Polisi Tokyo Tangkap Kembali Petinggi Sindikat Kejahatan Internasional - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Polisi Metropolitan Tokyo menangkap Hu Xi, warga Siprus yang diduga petinggi Prince Holding Group, bersama tiga warga China atas dugaan penyalahgunaan kartu izin tinggal Jepang
- Hu disebut masuk daftar sanksi Amerika Serikat dan Inggris terkait dugaan jaringan penipuan dan pencucian uang
- Polisi kini menyelidiki kemungkinan keterkaitan aktivitas mereka dengan kejahatan transnasional di Jepang
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Tokyo Metropolitan Police Department menangkap seorang pria yang diduga merupakan petinggi perusahaan asal Kamboja yang telah dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat karena diduga terkait organisasi kejahatan transnasional terbesar di Asia, Sabtu (5/7/2026).
Tersangka adalah Hu Xi (44), warga negara Siprus yang berprofesi sebagai pengusaha dan tidak memiliki alamat tetap di Jepang.
Bersama Hu, polisi juga menangkap tiga orang lainnya, yakni dua warga negara China berusia 36 dan 31 tahun serta seorang pria warga China berusia 49 tahun bernama Chen Xiaoguang.
"Keempatnya diduga melanggar Undang-Undang Pengendalian Imigrasi Jepang dengan menyalahgunakan kartu izin tinggal (zairyu card)," ungkap sumber Tribunnews.com di kepolisian Jepang.
Baca juga: Bandara Narita Jepang Bidik 75 Juta Penumpang, Jalur Kereta Menuju Bandara Digandakan
Diduga meminjamkan kartu izin tinggal
Menurut penyidik, Hu diduga menyerahkan kartu izin tinggal miliknya kepada orang lain pada April hingga Mei tahun ini.
Kartu tersebut kemudian digunakan oleh rekan-rekannya untuk menyamar sebagai Hu ketika mengurus pendaftaran cap resmi (inkan) di kantor pemerintah daerah di Distrik Chuo, Tokyo.
Polisi menduga tiga tersangka lainnya menerima kartu izin tinggal tersebut dan memperlihatkannya di loket pemerintah seolah-olah mereka adalah Hu.
Hu sebelumnya telah ditangkap pada Juni lalu karena diduga mengajukan laporan pindah alamat palsu ke Distrik Chuo, Tokyo.
Ia diketahui menjabat sebagai direktur utama sebuah perusahaan di Tokyo dan diduga berulang kali keluar masuk Jepang selama sedikitnya tiga tahun terakhir dengan status izin tinggal "Highly Skilled Professional" yang berlaku selama lima tahun.
Penyidik kini mendalami tujuan sebenarnya aktivitas Hu di Jepang, termasuk proses pengurusan dokumen kependudukannya.
Dalam pemeriksaan, Hu mengaku "ada beberapa bagian yang berbeda dari tuduhan tersebut", sedangkan Chen membantah seluruh tuduhan.
Diduga petinggi Prince Holding Group
Menurut kepolisian, Hu diduga merupakan salah satu eksekutif dari Prince Holding Group, sebuah konglomerasi yang berbasis di Kamboja dan bergerak di berbagai bidang seperti properti dan jasa keuangan.
Perusahaan tersebut dipimpin oleh Chen Zhi, yang sebelumnya dikenal memiliki hubungan dekat dengan mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen.
Namun di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menuduh kelompok tersebut terlibat dalam jaringan penipuan daring internasional dan pencucian uang dalam skala besar.
United States Department of the Treasury menyatakan bahwa kelompok tersebut merupakan salah satu organisasi kejahatan transnasional terbesar di Asia dan memiliki peran dominan dalam apa yang disebut sebagai "ekonomi penipuan" (fraud economy) di Kamboja, termasuk mengelola aliran dana ilegal senilai miliaran dolar.
Baca juga: Thailand dan Kamboja Bawa Sengketa Migas Lewat Mekanisme PBB
Kena sanksi Amerika Serikat dan Inggris
Pemerintah Kamboja pada Januari 2026 mengumumkan telah menahan tiga warga negara China, termasuk Chen Zhi, sebelum menyerahkan mereka kepada pemerintah China sebagai bagian dari operasi gabungan pemberantasan kejahatan lintas negara.
Pemerintah Kamboja juga mencabut kewarganegaraan Kamboja milik Chen Zhi pada Desember 2025.
Sementara itu, Hu Xi telah masuk dalam daftar sanksi pemerintah Amerika Serikat dan Inggris sejak 2025–2026.
Menurut Departemen Keuangan AS, Hu merupakan orang nomor dua di Prince Holding Group dan selama ini dikenal sebagai tangan kanan atau tokoh senior yang sangat dekat dengan Chen Zhi.
Pemerintah Inggris juga menyebut Hu menggunakan sedikitnya tiga identitas berbeda dalam menjalankan jaringan keuangan kelompok tersebut.
Polisi Metropolitan Tokyo masih terus menyelidiki aktivitas Hu dan jaringan yang diduga dibangunnya di Jepang, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan operasi kejahatan lintas negara.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com