Jelang KTT NATO, Turki Tangkap Lebih Dari 200 Aktivis dan Jurnalis - Tribunnews

Turki bersiap menjadi tuan rumah KTT NATO pada 7-8 Juli di Ankara. Pertemuan itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di tubuh aliansi. Salah satu pemicunya adalah sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kerap mengkritik sekutu di seberang Atlantik.
Namun, KTT ini menjadi sangat penting bagi Turki yang memiliki militer terbesar kedua di NATO. Turki juga memegang peran penting di sayap tenggara aliansi tersebut. Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi presiden AS dalam 17 tahun, sejak Barack Obama pada 2009.
Jelang pertemuan, negeri di tepi Laut Hitam itu dibayangi gelombang penangkapan. Media melaporkan, sebanyak 225 orang telah ditangkap dalam beberapa hari terakhir. Total 178 orang di antaranya masih ditahan. Kebanyakan adalah aktivis HAM, pegiat lingkungan, dan jurnalis.
Pemerintah juga memberlakukan larangan ketat terhadap aksi unjuk rasa selama dua pekan ke depan di Ankara.
Jaksa Turki menjerat para tersangka dengan tuduhan terorisme
Jaksa Turki menyatakan, gelombang penangkapan didasarkan pada penyelidikan terhadap organisasi teroris yang masih berlangsung. Menurutnya, penyelidikan itu bertujuan untuk mengungkap aktivitas kelompok terorisme di seluruh Turki.
Beberapa orang yang ditangkap termasuk perwakilan Yayasan TEMA di Ankara Nevzat Özer, ekonom Emel Memiş Parmaksiz, dan jurnalis sekaligus pemimpin redaksi portal LGBTQ Kaos GL, Yildiz Tar. Dua pengacara, Semra Demir dan Kürşat Bafra, juga ditahan dengan tuduhan keterlibatan dalam organisasi teroris bersenjata. Mereka masih berada dalam tahanan praperadilan.
Sejumlah tersangka diperiksa karena dugaan keterkaitan dengan Partai Komunis Turki/Marxis-Leninis. Sebagai informasi, partai ini dicap sebagai teroris oleh pemerintah Turki. Pemeriksaan mencakup penggunaan nama samaran, pelatihan militer, dan struktur organisasi. Para tersangka membantah tuduhan tersebut. Bahkan, ada yang tidak mengetahui kelompok itu.
Kenapa Turki tangkap para pendemo?
Lantas, mengapa pemerintah mengambil langkah ini menjelang KTT NATO? Bukankah hal ini berisiko menuai kritik internasional?
Ilmuwan politik Berk Esen menilai langkah tersebut janggal. Sebab, jika pemerintah mendapat sorotan positif sebelum KTT, merekalah yang akan diuntungkan. Ia juga menyoroti pola serupa yang terjadi menjelang KTT NATO sebelumnya di Turki. Saat itu, kelompok-kelompok kiri menjadi sasaran penindakan.
Langkah tersebut juga dinilai bisa menjadi sinyal kepada Amerika Serikat. Kali ini, penindakan diduga menyasar individu yang dicurigai akan mengorganisasi aksi protes. Esen juga menyebut, banyak individu yang ditangkap tidak memiliki afiliasi politik tertentu. Ia menilai hal ini berkaitan dengan sistem peradilan Turki yang lemah.
Gelombang penangkapan mencerminkan represi yang kian menguat di Turki
Organisasi HAM Human Rights Watch turut mengkritik keras penangkapan tersebut.
“Penyalahgunaan Undang-Undang Terorisme untuk melakukan penangkapan massal dan membungkam orang-orang menjelang KTT NATO bertentangan dengan nilai-nilai dasar aliansi,” tulis Benjamin Ward, Deputi Direktur Eropa dan Asia Tengah Human Rights Watch.
Ia menambahkan, “Membungkan pengunjuk rasa di Ankara semakin memperlihatkan represifnya pemerintah Turki,” serta mendesak sekutu NATO untuk menekan perubahan kebijakan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Muhammad Hanafi