Menlu Estonia: Drone Ukraina yang Langgar Wilayah Udara NATO Tetap Ditoleransi Selama Serang Rusia - Tribunnews
× Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia
Menlu Estonia: Drone Ukraina yang Langgar Wilayah Udara NATO Tetap Ditoleransi Selama Serang Rusia
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna mengatakan negaranya tidak akan meminta Ukraina menghentikan operasi drone ke Rusia meski beberapa drone memasuki wilayah udara Estonia.
- Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya serangan drone jarak jauh Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.
- Rusia menilai negara-negara NATO memberikan dukungan tidak langsung terhadap operasi tersebut, tuduhan yang dibantah sejumlah anggota aliansi.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Estonia, Margus Tsahkna, menyatakan negaranya tidak akan meminta Ukraina menghentikan operasi drone terhadap Rusia meskipun sejumlah pesawat nirawak tersebut sempat melintasi atau memasuki wilayah udara Estonia.
Pernyataan itu disampaikan Tsahkna dalam wawancara dengan Financial Times dan mencerminkan dukungan Tallinn terhadap operasi militer Ukraina, meski mengakui adanya risiko terhadap keamanan wilayahnya sendiri.
Baca juga: Selat Hormuz Tetap Panas, Denmark Kirim Militer Gabung Misi Eropa di Tengah Tuduhan Iran ke NATO
Estonia Tetap Dukung Operasi Drone Ukraina
Tsahkna mengatakan pemerintah Estonia memang tidak menginginkan pelanggaran wilayah udara oleh drone Ukraina.
Namun, menurutnya, insiden tersebut bukan alasan untuk meminta Kyiv menghentikan serangan terhadap sasaran di Rusia.
"Tentu kami tidak senang dengan insiden itu. Tetapi kami juga tidak mengatakan kepada Ukraina untuk menghentikannya," ujar Tsahkna.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina meningkatkan penggunaan drone jarak jauh untuk menyerang kilang minyak, terminal ekspor energi, dan berbagai infrastruktur strategis di wilayah Rusia.
Sejumlah drone dilaporkan melintasi atau jatuh di negara ketiga selama menjalankan misinya.
Rusia Tuduh NATO Beri Dukungan Tidak Langsung
Sebelumnya, Rusia menuduh sejumlah negara anggota NATO secara diam-diam mengizinkan wilayah udaranya digunakan sebagai jalur operasi drone Ukraina menuju wilayah Rusia, termasuk untuk serangan ke St. Petersburg.
Tuduhan tersebut dibantah oleh negara-negara Baltik.
Sementara itu, Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo mengaku telah menyampaikan langsung kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahwa pelanggaran wilayah udara Finlandia oleh drone merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.
Di Latvia, lambatnya respons terhadap masuknya drone Ukraina bahkan sempat memicu krisis politik yang berujung pada runtuhnya koalisi pemerintahan pada Mei lalu.
Militer Estonia sendiri dilaporkan pernah menembak jatuh beberapa drone Ukraina yang memasuki wilayah negaranya.
Drone Jadi Andalan Baru Ukraina
Pemerintah Ukraina dan negara-negara pendukungnya menilai kemampuan drone jarak jauh menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi Rusia.
Serangan tersebut ditujukan untuk merusak fasilitas energi dan logistik Rusia, sekaligus meningkatkan tekanan ekonomi bersama dengan sanksi Barat.
Menurut pendukung Kyiv, strategi ini diharapkan dapat memaksa Moskow menerima tuntutan gencatan senjata atau memperbaiki posisi Ukraina di medan perang.
Rusia Klaim Situasi Tetap Terkendali
Presiden Rusia Vladimir Putin menepis anggapan bahwa serangan drone Ukraina telah mengubah keseimbangan perang secara signifikan.
Ia mengatakan Rusia memiliki kemampuan untuk menghadapi ancaman tersebut, termasuk melalui pengembangan sistem pertahanan udara yang lebih modern.
Putin juga menuding Ukraina memperoleh teknologi baru dari negara-negara Eropa untuk meningkatkan kemampuan drone mereka.
Menurutnya, serangan tersebut lebih merupakan bagian dari perang informasi yang bertujuan melemahkan kepercayaan publik Rusia daripada memberikan dampak strategis di garis depan pertempuran.
Menteri Pertahanan Rusia Andrey Belousov kemudian mengungkapkan bahwa negaranya telah memulai modernisasi besar-besaran sistem pertahanan udara sejak April 2026.
Program tersebut mencakup peningkatan integrasi satuan respons cepat yang menggunakan drone pencegat (interceptor drones) dan ditargetkan mulai menunjukkan hasil pada November mendatang.
Ketegangan Rusia-NATO Terus Meningkat
Di tengah meningkatnya penggunaan drone dalam konflik, Rusia juga mengklaim telah mengidentifikasi sejumlah fasilitas di negara-negara anggota NATO yang disebut memasok komponen penting bagi program drone Ukraina.
Hingga kini, tuduhan tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari negara-negara yang disebutkan.
Pernyataan Estonia menunjukkan bahwa isu penggunaan wilayah udara negara-negara NATO dalam konflik Rusia-Ukraina masih menjadi salah satu sumber ketegangan yang berpotensi memperumit hubungan antara Moskow dan aliansi Barat.