China Pasang Badan untuk Iran! Tolak Ancaman Sanksi Trump, Dorong Diplomasi - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Beijing menegaskan sanksi dan tekanan ekonomi bukan solusi untuk menyelesaikan konflik AS-Iran dan mendorong negosiasi.
- Washington mengancam negara yang masih membantu atau berbisnis dengan Teheran dengan konsekuensi ekonomi besar.
- Sebagai mitra ekonomi penting Iran, sikap Beijing yang menolak sanksi dapat menyulitkan upaya Washington mengisolasi Teheran secara ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM - China menolak ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Beijing menilai sanksi dan tekanan ekonomi bukan solusi untuk menyelesaikan konflik antara AS dan Iran. China justru mendorong pihak-pihak yang terlibat untuk mengedepankan negosiasi dan dialog.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan Beijing tidak mendukung penggunaan sanksi sebagai alat untuk menyelesaikan perselisihan.
“China meyakini bahwa sanksi dan taktik tekanan bukanlah solusi,” kata Lin Jian dalam konferensi pers, sebagaimana dikutip dari First Post.
Lin Jian juga menyerukan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik untuk menyelesaikan perbedaan melalui negosiasi dan dialog.
Menurut Beijing, penyelesaian politik dinilai lebih tepat untuk meredakan ketegangan dibandingkan memperluas tekanan ekonomi.
Sikap China tersebut tidak terlepas dari hubungan ekonomi Beijing dengan Teheran. China merupakan salah satu mitra penting Iran dan selama ini memiliki hubungan perdagangan dengan negara tersebut.
Meski demikian, Beijing tetap berupaya menjaga komunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik.
Karena itu, China memilih mengambil posisi diplomatik dengan mendorong penyelesaian melalui dialog.
Beijing juga menilai peningkatan sanksi justru berpotensi memperburuk situasi dan memperluas dampak konflik.
Baca juga: Perang Narasi AS-Iran Memanas, Pakar Nilai Perang Darat Masih Kecil Kemungkinannya
Pernyataan Lin Jian sekaligus menjadi respons terhadap upaya Washington membangun tekanan internasional untuk mengisolasi Iran secara ekonomi.
Jika China mengikuti kebijakan sanksi AS, tekanan terhadap perekonomian Iran berpotensi meningkat secara signifikan.
Sebaliknya, sikap Beijing yang menolak tekanan tersebut dapat menjadi tantangan bagi strategi Washington untuk mempersempit ruang ekonomi Teheran.
Trump Ancam Negara yang Masih Berbisnis dengan Iran
Penolakan China muncul setelah Trump pada Rabu mengumumkan ancaman baru terhadap negara-negara yang masih melakukan transaksi dengan Iran.
Trump mengatakan akan memberikan “konsekuensi ekonomi yang luar biasa” kepada negara yang tetap membantu Teheran.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan pemerintahannya akan menjalankan operasi ekonomi besar-besaran terhadap Iran.
“Negara mana pun yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya untuk memberikan bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar,” tulis Trump.
Meski demikian, Trump belum menjelaskan secara rinci bentuk hukuman ekonomi yang akan diterapkan.
Presiden AS tersebut juga belum menyebutkan secara spesifik negara mana yang berpotensi terkena dampak dari kebijakan tersebut.
Ancaman ini menunjukkan perubahan pendekatan Washington dalam menghadapi Teheran. AS sebelumnya lebih banyak mengandalkan kekuatan militer untuk memberikan tekanan kepada Iran. Namun, Washington kini semakin mengarahkan strategi pada tekanan ekonomi.
Perubahan tersebut terjadi setelah rangkaian serangan militer terhadap Iran disebut belum berhasil mendorong para pejabat Teheran kembali ke meja perundingan.
Di sisi lain, muncul laporan mengenai tekanan terhadap persediaan amunisi utama militer AS selama konflik berlangsung.
Sejumlah penasihat Pentagon juga disebut menilai daftar target yang dapat diserang di Iran semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat serangan udara berkelanjutan dinilai berpotensi memberikan hasil yang semakin terbatas.
Washington kemudian mulai mengandalkan instrumen ekonomi sebagai cara lain untuk melemahkan kemampuan Iran.
AS Perkuat Upaya Isolasi Ekonomi Iran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan Washington akan meningkatkan upaya untuk mengisolasi Iran dari sistem perdagangan dan keuangan internasional.
Strategi tersebut diarahkan untuk membatasi sumber pendapatan Teheran sekaligus mengganggu jaringan keuangan yang dianggap membantu Iran memperoleh dana.
Selama bertahun-tahun, Iran telah menghadapi berbagai sanksi dari AS dan negara-negara Barat.
Pembatasan tersebut berdampak terhadap akses Iran ke pasar keuangan internasional, perdagangan, serta kemampuan Teheran menjual minyak secara bebas di pasar global.
Kini Washington berusaha meningkatkan tekanan dengan menargetkan lebih banyak jaringan ekonomi yang masih memiliki hubungan dengan Iran.
Strategi tersebut tidak hanya menyasar pemerintah Iran, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap perusahaan, lembaga keuangan, serta negara lain yang masih berhubungan dengan Teheran.
Jika semakin banyak negara mengikuti kebijakan Washington, tekanan terhadap perekonomian Iran berpotensi semakin besar.
Namun, langkah tersebut juga dapat meningkatkan ketegangan antara AS dengan negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran.
China menjadi salah satu negara yang berada dalam posisi penting dalam situasi tersebut.
Sebagai salah satu mitra ekonomi utama Iran, keputusan Beijing untuk tidak mengikuti tekanan AS dapat membuat upaya Washington mengisolasi Teheran menjadi lebih sulit.
Konflik Iran-AS Masuk Babak Perang Ekonomi
Perkembangan terbaru menunjukkan konflik Iran dan AS semakin melebar dari persoalan militer ke sektor ekonomi dan perdagangan internasional.
Washington berusaha menggunakan sanksi dan tekanan ekonomi untuk mengurangi sumber pendapatan Iran serta mempersempit akses Teheran terhadap sistem keuangan global.
Sementara itu, Iran harus menghadapi tekanan ekonomi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan kini berpotensi semakin diperketat.
Di tengah kondisi tersebut, China memilih mendorong penyelesaian melalui diplomasi.
Sikap Beijing menunjukkan tidak semua negara bersedia mengikuti strategi tekanan ekonomi yang dirancang Washington.
Jika AS terus memperluas sanksi dan meminta negara lain mengikutinya, konflik tersebut berpotensi memberikan dampak yang lebih luas terhadap perdagangan dan pasar energi.
Sebaliknya, jika China tetap mempertahankan hubungan ekonominya dengan Iran, upaya AS untuk mengisolasi Teheran secara penuh akan menghadapi tantangan.
Dengan demikian, konflik Iran-AS kini tidak hanya menjadi persoalan antara dua negara.
Perseteruan tersebut juga mulai menguji hubungan ekonomi dan diplomatik antara AS dengan negara-negara besar lainnya, termasuk China.
Pilihan Beijing untuk mendorong dialog dan menolak sanksi menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan arah tekanan ekonomi terhadap Iran selanjutnya.
(Tribunnews.com / Namira)