Kamar Jenazah Caracas Kewalahan, Keluarga Korban Gempa Venezuela Antre Cari Orang Tercinta - Tribunnews
TRIBUNNEWS.COM - Krisis kemanusiaan pascagempa yang mengguncang Venezuela terus memburuk.
Di tengah operasi pencarian korban yang masih berlangsung, kamar jenazah utama di Caracas kewalahan menerima ratusan jenazah sehingga keluarga korban harus mengantre berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk mencari dan mengidentifikasi orang-orang tercinta.
Dilansir The Guardian, kamar jenazah Bello Monte di Caracas menjadi salah satu pusat penanganan korban meninggal setelah gempa bermagnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu pada Rabu (24/6/2026).
Hingga kini, sedikitnya 1.430 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang.
Jenazah terus berdatangan menggunakan berbagai kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi hingga bak truk pikap, karena kapasitas fasilitas penyimpanan jenazah tidak lagi mampu menampung seluruh korban.
Mahasiswa psikologi yang menjadi relawan di Bello Monte, Camila Rodríguez, mengatakan jalanan di sekitar kamar jenazah dipenuhi keluarga yang membawa jenazah kerabat mereka.
"Kemarin seluruh jalan dipenuhi orang-orang yang datang membawa jenazah kerabat mereka," ujarnya.
Keluarga Menunggu Kepastian
Baca juga: Ayah dan Anak Ditemukan Selamat setelah 4 Hari Tertimbun Reruntuhan Akibat Gempa Venezuela
Salah satu keluarga yang masih menunggu kepastian adalah Marjorie Cedeño.
Ia kehilangan kedua orang tuanya, Zoila Cedeño (72) dan Jacinto Ruiz (74), serta saudara laki-lakinya, José Ruiz (44), setelah apartemen empat lantai tempat mereka tinggal di kawasan Los Palos Grandes runtuh akibat gempa.
Hingga Jumat malam, Marjorie baru berhasil mengidentifikasi jenazah sang kakak melalui foto yang diperlihatkan polisi forensik.
Sementara kedua orang tuanya diyakini masih tertimbun reruntuhan bersama puluhan korban lainnya.
"Suasananya mengerikan. Anda tidak bisa membayangkan betapa kewalahannya tempat itu. Ini tragedi yang tak terbayangkan," katanya.
Kisah serupa dialami Belkis Cedeño yang mencari saudara iparnya, María Elena Moreno (56), warga La Guaira, wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa.
Menurut Belkis, korban sempat ditemukan dalam keadaan hidup beberapa jam setelah gempa.
Namun proses evakuasi terganggu setelah beredarnya informasi palsu mengenai ancaman tsunami yang memicu kepanikan.
Baca juga: Citra Satelit Ungkap Skala Kerusakan Gempa Venezuela
Saat akhirnya berhasil dibawa ke rumah sakit, María Elena dinyatakan meninggal dunia.
Relawan Sumbang Peti Mati
Di tengah keterbatasan fasilitas pemerintah, bantuan justru banyak datang dari masyarakat.
Mantan Presiden Asosiasi Rumah Duka Nasional Venezuela, Edgar Hernández, mengatakan para pengurus rumah duka dari berbagai daerah telah menyumbangkan lebih dari 200 peti mati, kantong jenazah, serta perlengkapan pemakaman lainnya.
Menurutnya, banyak keluarga juga membawa sendiri jenazah kerabat mereka ke Bello Monte karena kamar jenazah di La Guaira sudah tidak mampu lagi menampung korban.
Selain membantu proses pemakaman, para relawan membagikan makanan, air minum, kopi, serta memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban yang masih menunggu kabar anggota keluarganya.
Pemerintah Dikritik Lamban
Sementara itu, pemerintah Venezuela terus melanjutkan operasi pencarian korban.
Pelaksana tugas (plt) Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menyampaikan apresiasi kepada tim penyelamat internasional setelah puluhan korban berhasil ditemukan dalam keadaan hidup.
Ia juga mengumumkan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun berhasil dievakuasi hidup-hidup dari reruntuhan di Caraballeda.
Baca juga: Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 1.400 Orang, Ribuan Lainnya Masih Hilang
Namun di lapangan, muncul kritik terhadap respons pemerintah yang dinilai lambat menghadapi bencana berskala besar tersebut.
Saat Rodríguez mengunjungi salah satu kawasan terdampak di Caracas, sejumlah warga meneriakkan protes karena merasa bantuan pemerintah belum menjangkau seluruh korban.
Di tengah situasi itu, solidaritas masyarakat justru menjadi penopang utama.
Ratusan relawan terus mendirikan pos bantuan, menyediakan makanan, air bersih, tempat beristirahat, hingga layanan konseling trauma bagi keluarga korban.
Sementara itu, The New York Times juga melaporkan kamar jenazah di Caracas mengalami tekanan luar biasa akibat terus berdatangannya korban meninggal, sehingga banyak keluarga harus menunggu lama untuk memastikan identitas anggota keluarga mereka.
(Tribunnews.com/Andari WUlan Nugrahani)