Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Iran Ranjau Laut Selat Hormuz Spesial

    Memperumit Situasi, Iran Tak Perlu Campur Tangan Pihak Luar untuk Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz - Tribunnews

    12 min read

     

    × Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia
    Ringkasan Berita:
    • Iran telah menandatangani nota kesepahaman baru-baru ini dengan AS.
    • Iran akan mengatur sebaik mungkin untuk menyediakan jalur aman bagi kapal dagang, tanpa biaya, hanya untuk jangka waktu 60 hari.
    • Jalur komunikasi antara Iran dan AS bukanlah antara otoritas militer kedua negara, melainkan antara lembaga politik mereka.

    TRIBUNNEWS.COM - Iran menyatakan tidak perlu campur tangan pihak luar untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz, Selasa (30/6/2026).

    Sebab, menurut Iran, hal itu "hanya akan memperumit situasi."

    Iran telah berulang kali menegaskan pengelolaan navigasi, operasi pembersihan ranjau, dan pengaturan maritim sementara di Selat Hormuz diatur oleh Pasal 5 Memorandum Islamabad dan tetap berada di bawah koordinasi Iran sebagai negara pantai.

    Selat Hormuz, salah satu titik rawan energi paling penting di dunia, tetap menjadi pusat ketegangan regional sejak pecahnya permusuhan pada 28 Februari 2026 dan memorandum Iran-AS yang mulai berlaku pada 18 Juni untuk memulihkan transit maritim dan menetapkan mekanisme navigasi sementara.

    "Iran lebih memahami tanggung jawabnya daripada pihak lain mana pun dan memiliki kemampuan untuk memenuhinya, dan tidak perlu campur tangan pihak lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei kepada wartawan, menurut kantor berita pemerintah IRNA.

    Baqaei mengatakan, dengan menandatangani nota kesepahaman baru-baru ini dengan Washington, Teheran akan mengatur sebaik mungkin untuk menyediakan jalur aman bagi kapal dagang, tanpa biaya, hanya untuk jangka waktu 60 hari dari wilayah Teluk ke Laut Oman dan sebaliknya.

    "Pelayaran kapal dagang akan segera dimulai dan dengan mempertimbangkan perlunya penghapusan hambatan teknis dan militer serta pembersihan ranjau oleh Republik Islam Iran, akan dibuka dalam waktu 30 hari."

    "Oleh karena itu, ini adalah sebuah proses yang telah dimulai dan akan terus berlanjut, dan Republik Islam Iran tentu saja memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan proses ini tanpa perlu campur tangan pihak lain," terangnya.

    Baqaei mencatat, jalur komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bukanlah antara otoritas militer kedua negara, melainkan antara lembaga politik mereka.

    Ia menambahkan bahwa hal itu ditangani oleh Kementerian Luar Negeri di pihak Iran.

    Baca juga: Iran Bantah Ada Pembicaraan Lanjutan di Qatar, JD Vance: Itu Cuma Taktik Negosiasi Persia

    Pada Senin (29/6/2026), Iran telah menolak proposal yang didukung Prancis untuk bekerja sama dalam membersihkan ranjau di Selat Hormuz.

    Iran memperingatkan Prancis agar tidak melakukan provokasi, karena dapat semakin memperumit situasi maritim yang sensitif.

    Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, mengatakan berdasarkan nota kesepahaman Islamabad, operasi pembersihan ranjau di jalur perairan strategis tersebut akan dilakukan “sepenuhnya oleh Iran” dan bukan oleh negara lain mana pun.

    Dia mengatakan pengaturan paralel atau keterlibatan asing dalam operasi pembersihan ranjau tidak akan diizinkan, menekankan bahwa kondisi saat ini di selat tersebut tetap "sensitif dan kompleks."

    “Kami sangat menyarankan Prancis untuk tidak memperumit situasi dengan provokasinya,” kata Gharibabadi, Senin, dilansir Anadolu Agency.

    Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, Prancis dan Oman telah memutuskan untuk bekerja sama, berkoordinasi dengan para mitra, dalam membersihkan ranjau di Selat Hormuz untuk mengamankan jalur maritim dan memastikan jalur pelayaran yang “bebas dan tanpa syarat” melalui jalur air strategis tersebut.

    Macron menyampaikan pernyataan tersebut setelah melakukan pembicaraan di Paris dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq selama kunjungan resmi pertamanya ke Prancis.

    SELAT HORMUZ - Tangkap layar Khaberni, Senin (4/5/2025) menunjukkan kapal perang Amerika Serikat (AS), di perairan sekitar Selat Hormuz.
    SELAT HORMUZ - Tangkap layar Khaberni, Senin (4/5/2025) menunjukkan kapal perang Amerika Serikat (AS), di perairan sekitar Selat Hormuz. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

    Sementara itu, Prancis dan Oman menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dan memastikan kebebasan navigasi yang "tanpa syarat", sambil menegaskan kembali dukungan untuk pembentukan negara Palestina yang merdeka.

    Pernyataan tersebut menekankan “perlunya membuka kembali Selat Hormuz dan menjunjung tinggi kebebasan navigasi tanpa syarat dan tanpa batasan, termasuk hak lintas transit sesuai dengan hukum laut.”

    Diberitakan Anadolu Agency, kedua pihak juga menyambut baik nota kesepahaman yang dicapai antara AS dan Iran, serta menyatakan dukungan untuk negosiasi yang sedang berlangsung yang bertujuan untuk mencapai penyelesaian diplomatik jangka panjang.

    Pernyataan tersebut selanjutnya menggarisbawahi dukungan untuk implementasi solusi dua negara dan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, termasuk pembentukan Negara Palestina yang merdeka.

    Oman Menentang Pungutan Tarif

    Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengatakan Muscat tidak mendukung pengenaan biaya transit pada kapal yang melewati Selat Hormuz.

    Namun, Oman tetap membuka kemungkinan untuk membahas biaya yang terkait dengan layanan maritim.

    Dalam pernyataannya kepada Radio Internasional Monte Carlo, Badr Albusaidi mengatakan Oman “tidak mendukung pengenaan biaya apa pun” untuk melintasi jalur perairan strategis tersebut.

    Ia mengatakan mekanisme yang berkaitan dengan layanan maritim dapat dipertimbangkan, termasuk peningkatan keselamatan navigasi, kesiapsiagaan darurat, dan langkah-langkah anti-polusi, serupa dengan model yang digunakan di Selat Malaka dan Singapura.

    Baca juga: Iran Prioritaskan Diplomasi dengan AS, tapi Tetap Siap untuk Opsi Perang

    Albusaidi mengatakan Oman terus menyerukan de-eskalasi dan mendukung implementasi nota kesepahaman yang ditandatangani antara AS dan Iran.

    Ia menekankan, Muscat berkomitmen untuk menjaga navigasi yang “aman, terjamin, dan bebas” di Selat Hormuz bagi semua pihak.

    Menlu Oman mengatakan, setiap kesepahaman di masa mendatang dengan Iran mengenai selat tersebut akan sejalan dengan hukum internasional.

    Menurutnya, Oman tetap berkomitmen pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut dan setiap pengaturan baru harus tetap berada dalam kerangka hukum tersebut.

    Albusaidi juga menyinggung apa yang ia sebut sebagai konsensus Teluk tentang perlunya menurunkan ketegangan dan mencegah serangan di kawasan tersebut, dengan mengatakan bahwa negara-negara Teluk tetap fokus pada implementasi perjanjian yang ada dan menjaga ketenangan.

    Pada 23 Juni 2026, Iran dan Oman sepakat untuk membentuk kelompok kerja bersama guna melanjutkan pembicaraan tentang pengelolaan navigasi di Selat Hormuz di masa mendatang dan layanan maritim terkait.

    Kedua pihak juga sepakat untuk berkonsultasi dengan negara-negara pesisir lainnya dan pemangku kepentingan terkait mengenai masalah ini.

    Albusaidi juga mengatakan ketegangan baru-baru ini tidak memengaruhi hubungan Oman dengan AS, dan menggambarkan hubungan bilateral tersebut sebagai hubungan yang didasarkan pada "rasa hormat dan kerja sama."

    Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Berlanjut

    Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz berlanjut selama akhir pekan meskipun ada kekhawatiran keamanan yang kembali muncul menyusul serangan antara Iran dan AS, demikian menurut platform pelacakan kapal MarineTraffic pada hari Senin.

    Platform analitik maritim tersebut menyatakan 108 penyeberangan terverifikasi tercatat antara tanggal 26 dan 28 Juni, termasuk kapal kontainer, kapal tanker, kapal terkait LNG, kapal pengangkut barang curah, dan kapal jasa.

    Volume lalu lintas paling tinggi terjadi pada 26 Juni sebelum mereda selama dua hari berikutnya, menunjukkan bahwa aktivitas pengiriman terus berlanjut tetapi belum sepenuhnya normal mengingat risiko keamanan yang ada.

    Baca juga: IDF Siapkan Operasi Biru-Putih, Menhan Israel: Kita Kemungkinan akan Perang Lagi dengan Iran Besok

    Pergerakan terbaru ini terjadi setelah serangan terhadap kapal-kapal komersial di sekitar jalur perairan strategis tersebut memicu eskalasi baru antara AS dan Iran selama akhir pekan.

    Insiden tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemilik kapal, perusahaan asuransi, dan pasar energi mengenai keselamatan pelayaran melalui salah satu titik rawan maritim terpenting di dunia. Rute melalui selat tersebut tetap terbagi.

    Data MarineTraffic menunjukkan 39 penyeberangan menggunakan Rute Oman, sementara 37 mengikuti Rute Iran.

    Sebanyak 23 penyeberangan lainnya diklasifikasikan sebagai gelap atau tidak diketahui, dan 9 menggunakan Rute IMO.

    Distribusi tersebut menunjukkan bahwa operator kapal masih menilai risiko dengan cermat dan bukannya kembali ke pola lalu lintas sebelum krisis.

    Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

    Selat ini merupakan jalur utama untuk perdagangan minyak, gas alam cair, dan kontainer global.

    Setiap gangguan di jalur air ini dipantau secara ketat oleh pasar energi, perusahaan asuransi, dan perusahaan pelayaran karena perannya dalam ekspor Teluk Persia.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Komentar
    Additional JS