Profesor Iran: Israel Berencana Duduki Lebanon Secara Permanen - Tribunnews
Profesor Iran: Israel Berencana Duduki Lebanon Secara Permanen
kehadiran militer Israel di Lebanon selatan bukan sekadar langkah keamanan sementara, melainkan mencerminkan tujuan yang lebih luas
Tayang:
Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English
PASUKAN ISRAEL - Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English pada Selasa (18/2/2025) menunjukkan pasukan israel berada di pos di Lebanon Selatan pada 15 Februari 2025. Juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Nadav Shoshani pada hari Senin (17/2/2025) mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menarik pasukan dari 5 pos di Lebanon Selatan.
Profesor Iran: Israel Berencana Duduki Lebanon Secara Permanen
Ringkasan Berita:
- Profesor Universitas Teheran Seyed Mohammad Marandi menilai Israel berupaya mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan secara permanen.
- Marandi menuduh Amerika Serikat tidak menekan Israel untuk menarik pasukannya sesuai pemahamannya atas kesepakatan sementara dengan Iran.
- Pernyataan itu muncul di tengah perbedaan tafsir mengenai kesepakatan Iran-AS dan perjanjian Israel-Lebanon yang dimediasi Washington.
TRIBUNNEWS.COM - Profesor Universitas Teheran, Seyed Mohammad Marandi, menilai keberadaan militer Israel di Lebanon selatan menunjukkan ambisi jangka panjang Israel untuk mempertahankan kendali atas wilayah tersebut.
Ia juga menuduh Amerika Serikat tidak menjalankan komitmennya dalam mendorong penarikan pasukan Israel sebagaimana dipahami Iran dalam kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran.
Baca juga: Dikepung Empat Tank, Video Petempur Hizbullah yang Sendirian Menyergap Pasukan Israel Dikejar IDF
Pernyataan itu disampaikan Marandi dalam wawancara dengan media Rusia RT di tengah meningkatnya ketegangan terkait implementasi kesepakatan gencatan senjata dan diplomasi pascakonflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Soroti Kehadiran Militer Israel di Lebanon
Marandi mengatakan kehadiran militer Israel di Lebanon selatan bukan sekadar langkah keamanan sementara, melainkan mencerminkan tujuan yang lebih luas.
Menurutnya, Israel memiliki ambisi memperluas pengaruh teritorialnya, termasuk di Lebanon dan Suriah.
"Kita semua tahu bahwa rezim Israel ingin memperluas wilayahnya dengan mengambil Lebanon dan Suriah. Ini merupakan bagian dari proyek Israel Raya," kata Marandi.
Ia juga menyinggung keberadaan pasukan Israel di sebagian wilayah Suriah selatan yang berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan Marandi dan belum tentu mencerminkan posisi resmi pemerintah Iran.
Kritik terhadap Peran Amerika Serikat
Marandi menilai Amerika Serikat tidak memberikan tekanan yang cukup kepada Israel untuk menarik pasukannya dari Lebanon selatan.
Menurutnya, Washington gagal memenuhi kewajibannya sebagaimana dipahami Iran dalam kesepakatan sementara yang dicapai kedua negara pada Juni 2026.
"Amerika tidak mendorong mereka keluar. Mereka tidak memberikan tekanan kepada Israel untuk mengakhiri pendudukannya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sejak awal Iran tidak yakin Washington benar-benar serius melaksanakan seluruh isi kesepakatan tersebut.
Kesepakatan Iran-AS dan Perjanjian Israel-Lebanon
Awal Juni lalu, Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan sementara yang membuka kembali jalur diplomasi setelah konflik bersenjata selama sekitar 40 hari.
Menurut berbagai laporan, salah satu tuntutan utama Teheran adalah penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan.
Sementara itu, pekan lalu Israel dan pemerintah Lebanon menandatangani perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat mengenai penarikan bertahap pasukan Israel dari sejumlah wilayah di Lebanon selatan.
Dalam kerangka tersebut, penarikan pasukan dikaitkan dengan proses pelucutan senjata Hizbullah.
Namun, implementasi kesepakatan itu masih menuai perbedaan tafsir antara Washington dan Teheran.
Kedua pihak dalam beberapa hari terakhir saling menuduh telah melanggar ketentuan perjanjian, bahkan sempat kembali terlibat aksi saling serang.
Hizbullah Tolak Kesepakatan
Hizbullah sebelumnya telah menyatakan menolak perjanjian Israel-Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat.
Kelompok tersebut menilai kesepakatan itu memberikan keleluasaan bagi Israel untuk tetap melakukan operasi militer di Lebanon serta menolak tuntutan pelucutan senjata.
Penolakan Hizbullah menjadi salah satu tantangan utama dalam implementasi perjanjian tersebut dan menambah ketidakpastian terhadap stabilitas keamanan di perbatasan Israel-Lebanon.
(oln/rt/*)