Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Konflik Rusia Ukraina Rusia Spesial Ukraina Vladimir Putin

    Putin Sesumbar, Klaim Pasukan Rusia Hanya Berjarak 5 Kilometer dari Kupiansk - Tribunnews

    8 min read

     


    01:13 Timnas Inggris Kemalingan Jelang Tampil Piala Dunia di AS, Sepatu Para Pemain Tiba-tiba Hilang
    Ringkasan Berita:
    • Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim pasukannya kini hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Sumy dan 2,5-5 kilometer dari Kupiansk.
    • Putin menegaskan Rusia tidak memiliki rencana politik untuk merebut Sumy, meski mengakui operasi militernya bertujuan membentuk zona penyangga di perbatasan.
    • Pada Desember 2025, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan Kupiansk masih dipertahankan pasukannya dan memuji keberhasilan tentara Ukraina di garis depan.

    TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim pasukan negaranya terus mencatat kemajuan di sejumlah wilayah timur laut Ukraina dan kini telah berada hanya sekitar 10 kilometer dari Kota Sumy serta beberapa kilometer dari Kupiansk.

    Pernyataan itu disampaikan Putin dalam wawancara dengan jurnalis Rusia, Pavel Zarubin, yang transkripnya dipublikasikan di situs resmi Kremlin.

    Putin mengatakan operasi militer Rusia di wilayah Sumy dan Vovchansk bertujuan membentuk zona penyangga (buffer zone) di sepanjang perbatasan Rusia setelah serangan lintas batas yang dilakukan militer Ukraina ke Kursk Oblast.

    "Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa tujuan pasukan Rusia di front Sumy dan Vovchansk adalah untuk membangun zona keamanan di sepanjang perbatasan kita. Tugas ini ditetapkan setelah invasi Angkatan Bersenjata Ukraina ke Oblast Kursk dan serangan terhadap wilayah perbatasan kita. Omong-omong, kota Sumy berjarak sekitar 10,5 kilometer," kata Putin, Minggu (28/6/2026).

    Meski mengakui pasukannya semakin mendekati Sumy, Putin menegaskan Moskow tidak memiliki tujuan politik untuk merebut kota tersebut maupun seluruh wilayah Sumy.

    "Kami tidak memiliki rencana politik terkait kota ini atau oblast secara keseluruhan. Kami akan berpedoman pada usulan dari Kementerian Pertahanan dan Staf Umum. Pasukan kami di garis depan ini beroperasi secara aktif dan tegas, maju dengan kecepatan tinggi," ujarnya, seperti diberitakan Pravda.

    Putin Sesumbar: Pasukan Rusia Hanya Berjarak 5 Kilometer dari Kupiansk

    Putin juga mengklaim pasukan Rusia telah berada sekitar 2,5 hingga 5 kilometer dari pinggiran barat Kota Kupiansk, salah satu kota strategis di Kharkiv Oblast.

    Ia menyebut pasukan Ukraina telah beberapa kali melancarkan serangan balasan, tetapi menurutnya tidak berhasil menghentikan laju pasukan Rusia.

    "Saya akan mulai dengan kota Kupiansk, tempat para perwakilan rezim Kyiv suka melakukan sesi foto di depan papan nama kota. Pasukan kami berada antara 2,5 km dan 4-5 km dari pinggiran barat kota. Musuh telah melancarkan beberapa serangan balasan, tetapi tanpa hasil," kata Putin, seperti dikutip dari publikasi resmi Kremlin.

    Baca juga: Putin Akui Rusia Kekurangan BBM setelah Ukraina Terus Gempur Fasilitas Energi

    Selain Sumy dan Kupiansk, Putin juga menyebut pasukan Rusia berada sekitar 8–9 kilometer dari Lyman, serta sekitar 4 kilometer dari Kramatorsk.

    Ia turut menyinggung Sloviansk sebagai salah satu wilayah yang berada di dekat garis depan.

    Kupiansk sempat dikuasai Rusia pada awal invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.

    Namun, kota tersebut berhasil direbut kembali oleh pasukan Ukraina dalam serangan balasan pada September 2022.

    Rusia kemudian kembali melancarkan ofensif untuk merebut Kupiansk pada musim gugur 2025.

    Pada Desember 2025, Putin bahkan mengundang jurnalis asing, termasuk wartawan Ukraina, untuk mengunjungi Kupiansk dan Pokrovsk sebagai upaya menunjukkan klaim kendali Rusia atas wilayah tersebut.

    Namun, beberapa hari kemudian, Ukraina menyatakan berhasil melancarkan serangan balasan di sekitar Kupiansk dan mengepung sebagian pasukan Rusia.

    Pada 12 Desember 2025, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi front Kupiansk, di mana ia merekam video di samping papan tanda pintu masuk kota yang setengah hancur dan mengucapkan selamat kepada Angkatan Darat Ukraina atas hari istimewa mereka.

     "Hari ini saya berada di front Kupiansk bersama para prajurit kita, yang meraih hasil di sini untuk Ukraina. Rusia telah banyak berbicara tentang Kupiansk – kita bisa melihatnya. Saya telah berada di sini, saya telah memberi selamat kepada para prajurit. Terima kasih kepada setiap unit, setiap orang yang berjuang di sini, setiap orang yang menghancurkan penjajah," kata Zelenskyy.

    Ia mengucapkan terima kasih kepada tentara Ukraina yang berperang di garis depan.

    Hingga kini, klaim Rusia mengenai posisi pasukannya di sekitar Sumy dan Kupiansk belum dapat diverifikasi secara independen.

    Sementara itu, meski perang telah berlangsung lebih dari empat tahun, Rusia juga belum berhasil menguasai seluruh wilayah administratif Donetsk Oblast dan Luhansk Oblast yang sejak lama menjadi salah satu target utama operasi militernya.

    Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

    Perang Rusia-Ukraina yang pecah pada 24 Februari 2022 merupakan puncak dari konflik berkepanjangan yang telah berkembang sejak Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada 1991.

    Hubungan antara Moskow dan Kyiv terus memburuk akibat perbedaan kepentingan di bidang politik, keamanan, dan arah kebijakan luar negeri.

    Salah satu faktor utama yang memperuncing ketegangan adalah semakin dekatnya hubungan Ukraina dengan negara-negara Barat, termasuk keinginannya untuk menjadi anggota NATO.

    Rusia memandang langkah tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan nasional karena dinilai dapat memperluas kehadiran aliansi militer Barat hingga ke wilayah yang berbatasan langsung dengan Rusia.

    Ketegangan semakin memanas pada 2014 setelah terjadi pergantian pemerintahan di Ukraina. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata meletus di wilayah Donetsk dan Luhansk, Ukraina timur.

    Berbagai upaya diplomasi, termasuk sejumlah kesepakatan damai, telah dilakukan untuk meredakan konflik. Namun, langkah-langkah tersebut belum berhasil menyelesaikan persoalan mendasar yang menjadi sumber perselisihan kedua negara.

    Puncaknya terjadi pada Februari 2022 ketika Rusia melancarkan operasi militer skala penuh ke Ukraina.

    Pemerintah Rusia menyatakan operasi itu bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO, sedangkan Ukraina bersama negara-negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai invasi terhadap wilayah negara yang berdaulat.

    Sejak perang dimulai, Ukraina memperoleh bantuan militer, finansial, dan diplomatik dari Amerika Serikat serta berbagai negara Eropa.

    Sementara itu, Rusia menghadapi serangkaian sanksi internasional yang menargetkan sektor keuangan, energi, perdagangan, hingga industri strategis.

    Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga memengaruhi kondisi global. Konflik ini mengganggu pasokan energi dan pangan dunia serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi di banyak negara.

    Hingga kini, perang masih berlanjut meski berbagai upaya perundingan dan mediasi terus dilakukan.

    Namun, pembicaraan damai belum membuahkan hasil karena kedua pihak tetap mempertahankan posisi masing-masing, ditambah kompleksitas dinamika geopolitik internasional.

    Dalam setiap proses negosiasi, Rusia tetap mengajukan sejumlah tuntutan, seperti penolakan terhadap keanggotaan Ukraina di NATO, pengakuan atas Krimea dan wilayah lain yang diklaim Moskow, pembatasan kekuatan militer Ukraina, serta jaminan perlindungan yang lebih luas bagi warga berbahasa Rusia.

    Sebaliknya, Ukraina menolak syarat-syarat tersebut dan menegaskan akan terus mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, serta keutuhan wilayahnya sesuai dengan hukum internasional.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Komentar
    Additional JS