0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Drone Featured Rudal Spesial

    AS Temukan Cara Murah Lawan Drone, Tak Perlu Rudal Rp 17,8 Miliar - Kompas,

    7 min read

     

    AS Temukan Cara Murah Lawan Drone, Tak Perlu Rudal Rp 17,8 Miliar



    WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Di sebuah punggung bukit yang menghadap Laut China Selatan, sekelompok Marinir AS di dalam kendaraan taktis membidik sebuah drone bersayap tetap yang terbang ke arah mereka.

    Meriam-meriam di kendaraan itu menembak, disusul kepulan asap membubung dari senjata-senjata tersebut. 

    Setelah beberapa kali mencoba, Marinir berhasil mengenai sasaran dan drone itu jatuh terguling ke laut.

    “Saya meleset beberapa kali. Tapi pada akhirnya, peluru itu masih berada di dalam air,” kata Sersan Staf Noah Konie, dikutip dari The Wall Street Journal, Sabtu (30/5/2026).

    Rumania Desak Rusia Tanggung Jawab Serangan Drone, Putin: Belum Pasti Asal Usulnya

    Baca juga: Meteor Meledak di Atas AS, Kekuatan Setara 300 Ton TNT

    Sistem Pertahanan Udara Terpadu (MADIS)

    Latihan militer di Filipina pada April lalu memberikan gambaran tentang bagaimana AS berupaya mengatasi salah satu masalah paling mendesak dalam peperangan modern, menjatuhkan drone berbiaya rendah tanpa menggunakan rudal yang biaya produksinya bisa lebih dari 10 kali lipat.

    Bagi Marinir, kendaraan yang mereka gunakan, yang secara kolektif dikenal sebagai Sistem Pertahanan Udara Terpadu Marinir (MADIS) adalah bagian dari solusi.

    Sistem ini terdiri dari dua Kendaraan Taktis Ringan Gabungan (Joint Light Tactical Vehicle), penerus Humvee. 

    Baca juga: Sempat Dibantah AS, Iran Kini Klaim Aset Rp 214 Triliun Segera Cair

    Salah satu kendaraan dilengkapi dengan radar canggih yang dirancang untuk memudahkan penargetan sasaran terbang seperti drone. 

    Kendaraan kedua membawa rudal Stinger. Sistem ini juga memiliki kemampuan peperangan elektronik seperti pengacakan sinyal.

    Kedua kendaraan MADIS dilengkapi dengan meriam dan senapan mesin yang lebih kecil yang menjadi bagian penting dalam operasi antidrone.

    Baca juga: Banyak Musisi Mundur, Trump Ingin Jadi Bintang Tamu HUT ke-250 AS

    Berkaca dari tantangan perang di Timur Tengah

    Di Timur Tengah, misalnya, AS dan negara-negara Teluk telah menggunakan helikopter dan pesawat tempur untuk menembak jatuh drone Iran. 

    Namun, mereka juga mengandalkan rudal udara-ke-udara yang lebih mahal dan lebih sulit diproduksi, seperti AIM-120, yang harganya mencapai 1 juta dollar AS (Rp 17,8 miliar) per unit, menurut laporan dari Center for Strategic and International Studies yang berbasis di Washington.

    Ide di balik MADIS adalah untuk memberi komandan di lapangan beberapa pilihan, sehingga mereka dapat memilih cara terbaik untuk melindungi pasukan dan aset lainnya dari drone tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

    Baca juga: Drone Rusia Hantam Romania, NATO Punya Dua Opsi untuk Membalas

    “Rudal penyengat akan lebih mumpuni, tetapi jumlahnya juga akan lebih terbatas,” kata Tom Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di CSIS.

    Mobilitas kendaraan lapis baja MADIS sangat penting bagi Marinir, yang sedang mempersiapkan diri untuk potensi pertempuran di lingkungan kepulauan Indo-Pasifik yang akan menjadi pusat konflik apa pun dengan China terkait Taiwan atau Laut China Selatan.

    Marinir mengatakan, salah satu fitur MADIS yang paling menjanjikan adalah kemampuannya untuk menembakkan peluru khusus 30mm dengan sumbu jarak dekat. 

    Sumbu tersebut memicu peluru untuk meledak begitu target mendekat, sehingga penembak tidak perlu mengenai sasaran secara langsung.

    Baca juga: Kelaparan Landa Amerika, Lebih Parah dari Pandemi Covid-19

    Kelemahan MADIS

    Drone Shahed-136 buatan Iran yang digunakan Rusia dalam perang di Ukraina, pada 27 Desember 2025. Drone murah ini dipakai Teheran untuk menguras stok rudal mahal Amerika Serikat.

    Lihat Foto

    Meskipun sering kali kurang akurat dibandingkan rudal, peluru 30mm berpotensi mengurangi biaya.

    Bahkan jika dibutuhkan lima tembakan untuk menjatuhkan sebuah drone, total biayanya akan sekitar 11.250 dollar AS per drone.

    Sistem antidrone lainnya jauh lebih mahal. Rudal Stinger pada sistem MADIS dapat berharga 430.000 per unit.

    Sementara, pencegat drone Coyote, yang tampak seperti perpaduan antara rudal dan drone dan telah digunakan dalam perang Timur Tengah, dapat berharga antara 100.000 dollar AS dan 125.000 dollar AS.

    Kendati demikian, amunisi 30mm menawarkan cadangan yang andal terhadap drone Shahed Iran jika metode lain seperti pengacauan sinyal tidak berhasil menjatuhkan drone tersebut terlebih dahulu.

    Baca juga: Pertemuan Rahasia di Gedung Putih Berakhir, Tak Ada Keputusan Final soal Iran

    Tantangan produksi

    Meskipun lebih murah daripada rudal, produsen pertahanan AS masih menghadapi tantangan untuk memproduksi amunisi dalam jumlah yang cukup, mengingat ratusan ribu amunisi lagi akan dibutuhkan.

    Merespons kebutuhan ini, raksasa pertahanan AS seperti Northrop Grumman yang mengantongi kontrak senilai 200 juta dollar AS dari Angkatan Darat, bersama dengan L3Harris Technologies.

    Mereka mengaku tengah memacu dan memperluas kapasitas fasilitas pabrik mereka guna memenuhi lonjakan permintaan sumbu amunisi tersebut.

    Northrop Grumman yang berbasis di Virginia mendapatkan kontrak senilai lebih dari 200 juta dollar AS dari Angkatan Darat untuk memproduksi amunisi sumbu jarak dekat.

    Baca juga: AS Ultimatum NATO dan Eropa, Tambah Belanja Militer atau Hadapi Konsekuensinya

    Mereka telah berinvestasi di fasilitas dan penelitiannya seiring meningkatnya permintaan amunisi tersebut. 

    Sementara, L3Harris yang memproduksi sumbu untuk amunisi 30mm, dengan cepat meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di berbagai jenis sumbu.

    Pada latihan baru-baru ini di Filipina, Marinir menembakkan puluhan peluru latihan tanpa bahan peledak untuk berlatih mengenai drone serang satu arah dan drone pengintai, serta campuran target pesawat sayap tetap dan helikopter.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS