Dampak Perang Iran, Inggris Terancam Kehilangan 163.000 Pekerjaan - Beritasatu
Dampak Perang Iran, Inggris Terancam Kehilangan 163.000 Pekerjaan
Jakarta, Beritasatu.com - Perekonomian Inggris tengah menghadapi ujian berat menyusul pecahnya konflik di Timur Tengah. Laporan terbaru dari lembaga ekonomi Item Club memperingatkan adanya potensi hilangnya 163.000 lapangan kerja di seluruh negeri sepanjang tahun 2026. Penurunan ini dipicu oleh dampak ekonomi dari perang Iran yang mulai mengganggu stabilitas pasar tenaga kerja nasional.
ADVERTISEMENT
Wilayah berpendapatan rendah di Inggris diprediksi akan menanggung beban terberat dari krisis ini. South Wales dan Humber diidentifikasi sebagai dua area yang paling rentan mengalami kesulitan pasar tenaga kerja. Kedua wilayah tersebut sangat bergantung pada sektor manufaktur dan konstruksi, dua sektor yang paling terdampak oleh lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasokan global.
Tim Lyne, penasihat ekonomi Item Club, dikutip The Independent, Senin (11/5/2026) menjelaskan bahwa kenaikan biaya bahan baku dan bahan bakar memaksa banyak perusahaan di sektor manufaktur untuk mengurangi jumlah karyawan.
ADVERTISEMENT
"Kawasan dengan pendapatan rendah akan merasakan dampak terbesar karena ketergantungan mereka pada sektor fisik. Ditambah lagi, daya beli masyarakat di sana melemah karena minimnya tabungan darurat," ujar Lyne.
Secara nasional, laporan tersebut memproyeksikan penurunan jumlah lapangan kerja sebesar 0,4%. Selain manufaktur, sektor ritel dan perhotelan di kota-kota besar juga mulai merasakan kelesuan. Hal ini disebabkan oleh perubahan perilaku konsumen yang kini lebih memilih untuk berhemat dan memprioritaskan kebutuhan pokok akibat melambungnya biaya hidup.
Penurunan jumlah pekerjaan diperkirakan akan tersebar di beberapa kota utama Inggris. London diprediksi akan kehilangan 25.000 lapangan kerja, diikuti oleh Birmingham dengan 12.500 posisi, serta Leeds dan Glasgow yang juga mencatat angka kehilangan ribuan pekerjaan. Meski demikian, wilayah yang berbasis industri teknologi seperti Cambridge justru diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan positif.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh peringatan dari Bank of England. Dalam skenario terburuknya, bank sentral Inggris tersebut memperingatkan bahwa tingkat pengangguran nasional bisa melonjak hingga 5,6%, naik signifikan dari posisi saat ini yang berada di level 5,2%.
Perang Iran juga dikhawatirkan akan memperlebar jurang ketimpangan di Inggris. Rumah tangga berpendapatan rendah harus mengeluarkan proporsi pendapatan yang lebih besar, hingga 13%, hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan energi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata penduduk London yang hanya menghabiskan kurang dari 9% pendapatan mereka untuk kebutuhan serupa.
Kondisi ini menempatkan kota-kota seperti Newcastle dan Belfast dalam posisi yang sangat rentan jika konflik di Timur Tengah terus berlarut tanpa ada resolusi perdamaian dalam waktu dekat.
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Pemerintah Inggris menyatakan bahwa pihaknya tengah berupaya keras untuk meminimalkan dampak perang. Salah satu langkah yang diambil adalah rencana pemotongan tagihan energi hingga 25% bagi sekitar 10.000 produsen manufaktur guna menjaga keberlangsungan usaha.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk mempercepat transisi ke energi bersih pada tahun 2030. Langkah ini dianggap sebagai solusi jangka panjang agar Inggris tidak lagi terjebak dalam fluktuasi harga bahan bakar fosil yang tidak menentu akibat konflik geopolitik global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu