Mengintip Pulau Penuh Rudal, Andalan Iran untuk Kuasai Selat Hormuz - detik
Mengintip Pulau Penuh Rudal, Andalan Iran untuk Kuasai Selat Hormuz
Jakarta -
Serangan udara Amerika Serikat tanggal 7 Maret yang menarget pabrik desalinasi di Pulau Qeshm milik Iran, memutus pasokan air ke sekitar 30 desa, menyeret pulau tersebut ke pusat konflik. Dikenal karena lanskap surealis dan kemudian dikembangkan sebagai pusat pariwisata dan perdagangan, Qeshm bertransformasi menjadi pos terdepan militer yang dibentengi ketat.
Pulau ini disebut andalan Iran untuk memengaruhi lalu lintas Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia. Qeshm, pulau terbesar di Teluk Persia, membentang sekitar 1.445 km persegi dan terletak 22 km di selatan Bandar Abbas. Lokasinya memungkinkan untuk mendominasi Selat Hormuz, tempat lewatnya sebagian besar pengiriman minyak dunia.
Dijuluki museum geologi terbuka, Qeshm adalah rumah bagi Qeshm Geopark, Gua Garam Namakdan (salah satu yang terpanjang di dunia), dan Lembah Bintang (Valley of Stars). Namun di balik lanskap ini, tersembunyi jaringan instalasi militer bawah tanah.
Selama dekade terakhir, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran membangun fasilitas bawah tanah luas di seluruh Qeshm, yang sering disebut "kota rudal". Kompleks ini diperkuat dengan beton, dilengkapi ventilasi, tenaga darurat, dan sistem transportasi internal, dirancang untuk bertahan dari serangan udara dan pengerahan senjata secara cepat.
Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip detikINET, pulau ini menampung beragam persenjataan seperti:
- Rudal jelajah antikapal seperti HY-2 "Silkworm" asal China dan sistem jarak jauh seperti varian Ghadir, yang menargetkan kapal angkatan laut di selat tersebut.
- Rudal balistik, termasuk Qiam-1, Khaybar Shekan, serta rudal jarak menengah Ghadr dan Emad.
- Amunisi berpemandu presisi, di mana Iran mengklaim punya ribuan sistem serangan canggih yang mampu menghindari peperangan elektronik.
Selain rudal, Qeshm juga menampung pangkalan angkatan laut tersembunyi, yang terkadang digambarkan sebagai "kota terapung". Pangkalan ini menampung kapal-kapal serang cepat yang dipersenjatai roket dan ranjau.
Iran memanfaatkan geografi Qeshm. Pulau ini bertindak sebagai platform terdepan untuk memantau, mengendalikan, atau berpotensi melumpuhkan lalu lintas Selat Hormuz. Perairan dangkalnya ideal untuk menyebar ranjau laut. Kapal-kapal kecil IRGC dapat dengan cepat muncul dari posisi pesisir yang tersembunyi, sehingga sulit dideteksi.
Analis di EOS Risk Group mengatakan selat tersebut tidak ditutup secara resmi, namun pelintasannya menjadi semakin bersyarat, mengubah Qeshm menjadi penjaga gerbang aliran energi global.
Ditetapkan sebagai zona industri-perdagangan bebas tahun 1989, Qeshm pernah diposisikan sebagai pusat komersial dan pariwisata. Saat ini, analis menggambarkannya sebagai "kapal induk yang tidak bisa tenggelam" milik Iran, pos terdepan yang dibentengi dengan kuat.
Ukurannya memungkinkan Iran untuk menyebarkan dan menyembunyikan aset-aset militernya, mempersulit upaya untuk menetralisirnya melalui serangan konvensional. Jaringan bawah tanah di pulau tersebut dirancang khusus untuk memastikan Iran tetap mempertahankan kemampuan dalam mengendalikan atau menutup selat, bahkan meski diserang terus-menerus.
Pentingnya Qeshm bukanlah hal yang baru. Tahun 1301, penguasa Hormuz memindahkan istana ke pulau tersebut untuk berlindung. Portugis membangun benteng tahun 1621 sebelum diusir aliansi Persia-Inggris setahun kemudian. Inggris kemudian mendirikan pangkalan angkatan laut di sana. Saat ini, Qeshm berada di jantung konfrontasi energi abad ke-21.
(fyk/rns)
