasa (25/8/2026), meminta perdana menterinya untuk mencari cara melakukan reformasi kepolisian.
Baca juga: Presiden Korea Selatan Buka Suara Usai Polisi Jeju Diduga Tutup 298 Kasus Orang Hilang
Polisi diduga palsukan penanganan kasus orang hilang
Dalam salah satu kasus, seorang polisi yang hanya diidentifikasi dengan nama keluarganya, Bu, menutup laporan orang hilang seorang perempuan berusia 37 tahun yang telah menghilang selama lebih dari tiga bulan tanpa memastikan keselamatannya.
Bu diduga berbohong kepada pacar perempuan tersebut dengan mengatakan ia telah menghubunginya melalui telepon.
Baca juga: [POPULER GLOBAL] Korsel Umumkan Darurat Militer | Vietnam Hukum Mati Koruptor Rp 430 Triliun
Namun, menurut keterangan yang disampaikan Bu, perempuan tersebut meminta agar keberadaannya tidak diungkapkan.
Jenazah perempuan tersebut, Jang Mi-ran, ditemukan di sebuah perkebunan pohon palem di Pulau Jeju pada Senin (24/8/2026).
Tak hanya itu, Polisi mengatakan Bu juga menutup laporan orang hilang lainnya yakni seorang pria berusia 60 tahun pada bulan lalu dengan pernyataan palsu serupa. Jenazah pria tersebut ditemukan pada Sabtu (22/8/2026), juga di Jeju.
Baca juga: AS-Korea Selatan Akhiri Latihan Militer Lebih Cepat Seusai Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik
Selidiki 298 laporan orang hilang
Polisi menangkap Bu pada Senin (24/8/2026) dan mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki seluruh 298 laporan orang hilang yang ditangani Bu sejak tahun lalu.
Polisi juga berupaya mengetahui alasan Bu menangani kedua kasus tersebut dengan tidak benar.
“Kami merasa sangat menyesal telah menimbulkan kekhawatiran publik terkait penanganan kasus orang hilang di Jeju. Kami akan memeriksa sistem kami secara keseluruhan dan melakukan perbaikan kelembagaan untuk mencegah kejadian serupa terjadi lagi,” kata Pelaksana Tugas Komisaris Badan Kepolisian Nasional Yoo Jae-seong, dilansir dari ABC, Kamis (27/8/2026).
Baca juga: Kenapa Korea Selatan Umumkan Darurat Militer?
Ia mengatakan, kasus tersebut disebabkan oleh kombinasi masalah individu dan kegagalan sistem.
Dalam sistem yang kini ditangguhkan, polisi diperbolehkan menutup laporan orang hilang secara mandiri tanpa melaporkannya kepada atasan.
Menteri Dalam Negeri dan Keselamatan Yun Hojung serta Kepala Kepolisian Jeju Ko Pyeong-ki juga telah menyampaikan permintaan maaf secara terpisah.
Baca juga: Jepang Siapkan Anggaran Militer hingga Rp 991 Triliun, Korea Utara Berang, Ada Apa?
Dilansir dari Asia News, Rabu (26/8/2026), merespons kasus tersebut Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan mencopot sementara empat pejabat senior di Kantor Polisi Jeju Seobu dari tugasnya terkait kasus tersebut.
Empat pejabat yang dicopot tersebut terdiri dari kepala Kantor Polisi Jeju Seobu saat ini, kepala kantor yang menjabat ketika Jang Mi-ran (37) dilaporkan hilang, kepala divisi detektif, serta pemimpin tim yang menangani kasus orang hilang.
Baca juga: Trump Kembali Dekati Kim Jong Un, Latihan Militer AS-Korea Selatan Bakal Dikurangi
Kepercayaan publik terhadap polisi tergerus
Kasus tersebut menambah sorotan terhadap kinerja kepolisian Korea Selatan.
Awal tahun ini, polisi menghadapi kritik keras terkait pembunuhan brutal terhadap seorang siswi sekolah menengah.
Ayah tersangka, yang merupakan seorang polisi, dan sejumlah polisi lainnya dituduh menghancurkan barang bukti untuk membantunya menghindari dakwaan bahwa ia juga berniat memperkosa korban serta menghindari hukuman yang lebih berat.
Kritik terhadap kepolisian kembali menguat setelah kasus orang hilang di Jeju terungkap.
“Kecemasan publik meningkat seiring munculnya kelemahan dalam sistem kepolisian, sementara kepercayaan terhadap polisi anjlok,” tulis surat kabar JoongAng Ilbo, Selasa (24/8/2026)
Baca juga: Jauhi Konflik Timur Tengah, Korea Selatan Kini Coba Berlayar Lewat Arktik
Selain dua korban dalam kasus yang ditangani Bu, polisi menemukan dua jenazah lainnya di pulau tersebut. Satu jenazah ditemukan pada Minggu (23/8/2026) dan satu lainnya pada Senin (24/8/2026).
Keduanya juga sebelumnya dilaporkan hilang kepada polisi. Namun, menurut media Korea Selatan, Bu tidak terlibat dalam penanganan laporan orang hilang tersebut.
Pada Kamis (27/8/2026), Gubernur Jeju Wi Seong-gon mengumumkan sejumlah langkah untuk meningkatkan keamanan di pulau tersebut.
Langkah tersebut mencakup penyusunan panduan respons terpadu, pemasangan lebih banyak kamera keamanan, serta penguatan patroli bersama yang melibatkan polisi dan relawan sipil.
Baca juga: Jauhi Konflik Timur Tengah, Korea Selatan Kini Coba Berlayar Lewat Arktik
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT