Kesepakatan AS-Iran Kemenangan Buat Hizbullah? - detik
Jakarta -
"Sebuah kemenangan besar" dan "titik balik penting bagi Lebanon." Begitulah pemimpin Hizbullah, Naim Kassem, menggambarkan nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat (AS) pekan ini.
Kassem juga berterima kasih kepada Iran karena telah "menghubungkan arena Lebanon" ke dalam kesepakatan tersebut dan "memaksa Israel menghentikan agresinya".
Hizbullah didirikan pada 1982 atas dukungan Iran, dengan tujuan mengakhiri pendudukan Israel di Lebanon selatan. Organisasi ini memiliki sayap militer dan politik serta mendapat dukungan dari sebagian besar komunitas Muslim Syiah di Lebanon. Kini Hizbullah menjadi kekuatan besar dalam kehidupan sosial dan politik Lebanon, bahkan kerap disebut sebagai "negara di dalam negara", karena punya angkatan bersenjata sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seberapa besar kemenangan Hizbullah?
Para analis menilai, secara umum, kesepakatan Amerika Serikat dan Iran lebih menguntungkan sekutu Teheran, termasuk Hizbullah.
James M. Dorsey, pakar Timur Tengah dari Rajaratnam School of International Studies di Singapura, mengatakan nota kesepahaman tersebut pada dasarnya memberikan hampir semua yang diinginkan Iran, sekaligus mempertahankan apa yang telah dimiliki Presiden AS Donald Trump sebelum serangan terhadap Iran bersama Israel pada Februari lalu.
"Setidaknya pada tahap awal, ini tampak sebagai kemenangan bagi Hizbullah," ujarnya.
Dalam paragraf pertama, kesepakatan tersebut menyebut bahwa Amerika Serikat, Iran, dan para sekutunya akan menghentikan seluruh operasi militer secara "segera dan permanen" di semua wilayah konflik, termasuk Lebanon.
Dokumen yang ditandatangani AS, Iran, dan Pakistan sebagai mediator itu juga menegaskan komitmen untuk menjaga integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Saat ini Israel masih menguasai sekitar 600 kilometer persegi wilayah Lebanon selatan. Israel menyebut keberadaan pasukannya sebagai "zona penyangga keamanan" untuk melindungi warga di wilayah utara Israel dari serangan roket Hizbullah. Namun para pengkritik menilainya sebagai kedok untuk invasi dan pendudukan teritorial.
Menurut Dorsey, Iran menafsirkan kesepakatan tersebut dengan dua konsekuensi jelas: Israel harus menghentikan operasi militer dan menarik pasukannya dari Lebanon.
Ujian sebenarnya, kata dia, adalah apakah Israel akan dipaksa mematuhi syarat tersebut dan apakah Trump akan mengatakan kepada Israel bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain.
Jika Israel benar-benar menarik diri, Hizbullah akan memperoleh keuntungan politik yang besar. Sebagian besar komunitas Syiah Lebanon tinggal di wilayah selatan, dan lebih dari satu juta orang telah mengungsi akibat operasi militer Israel yang juga menghancurkan sejumlah desa.
Aliran dana segar untuk Hizbullah
Nota kesepahaman AS-Iran juga mencakup dana rekonstruksi bernilai miliaran dolar untuk Iran, pencairan kembali aset-aset Iran yang sebelumnya dibekukan, serta izin bagi Teheran untuk kembali menjual minyaknya.
Para diplomat di kawasan mengatakan kepada Reuters bahwa setelah dana Iran dicairkan, Teheran berencana mengirim lebih banyak bantuan keuangan kepada Hizbullah.
Karim Chebaklo, pengamat politik Lebanon sekaligus anggota dewan otoritas pelabuhan Beirut, menilai bahwa kembalinya pendapatan minyak Iran akan mengurangi tekanan ekonomi yang selama ini menyulitkan pendanaan Hizbullah.
Pemerintah Lebanon sendiri selama ini berupaya membatasi pengaruh dan melucuti persenjataan Hizbullah untuk menghentikan serangan Israel. Sayap militer Hizbullah dianggap banyak pihak sebagai pemicu konflik terbaru setelah menembakkan roket ke Israel pada awal Maret, menyusul pembunuhan pemimpin Iran Ali Khamenei oleh Israel.
Menurut Chebaklo, selama Iran mengalami tekanan finansial, pemerintah Lebanon memiliki alat untuk menekan Hizbullah. Namun jika kondisi ekonomi Iran membaik dan aliran dana ke Hizbullah kembali menguat, proses perlucutan senjata kelompok itu bisa semakin sulit diwujudkan.
Tidak ada jaminan
Meski berpotensi memberikan keuntungan bagi Hizbullah, tidak ada satu pun hasil tersebut yang dijamin dalam kesepakatan AS-Iran.
Israel dan Hizbullah, dua pihak yang berperang di Lebanon, tidak ikut menandatangani perjanjian tersebut. Pemerintah Lebanon juga tidak terlibat.
Bagi pemerintah Lebanon, kesepakatan ini menimbulkan kesan bahwa Iran, sebagai pendukung utama Hizbullah, ikut menentukan arah kebijakan luar negeri Lebanon.
Awal tahun ini, Lebanon sebenarnya telah melakukan perundingan langsung dengan Israel mengenai perlucutan senjata Hizbullah sebagai bagian dari upaya mencapai perdamaian dan mendorong penarikan pasukan Israel. Itu merupakan pembicaraan langsung pertama antara kedua negara dalam lebih dari 30 tahun. Namun Hizbullah secara tegas menolak perundingan langsung tersebut.
Sementara bagi Israel, kesepakatan terbaru ini dianggap menghilangkan peluang untuk terus melemahkan Hizbullah.
Segera setelah isi nota kesepahaman diumumkan, sejumlah politisi Israel menegaskan pasukan mereka tidak akan meninggalkan Lebanon, meskipun tekanan dari Amerika Serikat—sekutu utama dan pemasok senjata terbesar Israel—terus meningkat. Para pejabat Israel juga mengatakan bahwa pemerintah mereka sedang melakukan negosiasi yang sulit dengan Washington untuk mempertahankan kehadiran militer di Lebanon.
Gencatan senjata atau sekadar jeda konflik?
Menurut Dorsey, Iran bersikeras bahwa Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan. Dalam dua pekan terakhir, ketika Iran membela kepentingan Lebanon, Trump beberapa kali mengambil langkah yang menekan Israel.
Fakta bahwa Israel tidak dilibatkan dalam meja perundingan, menurut Dorsey, membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi pihak yang paling dirugikan—meskipun dampak politik akhirnya masih harus dilihat.
Pada Jumat (19/06) , Reuters melaporkan bahwa Hizbullah dan Israel telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada hari yang sama. Namun tidak lama setelah pengumuman itu, serangan udara Israel kembali dilaporkan terjadi di Lebanon selatan. Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa pasukannya tetap memiliki "kebebasan operasional penuh" di Lebanon.
Meski mengalami kerugian besar berupa hilangnya pejuang, persenjataan, dan sebagian dukungan politik, Hizbullah masih bisa mengakhiri perang dalam posisi lebih kuat.
Anthony Samrani, pemimpin redaksi surat kabar L'Orient-Le Jour di Beirut, menggambarkan sebuah kemungkinan: jika Amerika Serikat berhasil memaksa Israel menarik diri dari Lebanon selatan sebagai bagian dari kesepakatan final dengan Iran, Hizbullah dapat mengklaim sebagai pihak yang telah "membebaskan" wilayah selatan dan kemudian mengatur proses pembangunan kembali sesuai kepentingannya.
Namun menurut Samrani, skenario yang paling mungkin justru menjadi beban ganda bagi Lebanon: pendudukan Israel yang terus berlangsung dan Hizbullah yang tetap menantang negara.
Lebanon selatan akan tetap menjadi wilayah yang dipenuhi perang dan penderitaan. Bahkan jika Beirut dan Tel Aviv akhirnya mencapai kesepakatan, persoalan utama berikutnya adalah perebutan kekuasaan antara negara Lebanon dan milisi Hizbullah.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
(ita/ita)