Netanyahu: Israel Tak akan Mundur dari Lebanon jika Hizbullah Masih Bersenjata - Tribunnews
Perdana Menteri Israel Netanyahu mengatakan Israel tak akan mundur dari Lebanon selama Hizbullah masih bersenjata dan mengancam Israel.
Tayang:
Facebook Kantor Perdana Menteri Israel
NETANYAHU KUNJUNGI PASUKAN - Foto yang diambil dari Facebook GPO, Rabu (1/7/2026), memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan pasukan Israel di Lebanon selatan pada Selasa (30/6/2026). Netanyahu mengatakan Israel tak akan mundur dari Lebanon selama Hizbullah masih bersenjata dan mengancam Israel.
Amerika Serikat dan Israel menuding Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk riset dan pengembangan energi sipil.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Posisinya kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai balasan atas serangan yang diterimanya, Iran meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.
Teheran juga memperketat pengawasan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.
Konflik kemudian meluas setelah Hizbullah membuka front pertempuran dari Lebanon. Israel merespons dengan melancarkan serangan udara ke Beirut serta sejumlah wilayah di Lebanon selatan.
Setelah hampir 40 hari pertempuran, Pakistan memediasi kedua pihak hingga tercapai kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026.
Kesepakatan tersebut membuka jalan bagi dimulainya kembali komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran.
Rangkaian perundingan berlanjut hingga Amerika Serikat dan Iran secara terpisah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni 2026.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dokumen tersebut saat menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Paris, Prancis, sedangkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani dokumen serupa di Teheran.
Meski demikian, ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap 10 sasaran di Iran pada pekan lalu menyusul laporan sebuah kapal dagang, Kiku, terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz.
Washington dan Teheran kemudian saling menuduh telah melanggar isi nota kesepahaman yang telah disepakati.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, kedua negara sepakat melanjutkan jalur diplomasi di Doha, Qatar.
Utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, sementara delegasi Iran juga berada di Doha.
Namun, hingga kini belum ada pertemuan langsung antara delegasi Amerika Serikat dan Iran, menurut laporan Al Jazeera.
Teheran menegaskan tidak akan memulai perundingan menuju kesepakatan akhir sebelum konflik di Lebanon berakhir, sanksi minyak Amerika Serikat dicabut, dan dana Iran yang dibekukan dikembalikan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)