Donald Trump Berencana Hubungi Pemimpin Taiwan Bahas Penjualan Senjata -
Donald Trump Berencana Hubungi Pemimpin Taiwan Bahas Penjualan Senjata
Rangga Saputra
Author
Smallest Font
Largest Font
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengadakan komunikasi langsung dengan Pemimpin Taiwan Lai Ching-te pada Rabu (20/5) guna membahas potensi penjualan paket senjata militer. Langkah tersebut menandai pergeseran tajam dari tradisi diplomasi kedua pihak yang sempat terputus secara formal sejak tahun 1979, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Rencana komunikasi ini muncul di tengah ketidakpastian nasib paket penjualan senjata senilai US$14 miliar atau sekitar Rp218 triliun ke Taiwan. Paket tersebut dilaporkan mencakup peralatan antisuper-drone serta sistem rudal pertahanan udara yang menjadi kewajiban hukum AS berdasarkan Undang-Undang Hubungan Taiwan 1979.
Saat dimintai keterangan mengenai rencana komunikasi dengan Lai sebelum mengambil keputusan terkait penjualan senjata tersebut, Trump memberikan jawaban tegas.
"Saya akan berbicara dengannya. Saya berbicara dengan semua orang.. kami akan mengupayakan itu, masalah Taiwan," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengutarakan niat serupa kepada awak media saat berada di pesawat Air Force One seusai menghadiri KTT dua hari di Beijing.
"Saya harus berbicara dengan orang yang saat ini, Anda tahu siapa dia, yang memimpin Taiwan," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pembahasan mengenai penjualan senjata ini diakui Trump telah dibahas secara terperinci dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Ketika diingatkan mengenai komitmen tahun 1980-an bahwa AS tidak akan berkonsultasi dengan Beijing mengenai penjualan senjata ke Taiwan, Trump memberikan respons ringkas.
"Saya tidak membuat komitmen apa pun," tambah Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan Trump tersebut berisiko memicu ketegangan dengan Tiongkok yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya. Bahkan, Presiden Tiongkok Xi Jinping telah memperingatkan adanya risiko konflik antara kedua kekuatan besar dunia jika isu Taiwan tidak ditangani dengan baik.
Merespons situasi pasca-pertemuan antara Trump dan Xi Jinping, Pemimpin Taiwan Lai Ching-te menegaskan posisi wilayahnya sebagai wilayah yang berdaulat dan merdeka.
"korban atau diperdagangkan," ujar Lai Ching-te, Pemimpin Taiwan.
Langkah menerobos tradisi diplomasi ini bukan yang pertama bagi Trump, mengingat pada 2016 ia juga pernah menerima panggilan telepon dari pemimpin Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen. Sementara itu, dampak dari rencana kesepakatan senjata ini membuat Beijing menangguhkan rencana kunjungan pejabat tinggi kebijakan Pentagon, Elbridge Colby.
Editors Team


0
Like
0
Dislike
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow