Perang Meletus Lagi, Amerika Gempur Iran Hancurkan Markas Rudal-Drone - CNBC Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan damai yang 'rapuh' antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tak bertahan lama. Militer AS kembali menyerang Iran pada Jumat (26/6) sebagai tanggapan atas serangan drone Iran terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS menyatakan pesawat-pesawat mereka menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone, serta situs radar pesisir. Menurut laporan CNN International, mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, operasi AS tersebut telah berakhir.
Media Iran menyebutkan sebuah proyektil menghantam area di sekitar dermaga di Sirik, wilayah selatan Iran.
Namun, ada tanda-tanda kemajuan di wilayah Timur Tengah lain. Israel dan Lebanon telah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Kedua pihak memandang kesepakatan ini sebagai langkah awal yang mengharuskan Hizbullah melucuti senjata dan Israel menarik pasukannya dari Lebanon. Kendati demikian, belum jelas bagaimana kesepakatan tersebut akan ditegakkan. Hizbullah menyatakan tidak akan bekerja sama.
Peringatan Iran ke Negara-Negara Timur Tengah
Teheran menegaskan posisinya sebagai 'penguasa' Selat Hormuz dan memperingatkan negara-negara Timur Tengah agar tidak memihak Washington, menyusul serangan pada Kamis (25/6) terhadap sebuah kapal kargo yang sedang berlayar di dekat pesisir Oman.
Presiden AS Donald Trump menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyatakan bahwa tindakan itu melanggar kesepakatan yang dicapai pekan lalu.
"Agresi yang tidak beralasan terhadap kapal komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata," demikian pernyataan Komando Pusat AS saat mengumumkan serangan tersebut.
Militer AS menyatakan akan terus memberikan "koordinasi dan dukungan untuk pelayaran yang aman" bagi kapal-kapal komersial yang melintasi selat tersebut.
Media pemerintah Iran, yang mengutip sumber militer tanpa nama, melaporkan adanya serangan di pelabuhan Sirik setelah terdengar suara ledakan di lokasi tersebut. Sumber itu menyebutkan bahwa beberapa tembakan peringatan telah dilepaskan dari Sirik ke arah kapal-kapal yang melanggar peraturan Selat Hormuz sekitar lima jam sebelumnya, seraya menambahkan bahwa dua rudal peringatan juga telah diluncurkan dari wilayah Karpan di dekatnya ke arah jalur perairan strategis tersebut.
Iran sebelumnya telah menyatakan kemarahannya atas pernyataan yang disebutnya "intervensionis, tidak bertanggung jawab, dan provokatif" dari AS dan enam negara Timteng, yang menolak klaim Iran bahwa mereka berhak memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
"Pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz tidak dapat dijamin di bawah pengaturan yang ambigu, rute alternatif, atau pengambilan keputusan yang tidak memperhitungkan peran Iran sebagai negara pantai," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui platform X.
Bloomberg News melaporkan bahwa Oman telah memberi tahu sekutunya bahwa kapal-kapal yang melintasi Hormuz mungkin harus membayar biaya. Reuters tidak dapat segera mengonfirmasi laporan tersebut.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa tiga kapal tanker asing yang mencoba melakukan pelayaran tanpa izin di selat tersebut diperintahkan berbalik arah setelah menerima peringatan dari Korps Garda Revolusi Islam. Pihak berwenang tidak memberikan perincian lebih lanjut.
Seorang pejabat AS menyatakan bahwa Washington sedang menelusuri laporan-laporan tersebut.
(fab/fab)
Addsource on Google
Saksikan video di bawah ini: