Rusia Tuduh Ukraina Tolak Gencatan Senjata, Sengketa Kostiantynivka Kian Memanas - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Rusia menuduh Ukraina menolak usulan gencatan senjata enam jam di Kostiantynivka yang diklaim bertujuan menyerahkan jenazah tentara Ukraina.
- Kyiv membantah tuduhan tersebut sekaligus menolak klaim Moskow yang menyebut kota strategis itu telah direbut.
- Ketegangan ini muncul saat Amerika Serikat kembali mendorong perundingan damai kedua negara.
TRIBUNNEWS.COM – Ketegangan di medan perang Ukraina kembali meningkat ketika Rusia menuduh Ukraina menolak usulan gencatan senjata lokal di Kota Kostiantynivka, wilayah Donetsk.
Tuduhan itu muncul di tengah upaya baru Amerika Serikat (AS) mendorong perundingan damai antara Moskow dan Kyiv.
Al Jazeera melaporkan Kementerian Pertahanan Rusia mengusulkan penghentian pertempuran selama enam jam di dalam dan sekitar Kostiantynivka pada Senin (6/7/2026).
Menurut Moskow, jeda pertempuran itu diperlukan untuk memfasilitasi penyerahan jenazah tentara Ukraina yang gugur kepada pihak Kyiv.
Rusia mengaku telah memberikan waktu kepada Ukraina hingga Minggu (5/7/2026) pukul 09.00 GMT untuk memberikan tanggapan.
Sampai tenggat berakhir, Moskow menuduh Kyiv tidak menyetujui usulan tersebut.
Reuters juga melaporkan Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan Ukraina tetap melanjutkan penembakan di kawasan Kostiantynivka sehingga rencana gencatan senjata lokal tidak dapat dilaksanakan.
Hingga berita ini ditulis, Kementerian Pertahanan maupun Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.
Sengketa Kostiantynivka Belum Berakhir

Tuduhan Rusia itu menjadi babak terbaru dalam sengketa mengenai status Kostiantynivka, kota strategis yang telah lama menjadi sasaran ofensif Moskow di wilayah Donetsk.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Trump Telepon Putin Membahas Ukraina - Hari Ketiga Pemakaman Ali Khamenei
Pada Jumat (4/7/2026), Rusia mengklaim pasukannya berhasil merebut kota tersebut.
Kostiantynivka dinilai penting karena menjadi salah satu pusat logistik dan jalur pertahanan utama Ukraina di kawasan timur.
Ukraina membantah klaim tersebut.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menegaskan pasukan Ukraina masih mempertahankan Kostiantynivka dan menyebut klaim Rusia sebagai propaganda.
"Tentu saja itu tidak benar. Itu hanyalah kebohongan Rusia lainnya, upaya untuk menciptakan sensasi," kata Zelensky melalui akun X, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Zelensky bahkan menyindir Presiden Rusia, Vladimir Putin.
"Jika Kostiantynivka berada di bawah kendali Rusia, mungkin Putin tidak akan kesulitan bertemu saya di sana untuk mencari jalan diplomatik mengakhiri perang ini," ujarnya.
Kremlin Balas Sindiran Zelensky
Pernyataan Zelensky segera dibalas Kremlin.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan Kostiantynivka kini merupakan bagian dari wilayah Rusia sesuai klaim Moskow.
Ia juga menegaskan undangan kepada Zelensky untuk bertemu Presiden Vladimir Putin di Moskow tetap terbuka.
Sebelumnya, Zelensky diketahui mengirim surat kepada Putin yang mengusulkan pembicaraan langsung sebagai bagian dari upaya perdamaian.
Namun, Presiden Ukraina itu sejak lama menolak melakukan pertemuan di ibu kota Rusia.
Baca juga: Trump Telepon Putin 90 Menit Bahas Akhiri Perang Ukraina, Zelensky Sebut Ada Harapan Perdamaian
Upaya Perdamaian Kembali Didorong AS

Perselisihan terbaru mengenai Kostiantynivka terjadi ketika AS kembali berupaya menghidupkan jalur diplomasi.
Presiden AS, Donald Trump telah berbicara secara terpisah dengan Putin dan Zelensky mengenai peluang mengakhiri perang yang kini memasuki tahun kelima.
Menurut Kremlin, Trump menawarkan bantuan kepada Putin untuk mencari solusi atas konflik tersebut.
Sementara itu, Zelensky mengatakan pembicaraannya dengan Trump membahas situasi di sepanjang garis depan perang yang membentang sekitar 1.200 kilometer.
Zelensky menyebut terdapat peluang nyata untuk mengakhiri perang apabila upaya diplomasi terus didorong.
Seorang pejabat senior AS juga mengonfirmasi Trump dijadwalkan bertemu Zelensky dalam KTT NATO pekan ini untuk membahas langkah-langkah mengakhiri konflik.
Pejabat tersebut mengakui pertempuran di garis depan dalam beberapa bulan terakhir cenderung menemui jalan buntu, sehingga Washington melihat adanya urgensi baru untuk mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Perang Masih Berlangsung
Di tengah upaya diplomasi tersebut, pertempuran di berbagai wilayah masih terus berlangsung.
Baca juga: Putin Minta Rusia Lanjutkan Serangan Skala Besar ke Industri Militer Ukraina
Pejabat Rusia di Krimea melaporkan satu orang tewas dan dua lainnya terluka akibat serangan Ukraina pada Minggu (5/7/2026).
Sementara itu, sengketa mengenai Kostiantynivka menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina belum hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga dalam perang narasi.
Ketika Amerika Serikat berupaya membuka kembali ruang dialog,
Moskow dan Kyiv masih saling membantah mengenai penguasaan wilayah serta syarat penghentian pertempuran, menandakan jalan menuju perdamaian masih dipenuhi tantangan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)