Israel Dinilai Ingin Lanjutkan Perang Saat AS Dorong Gencatan Senjata - Kompas
Israel Dinilai Ingin Lanjutkan Perang Saat AS Dorong Gencatan Senjata
KOMPAS.com - Sikap Amerika Serikat yang mulai menjauh dari ancaman untuk kembali membombardir Iran disebut berseberangan dengan dorongan sebagian kalangan politik Israel yang masih ingin melanjutkan perang.
Washington disebut tidak lagi menempatkan opsi serangan lanjutan sebagai tekanan utama terhadap Teheran, terutama setelah gencatan senjata yang didorong AS mulai berjalan.
Namun, di Israel, sejumlah tokoh politik dan media sayap kanan dilaporkan masih melihat perang sebagai jalan untuk menekan Iran lebih jauh.
Baca juga: Trump dan Netanyahu Dilaporkan Cekcok di Telepon Bahas Perang Iran
Dorongan itu muncul di tengah kekecewaan sebagian pihak di Israel terhadap hasil perang yang dinilai belum mampu menggoyahkan kekuasaan pemerintah Iran, dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (21/5/2026).
Iran Tuding AS Masih Berambisi Lanjutkan Perang, IRGC Ancam Perluas Konflik
Bocoran rencana serangan baru ke Teheran
Perdebatan di Israel memanas setelah Shimon Riklin, pembawa acara Channel 14 yang berhaluan kanan, mengungkapkan informasi yang diduga berkaitan dengan rencana serangan baru terhadap Teheran.
Riklin menyebut sejumlah lokasi yang menurutnya dapat menjadi target serangan, termasuk fasilitas penyimpanan uranium.
Baca juga: Di Tengah Kunjungan Trump, China Nyatakan Perang Iran Harusnya Tak Pernah Terjadi
Pernyataan itu langsung menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen Israel karena dianggap membocorkan informasi sensitif.
Riklin kemudian menyatakan bahwa komentarnya hanya bersifat hipotetis.
Meski demikian, pernyataan itu memperkuat kesan bahwa sebagian kalangan di Israel masih menginginkan konflik dengan Iran kembali dibuka. Namun, Israel dinilai sulit bergerak sendiri tanpa persetujuan AS.
Laporan tentang percakapan telepon antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump menunjukkan adanya ketegangan terkait desakan Washington agar gencatan senjata tetap dipertahankan.
Baca juga: Apa Isi Proposal Terbaru Iran ke AS untuk Mengakhiri Perang?
Netanyahu dilaporkan marah karena AS mendorong penghentian konflik atau perang Iran tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kekhawatiran Israel.
Netanyahu bahas opsi lanjutkan konflik
Media Israel melaporkan bahwa Netanyahu memimpin rapat kedua kabinet keamanannya untuk membahas kemungkinan memperbarui konflik dengan Iran.
Pembahasan itu dilakukan setelah Israel dan AS disebut telah mengerahkan amunisi bernilai miliaran dolar ke Iran. Namun, pemerintah di Teheran tetap bertahan.
Baca juga: Tegang dengan Iran, UEA Kebut Bangun Pipa Minyak Hindari Selat Hormuz
Kondisi tersebut membuat sebagian pihak di Israel menilai operasi militer sebelumnya belum menghasilkan pencapaian strategis.
Di sisi lain, strategi Iran dengan menyerang negara-negara kawasan dan mengancam Selat Hormuz disebut mengurangi keinginan AS untuk kembali masuk ke perang besar.
Konflik baru dengan Iran diperkirakan akan membutuhkan biaya besar dan berisiko berlangsung tanpa ujung yang jelas.
Situasi itu membuat Washington lebih berhati-hati dalam memberi dukungan terhadap rencana militer lanjutan Israel.
Baca juga: Garda Revolusi Iran Ungkap Konsekuensi jika AS-Israel Berani Serang Lagi
Iran masih dipandang sebagai ancaman utama
Bagi Netanyahu, gencatan senjata 8 April disebut menjadi beban politik. Kesepakatan tersebut disusun dengan sedikit keterlibatan Israel dan dinilai membuat sebagian publik Israel gelisah.
Iran selama ini diposisikan sebagai ancaman eksistensial dalam politik dan opini publik Israel.
Pemimpin oposisi Yair Lapid dan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett menggunakan gencatan senjata itu untuk menyerang Netanyahu secara politik.
Baca juga: Serangan Rahasia UEA dan Arab Saudi ke Iran Ubah Peta Konflik Timur Tengah
Lapid bahkan menyebut gencatan senjata tersebut sebagai salah satu “bencana politik terbesar” dalam sejarah Israel.
Sebuah jajak pendapat Institut Demokrasi Israel pada awal Mei menunjukkan bahwa mayoritas warga Israel menilai penghentian perang secara prematur bertentangan dengan kepentingan keamanan negara.
Persentase yang hampir sama juga meyakini konflik dengan Iran kemungkinan besar akan kembali terjadi.
Baca juga: AS dan Iran Masih Buntu soal Selat Hormuz, Harga Minyak Kian Memanas
Akademisi Universitas Ben-Gurion, Haggai Ram, menilai masyarakat dan elite politik Israel telah lama dibentuk untuk melihat Iran sebagai musuh utama.
Menurut Ram, cara pandang itu membuat perang terhadap Iran tampak seperti sesuatu yang hampir tidak terhindarkan bagi banyak warga Israel.
Ia mengatakan, sebagian warga Israel bahkan menerima gangguan kehidupan sehari-hari akibat ancaman rudal sebagai harga yang wajar apabila hal itu dianggap dapat menghentikan program nuklir Iran.
Baca juga: Iran Ungkap Konsekuensi jika AS-Israel Serang Lagi, Singgung Metode dan Alat Baru
Netanyahu butuh kemenangan politik
Netanyahu selama ini kerap dipandang mampu bertahan dari tekanan politik besar. Ia memenangkan pemilu 2022 meski menghadapi berbagai tuduhan korupsi.
Ia juga berhasil mempertahankan posisinya setelah serangan yang dipimpin Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023.
Di tengah tekanan itu, perang melawan Iran disebut dapat menjadi cara bagi Netanyahu untuk menciptakan jarak politik dari kegagalan keamanan pada 7 Oktober.
Baca juga: Trump Pulang dari China Tanpa Bawa Terobosan Berarti soal Iran?
Mantan Duta Besar dan Konsul Jenderal Israel di New York, Alon Pinkas, menilai Netanyahu membutuhkan kemenangan strategis besar yang tidak dapat ia peroleh dari Gaza atau Lebanon.
Menurut Pinkas, Netanyahu juga menghadapi persepsi bahwa Israel belum mencapai hasil besar dalam perang melawan Iran.
Kemenangan terhadap Iran dinilai dapat menjadi modal politik penting menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini. Namun, konsekuensi konflik dengan Iran dinilai lebih luas dari perhitungan awal Israel.
Perebutan Selat Hormuz oleh Iran dan serangan Teheran terhadap negara-negara tetangga disebut telah mengguncang pasar global.
Kondisi itu berpotensi menjadi isu besar dalam pemilu Israel, terutama jika publik menilai perang terhadap Iran gagal mencapai tujuan utamanya.
Baca juga: Trump Kembali Ultimatum Iran, Damai dalam Tiga Hari atau Hadapi Pukulan Besar
Langkah Israel tetap bergantung pada AS
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sempat menyatakan bahwa Israel siap menyerang Iran begitu mendapat lampu hijau dari AS.
Pernyataan itu menunjukkan adanya keinginan kuat di dalam pemerintahan Israel untuk kembali membuka konflik.
Mantan penasihat pemerintah Israel, Daniel Levy, mengatakan ada kelompok di Israel yang ingin menghentikan kerugian dan mundur dari konflik.
Baca juga: Trump Desak Iran Segera Berdamai atau Hadapi Kehancuran Total
Namun, menurut Levy, Netanyahu dan sebagian besar arus utama politik Israel justru ingin menggandakan tekanan dengan memanfaatkan dukungan serta perangkat militer AS.
Meski dukungan politik untuk perang baru cukup luas di Israel, ruang gerak Netanyahu tetap dibatasi oleh sikap Washington. Levy menilai konflik akan berhenti ketika AS memutuskan bahwa perang harus berhenti.
Trump juga disebut memberi sinyal bahwa Netanyahu akan mengikuti keinginan Washington setelah percakapan telepon mereka pada Selasa malam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang