0
News
    Home Berita Featured NATO Spesial

    Belanja Militer Global 2025 Pecah Rekor Capai 2,98 Triliun Dolar AS, NATO Tertinggi - Viva

    5 min read

     

    Belanja Militer Global 2025 Pecah Rekor Capai 2,98 Triliun Dolar AS, NATO Tertinggi

    VIVA Militer: Jet tempur siluman Amerika Serikat (AS), F-35 Lightning II

    VIVA Belanja militer global mencapai rekor baru pada 2025 dengan total 2,89 triliun dolar AS atau sekitar Rp49,79 kuadriliun. Angka ini meningkat 2,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, di tengah konflik yang terus berlangsung dan meningkatnya ketidakpastian keamanan global.

    Baca Juga

    Laporan tersebut dirilis oleh Stockholm International Peace Research Institute pada Senin, yang mencatat bahwa kenaikan ini merupakan tren selama 11 tahun berturut-turut.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Peningkatan signifikan terlihat di kawasan Eropa dan Asia-Oseania. Belanja militer di Eropa melonjak 14,0 persen, sementara Asia dan Oseania naik 8,1 persen. SIPRI menyebut lonjakan di Eropa dipicu oleh upaya negara-negara anggota NATO untuk memperkuat kemandirian pertahanan, di tengah tekanan dari Amerika Serikat agar pembagian beban dalam aliansi diperkuat.

    Baca Juga

    Secara nominal, belanja militer Eropa mencapai 864 miliar dolar AS (sekitar Rp14,88 kuadriliun), sedangkan Asia dan Oseania sebesar 681 miliar dolar AS (sekitar Rp11,73 kuadriliun). Sementara itu, beban militer global meningkat menjadi 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB), level tertinggi sejak 2009.

    Di sisi lain, Amerika Serikat mencatat penurunan belanja militer sebesar 7,5 persen menjadi 954 miliar dolar AS (sekitar Rp16,43 kuadriliun) pada 2025. Penurunan ini dikaitkan dengan tidak adanya persetujuan bantuan militer baru untuk Ukraina sepanjang tahun tersebut.

    Baca Juga

    Namun, Direktur Program Belanja Militer dan Produksi Senjata SIPRI, Nan Tian, menilai penurunan tersebut hanya bersifat sementara. Ia menyebut anggaran yang telah disetujui Kongres AS untuk 2026 melampaui 1 triliun dolar AS dan berpotensi meningkat hingga 1,5 triliun dolar AS pada 2027.

    Sementara itu, China yang menjadi negara dengan belanja militer terbesar kedua di dunia meningkatkan pengeluarannya sebesar 7,4 persen menjadi sekitar 336 miliar dolar AS (sekitar Rp5,78 kuadriliun). Kenaikan ini menandai tren peningkatan selama 31 tahun berturut-turut.

    Rusia, yang berada di peringkat ketiga, juga meningkatkan anggaran militernya sebesar 5,9 persen menjadi sekitar 190 miliar dolar AS (sekitar Rp3,2 kuadriliun). Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 51 persen dari total belanja militer global.

    Di Asia, Jepang mencatat kenaikan signifikan sebesar 9,7 persen menjadi 62,2 miliar dolar AS (sekitar Rp1 kuadriliun), setara dengan 1,4 persen dari PDB—tingkat tertinggi sejak 1958.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Sementara itu, belanja militer di kawasan Timur Tengah relatif stabil di angka 218 miliar dolar AS (sekitar Rp3,76 kuadriliun), hanya naik tipis 0,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun konflik dan rivalitas di kawasan masih berlangsung.

    Israel justru mencatat penurunan belanja militer sebesar 4,9 persen menjadi 48,3 miliar dolar AS (sekitar Rp832,2 triliun). Penurunan ini mencerminkan berkurangnya intensitas konflik di Jalur Gaza setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok Palestina Hamas pada Januari 2025.

    Perwakilan Israel, Basim Sheikh Suliman (kiri), Gianni Infantino (tengah), Perwakilan Palestina, Jibril Rajoub (kanan)

    Tolak Salaman dengan Israel, Presiden Federasi Palestina Semprot Gianni Infantino: Anda Tak Tahu Penderitaan Kami

    Delegasi Palestina menolak berjabat tangan dengan Israel di Kongres FIFA 2026 di Vancouver. Momen ini memicu ketegangan saat Infantino mengampanyekan perdamaian.

    img_title

    VIVA.co.id

    2 Mei 2026

    Komentar
    Additional JS