AS Geger, Pesawat Dilarang Mendarat Usai Penumpang dari Wilayah Ebola Lolos - Kompas
AS Geger, Pesawat Dilarang Mendarat Usai Penumpang dari Wilayah Ebola Lolos
DETROIT, KOMPAS.com - Sebuah penerbangan maskapai Air France yang dijadwalkan menuju Detroit, Michigan, Amerika Serikat (AS), terpaksa dialihkan ke Kanada, Rabu (20/5/2026).
Pengalihan ini terjadi setelah petugas mendapati seorang penumpang asal Republik Demokratik (RD) Kongo naik ke dalam pesawat "karena kesalahan" (in error) di tengah pemberlakuan pembatasan perjalanan baru terkait wabah Ebola.
Pihak Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) menyatakan, insiden ini menyalahi prosedur keselamatan yang tengah diperketat.
Baca juga: Wabah Ebola Merebak, WHO Pertimbangkan Pakai Vaksin Eksperimental
"Karena adanya pembatasan masuk yang diberlakukan untuk mengurangi risiko virus Ebola, penumpang tersebut seharusnya tidak naik ke pesawat," ujar juru bicara CBP, sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (21/5/2026).
Warga Tabrakkan Motor demi Gagalkan Aksi Begal di Jakbar, Dua Pelaku Jatuh Terkapar
Guna mengantisipasi potensi risiko, otoritas keamanan penerbangan AS melarang pesawat tersebut memasuki wilayah udara tujuan awal mereka.
"CBP mengambil tindakan tegas dan melarang penerbangan yang membawa pelancong tersebut untuk mendarat di Bandara Metropolitan Wayne County Detroit, dan sebaliknya, mengalihkannya ke Montreal, Kanada," tambah juru bicara tersebut.
Pihak CBP menegaskan, mereka tengah berkoordinasi erat dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Baca juga: Ebola Mengganas di Afrika, Menlu AS Kritik WHO Lamban Identifikasi Wabah
CBP juga mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan mengurangi risiko masuknya Ebola ke AS.
Insiden pengalihan pesawat ini menjadi imbas langsung dari kebijakan darurat yang diterapkan Pemerintah AS.
Pada Senin (19/5/2026), CDC bersama Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) memberlakukan langkah-langkah sementara demi mencegah masuknya penyakit Ebola.
Langkah ini diambil menyusul merebaknya wabah Ebola yang sedang berlangsung di Afrika Timur dan Tengah.
Baca juga: Peringatan WHO, Dunia Makin Berbahaya Usai Wabah Ebola dan Hantavirus
Kebijakan baru ini meliputi peningkatan skrining perjalanan, pembatasan masuk, serta penerapan protokol kesehatan masyarakat tambahan.
Salah satu poin krusial dalam aturan yang berlaku selama 30 hari ini adalah pembatasan masuk bagi pemegang paspor non-AS yang sempat berada di Uganda, RD Kongo, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir sebelum kedatangan.
DHS juga memperketat jalur masuk per Kamis bagi pelancong asing dari negara-negara pusat wabah.
Berdasarkan pemberitahuan DHS, seluruh penerbangan menuju AS yang membawa warga asing dengan riwayat kunjungan ke Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir, wajib mendarat di Bandara Internasional Washington-Dulles di Virginia.
Di bandara ini, Pemerintah AS memusatkan sumber daya untuk menjalankan pemeriksaan kesehatan masyarakat yang lebih intensif.
Baca juga: WHO Deklarasikan Keadaan Darurat Kesehatan Global untuk Varian Ebola Langka
Situasi Ebola terkini
Di hari yang sama dengan insiden pengalihan pesawat, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan pembaruan mengenai situasi epidemi global ini.
WHO memperingatkan bahwa saat ini telah tercatat hampir 600 kasus suspek Ebola dengan 139 dugaan kematian, dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah.
Dari data tersebut, sebanyak 51 kasus telah terkonfirmasi secara resmi di RD Kongo.
Baca juga: Menkes: Kasus Hantavirus di Jakarta Terkendali, Kontak Erat Dipantau 14 Hari
Kendati demikian, pihak WHO menyebut skala epidemi yang terjadi di RD Kongo sebenarnya jauh lebih besar dari yang dilaporkan.
Sementara itu, Uganda sejauh ini telah mengonfirmasi dua kasus positif.
WHO juga mengabarkan bahwa seorang warga negara AS yang tengah bekerja di RD Kongo telah dinyatakan positif tertular virus Ebola.
Pasien tersebut kini telah dievakuasi dan dipindahkan ke Jerman untuk mendapatkan penanganan medis.
Baca juga: Ethiopia Konfirmasi Wabah Virus Marburg yang Mematikan Mirip Ebola
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
BMKG Pantau Ancaman Super El Nino, Kapan Dampaknya Mulai Terasa di RI?