0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial Swiss

    Gagal Bertemu di Swiss, Perundingan Damai AS-Iran Mendadak Ditunda - Kompas

    6 min read

     

    Gagal Bertemu di Swiss, Perundingan Damai AS-Iran Mendadak Ditunda

    JENEWA, KOMPAS.com - Kesepakatan baru untuk mengakhiri perang Iran kembali diterpa ketegangan pada Jumat (19/6/2026). 

    Perundingan lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang seharusnya digelar di Swiss ditunda, sementara baku tembak antara Israel dan Hizbullah di Lebanon kembali pecah. 

    Sebelumnya, persiapan telah dilakukan untuk menjamu delegasi Iran dan AS di resor Burgenstock, Swiss, yang menghadap Danau Lucerne.

    Baca juga: Tak Biasa, AS Bela Iran, Sebut Teheran Boleh Punya Rudal untuk Pertahanan

    Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf dan Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya dijadwalkan tiba di Burgenstock bersama mediator dari Pakistan dan Qatar pada Jumat untuk memulai proses perundingan.

    Macron Ceritakan Momen Spontan Trump Teken Kesepakatan AS-Iran di Versailles

    Namun tiba-tiba, perundingan tersebut ditunda, sebagaimana dilansir AFP.

    "Perundingan yang direncanakan antara AS, Iran, Qatar, dan Pakistan telah ditunda," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Swiss kepada AFP.

    "Swiss tetap siap memfasilitasi perundingan ini. Pekerjaan persiapan terkait di Burgenstock terus berlanjut," tambah pernyataan tersebut, tanpa menyebutkan jadwal baru.

    Baca juga: Wapres AS Geram Israel Kerap Pakai Kekerasan, Minta Kesepakatan Trump-Iran Dihormati

    Penundaan ini menyusul pengumuman Gedung Putih pada Kamis malam yang membatalkan kunjungan Vance. 

    Juru bicara Gedung Putih menyebut bahwa logistik perundingan semacam ini tidak pernah sederhana atau mudah diprediksi.

    "Kami berharap dapat memulai perundingan teknis secepat mungkin," lanjut pernyataan itu.

    Di sisi lain Ghalibaf memperingatkan bahwa Teheran akan memberikan respons kuat jika terjadi pelanggaran kontrak atau permintaan yang berlebihan.

    "Mereka pernah ditampar saat perang berlangsung; jika mereka ingin kembali ke jalan itu, mereka akan mendapat tamparan yang lebih keras lagi," tulis Ghalibaf di platform X.

    Baca juga: Dizalimi AS Saat Piala Dunia, Iran Mengadu ke FIFA

    Perundingan ini sejatinya dimaksudkan untuk mengakhiri perang yang dimulai dari serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

    Sebelumnya, kedua belah pihak menyepakati nota kesepahaman (MoU) kerangka damai dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang penutupannya sempat mendongkrak harga energi dunia.

    MoU tersebut juga menyepakati masa perundingan 60 hari untuk membahas isu-isu yang lebih luas, termasuk program nuklir Teheran.

    Di satu sisi, para mediator konflik, termasuk Pakistan, Arab Saudi, dan Turkiye, dijadwalkan berkumpul di Kota Alamein, Mesir, pada Minggu (21/6/2026) untuk membahas kesepakatan tersebut.

    Baca juga: AS-Iran Damai, Israel Malah Gempur Lebanon Lagi

    Bentrokan di Lebanon pecah lagi

    Kesepakatan damai antara AS dan Iran juga semestinya menghentikan baku tembak di Lebanon. 

    Namun, militer Israel pada Jumat mengumumkan serangan baru terhadap target-target Hizbullah yang menewaskan 18 orang, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

    Israel juga menyatakan bahwa empat tentaranya tewas di Lebanon selatan, korban tewas pertama di pihak Israel sejak kesepakatan ditandatangani.

    Kematian para tentara ini memicu reaksi keras dari Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir, yang menuntut agar seluruh Lebanon harus dibakar.

    Baca juga: Biaya Perang Iran Membengkak, Pentagon Minta Dana Tambahan Rp 1.428 triliun

    Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, pada Kamis (18/6/2026) menyatakan bahwa dirinya telah menyetujui kesepakatan tersebut, meski memiliki pandangan yang berbeda.

    "Namun saya memberikan izin karena adanya komitmen dari para pejabat, termasuk Pezeshkian, untuk melindungi hak-hak rakyat Iran," ujar Mojtaba Khamenei.

    Mojtaba Khamenei, yang belum pernah terlihat di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya juga menyebut bahwa Trump telah menggunakan segala macam cara untuk mewujudkan kesepakatan tersebut karena keputusasaan.

    Baca juga: 14 Poin Perdamaian AS-Iran, Apa Saja yang Segera Berlaku?

    Blokade laut dicabut, Selat Hormuz masih tegang

    Pada Kamis, angkatan bersenjata AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang sebelumnya menghalangi kapal berlayar dari dan menuju Republik Islam tersebut. 

    Militer AS menyatakan bahwa kapal perang Amerika akan tetap berada di wilayah tersebut secara umum.

    Meski blokade dicabut, aktivitas di Selat Hormuz masih terpantau lesu.

    Televisi negara Iran, mengutip pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi negara itu, menyebut bahwa kapal-kapal yang ingin melintasi Selat Hormuz harus mengajukan permohonan kepada badan pemerintah baru yang dibentuk untuk mengawasi jalur pelayaran tersebut.

    Baca juga: AS Resmi Cabut Blokade Angkatan Laut terhadap Iran

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS