0
News
    Home Dunia Internasional Israel Kesehatan Kesehatan Mental PTSD

    Tren Kasus Bunuh Diri Tentara Israel Meningkat, Diduga Dipicu PTSD akibat Perang Berkepanjangan - Viva

    6 min read

     

    Tren Kasus Bunuh Diri Tentara Israel Meningkat, Diduga Dipicu PTSD akibat Perang Berkepanjangan

    Militer Israel dalam Acara Peringatan Prajurit Gugur Israel di Yerusalem

    VIVA –Sebuah laporan menyebut militer Israel tengah menghadapi peningkatan kasus bunuh diri di kalangan tentara yang terus terjadi dan kian menghawatirkan. Tren peningkatan kasus bunuh diri ini dikaitakan dengan meluasnya gangguan stress pascatrauma atau PTSD yang dipicu oleh operasi militer berkepanjangan dan berulang di berbagai wilayah konflik.

    Baca Juga

    Dalam data yang dipublikasikan oleh Haaretz, tahun ini hampir 10 tentara dilaporkan mengakhiri hidupnya dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, pada April kemarin setidaknya ada enak tentara aktif dan tiga tentara cadangan yanng sudah tidak bertugas meninggal karena bunuh diri.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    “Setidaknya 10 tentara aktif telah meninggal karena bunuh diri sejak awal tahun, termasuk enam pada bulan April. Tiga tentara lain yang bertugas sebagai cadangan selama perang juga meninggal karena bunuh diri bulan April meski sudah tidak lagi aktif. Dua petugas polisi, termasuk satu anggota Polisi Perbatasan wajib militer, juga meninggal karena bunuh diri bulan April kemarin,” tulis Haaretz, dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 1 Mei 2026.

    Baca Juga

    Sebelumnya pada awal tahun ini, media tersebut mencatat total 22 kasus bunuh diri tentara sepanjang 2025. Angka ini tercatat paling tinggi dalam 15 tahun terakhir.

    Tren ini semakin meningkat setelah 7 Oktober 2023, saat Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap warga sipil Palestina di Jalur Gaza. Sejak itu, agresi militer Israel mulai dari Gaza hingga Lebanon dan Suriah memperparah krisis kesehatan mental di dalam tubuh militer.

    Baca Juga

    Meski skala krisisnya besar, laporan tersebut menyebut militer Israel justru mengurangi dukungan kesehatan mental bagi tentara. Hal ini bertolak belakang dengan klaim yang disampaikan pemerintah setempat ke publik. Sesi evaluasi psikologis wajib bagi tentara cadangan bahkan dihentikan pada Februari.

    “Setelah perang dengan Iran dan peningkatan anggaran militer, pihak militer memutuskan untuk mengembalikan sesi evaluasi tersebut, meski tidak dilakukan secara menyeluruh,” tulis laporan itu.

    Meski demikian, Haaretz juga mendokumentasikan sejumlah kasus tentara Israel di perbatasan Lebanon dan wilayah Tepi Barat dipulangkan dalam beberapa pekan terakhir tanpa sempat mendapatkan penanganan dari tenaga profesional kesehatan mental.

    Seorang sumber militer mengatakan bahwa pihak berwenang kesulitan mengambil langkah efektif untuk mengurangi fenomena ini, terutama dalam kasus tentara yang mengalami tekanan namun tidak mencari bantuan profesional.

    “Pada awal perang, kami mengira situasinya terkendali, tetapi justru berbalik menjadi masalah besar,” kata seorang pejabat senior militer Israel.

    Beberapa tentara juga mengaku merasa ditinggalkan oleh sistem setelah kembali dari medan perang.

    “Ini jelas tidak bertanggung jawab, kami dipulangkan begitu saja dalam kondisi seperti ini. Mereka menghabiskan miliaran untuk persenjataan dan sistem pertahanan, tapi untuk hal ini justru dihemat?” kata seorang tentara kepada Haaretz.

    “Ibarat menempelkan plester pada luka di pembuluh darah utama yang terus mengalir,” ujar tentara lainnya.

    Meski banyak tentara Israel yang secara terbuka merayakan kehancuran di Gaza, tidak sedikit yang justru mengalami tekanan psikologis berat.

    “Semua orang di militer yang tidak tewas atau terluka, secara mental pasti terdampak. Sangat sedikit yang benar-benar siap kembali bertempur, dan kondisi mereka pun tidak sepenuhnya baik,” ujar orang tua seorang tentara kepada media berbahasa Ibrani itu.

    Sepanjang konflik berlangsung, pasukan Israel juga disebut gagal mengalahkan kelompok perlawanan Hamas dan mengalami kerugian besar di medan perang.

    Seiring meluasnya invasi Israel ke Lebanon, pasukannya kini tersebar di berbagai wilayah seperti Gaza dan Suriah.

    Sejak awal Maret 2026, setidaknya 16 tentara Israel dilaporkan tewas akibat serangan pejuang Hezbollah di Lebanon selatan.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Pada pekan ini, seorang kontraktor militer juga tewas akibat serangan drone Hezbollah saat tengah merobohkan rumah-rumah warga sipil di wilayah tersebut.

    Sementara itu, hasil jajak pendapat terbaru dari lembaga penyiaran publik Israel, KAN, menunjukkan bahwa mayoritas warga Israel menilai rezim Netanyahu gagal meraih kemenangan dalam konflik apa pun sejak Oktober 2023.

    Trump menfasilitasi komunikasi PM Israel Netanyahu dengan Emir Qatar

    Trump Minta Netanyahu Lakukan Serangan Terarah ke Lebanon, Jangan Sporadis

    Presiden AS Donald Trump telah memberi tahu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel seharusnya hanya mengambil serangan militer yang terarah di Lebanon

    img_title

    VIVA.co.id

    30 April 2026

    Komentar
    Additional JS