Netanyahu Ngeyel, Tegaskan Zionis Israel Akan Terus Duduki Lebanon - Tribunnews

Ringkasan Berita:
- Netanyahu menyatakan Israel akan mempertahankan pendudukan di Lebanon demi keamanan wilayah utara.
- Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan pasukan Israel tidak akan ditarik dari zona keamanan di Lebanon selatan.
- Bennett membantah klaim pemerintah dan menyebut pasukan Israel justru menghadapi banyak pembatasan operasi.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan, zionis Israel akan terus menduduki wilayah Lebanon.
Ia juga mengakui, negaranya kini terlibat dalam perang regional yang masih berlangsung.
Dalam pernyataannya kepada media, Netanyahu mengatakan telah menginstruksikan militer Israel untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna menjamin keamanan penduduk di wilayah utara.
Ia menegaskan operasi militer akan terus berjalan sesuai perkembangan situasi di lapangan.
Netanyahu juga mengklaim bahwa Iran, Hizbullah, dan Hamas kini tidak lagi memiliki kemampuan yang sama untuk mengancam Israel.
“Kami telah mengubah aturan permainan di wilayah kami, memecahkan penghalang ketakutan, dan membuktikan kekuatan cengkeraman besi kami,” ujar Netanyahu, mengutip Al Mayadeen, Jumat (26/6/2026).
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang pada 23 Juni menyatakan, pasukan Israel akan tetap berada di zona keamanan yang baru dibentuk di Lebanon selatan, terlepas dari kemungkinan tekanan dari Amerika Serikat untuk menarik pasukan.
Berbicara dalam konferensi Muni Expo di Tel Aviv, Katz menyebut sekitar 200.000 warga Lebanon yang telah mengungsi dari wilayah tersebut tidak akan diizinkan kembali ke rumah mereka.
Baca juga: Semua Orang Yahudi Muak denganmu, Bibi: Isi Percakapan Trump dan Netanyahu Terbongkar
“Karena apa yang terjadi di masa lalu di zona keamanan, di mana ada juga penduduk sipil, adalah bom pinggir jalan dan serangan terhadap tentara. Karena itu kami tidak akan mengizinkan hal itu,” kata Katz.
“Kami tidak menarik diri," tegasnya.
Dibantah Eks PM Israel
Namun, klaim Netanyahu dan Katz segera mendapat bantahan dari mantan PM Israel, Naftali Bennett.
Bennett mengatakan kesaksian para tentara di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda dari narasi pemerintah.
Menurutnya, pasukan Israel justru menghadapi pembatasan pergerakan dan tidak diizinkan melepaskan tembakan dalam sejumlah situasi.
Ia mengaku telah berkomunikasi langsung hingga pukul 02.00 dini hari dengan tentara dan komandan yang saat ini berada di Lebanon maupun yang baru kembali dalam 24 jam terakhir.
Menurut Bennett, pejuang Hizbullah kini mulai membangun kembali posisi mereka, memperbaiki infrastruktur, mempersenjatai diri, dan melanjutkan operasi di wilayah tersebut.
Bennett bahkan mengungkapkan bahwa pejuang Hizbullah terlihat mengamati tentara Israel dengan teropong, namun pasukan Israel disebut tidak diizinkan untuk merespons.
“Tangan mereka terikat,” tegas Bennett.
Hal tersebut menggambarkan adanya jurang antara retorika resmi pemerintah dengan realitas yang dihadapi pasukan di garis depan.
Di tengah situasi itu, kritik terhadap Netanyahu terus meningkat.
Sejumlah pihak di Israel menilai retorika sang perdana menteri terlalu berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Bahkan, beberapa pengkritik menilai perang tersebut seharusnya tidak perlu dilakukan sejak awal.
Trump Tegur Netanyahu
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menegur Israel atas serangan militernya di Lebanon dalam komentar kritis yang luar biasa selama kunjungannya ke KTT G7 di Prancis.
Trump mengatakan pada Selasa (23/6/2026) bahwa ia memiliki hubungan yang hebat dengan Netanyahu tetapi menambahkan pemimpin Israel harus lebih bertanggung jawab sehubungan dengan Lebanon.
Menurut Trump, Israel telah memerangi Hizbullah terlalu lama dan terlalu banyak orang terbunuh.
Trump mengatakan hal itu kepada wartawan menjelang pertemuan bilateral dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, di sela-sela KTT di Evian-les-Bains.
“Anda tidak perlu merobohkan rumah apartemen setiap kali Anda mencari seseorang karena ada banyak orang di rumah apartemen itu, dan mereka tidak semua Hizbullah,” katanya, mengutip Al Jazeera.
“Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah mengurus Hizbullah karena jujur dengan Anda, saya pikir mereka akan melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk melakukannya.”
Trump bereaksi dengan marah pada hari Minggu (21/6/2026) setelah serangan Israel di Beirut mengancam akan menggagalkan negosiasi yang rumit dengan Iran, memposting di platform Truth Social-nya bahwa serangan itu seharusnya tidak terjadi.
"Terutama pada hari istimewa ketika kita begitu dekat dengan Kesepakatan Damai dengan Iran," imbuh Trump.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)