AS Klaim Bisa Lumpuhkan Iran dalam Dua Hari, Trump: “Kami Tinggalkan Mereka Tanpa Listrik” - Tribunnews
AS Klaim Bisa Lumpuhkan Iran dalam Dua Hari, Trump: “Kami Tinggalkan Mereka Tanpa Listrik”
AS dan Israel Serang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran. Ia mengklaim Washington memiliki kemampuan untuk
Tayang:
WIKIMEDIA COMMONS
TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026)
Ringkasan Berita:
- Presiden AS itu mengklaim Washington memiliki kemampuan untuk menghancurkan seluruh infrastruktur vital Teheran hanya dalam waktu dua hari, jika konflik bersenjata kembali pecah.
- Dalam wawancara dengan Fox News usai kunjungan kenegaraannya ke China, Trump menegaskan bahwa militer AS telah menunjukkan kekuatannya secara nyata.
SERAMBINEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran.
Presiden AS itu mengklaim Washington memiliki kemampuan untuk menghancurkan seluruh infrastruktur vital Teheran hanya dalam waktu dua hari, jika konflik bersenjata kembali pecah.
Dalam wawancara dengan Fox News usai kunjungan kenegaraannya ke China, Trump menegaskan bahwa militer AS telah menunjukkan kekuatannya secara nyata.
“Aku tidak meremehkan apa pun. Kami memukul mereka dengan sangat keras,” ujar Trump.
“Kami meninggalkan jembatan mereka, kami meninggalkan kapasitas listrik mereka. Kita bisa menyelesaikan semuanya dalam dua hari. Semuanya.”
Meski demikian, Trump mengakui ketahanan Iran tidak bisa dianggap remeh. Ia juga mengeluhkan diplomasi dengan Teheran yang dinilainya penuh ketidakpastian dan kerap menemui jalan buntu.
Iran Balas Ancaman: AS Akan Tanggung Derita Ekonomi
Pernyataan Trump langsung mendapat respons keras dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Melalui unggahan di X pada Jumat, Araghchi memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi ekonomi serius jika memilih berperang dengan Iran.
“Orang Amerika akan dipaksa menanggung biaya perang pilihan yang terus meroket terhadap Iran,” tulis Araghchi.
Baca juga: Perang Iran Tekan Ekonomi India, Perdana Menteri Serukan Warga Hemat Energi dan Kurangi Beli Emas
Ia menyebut dampak konflik tidak hanya sebatas kenaikan harga bahan bakar dan gejolak pasar saham, tetapi juga akan menyentuh kehidupan sehari-hari warga AS.
“Rasa sakit yang nyata dimulai ketika tingkat utang dan hipotek AS melonjak,” lanjutnya.
Araghchi juga menyoroti tekanan ekonomi domestik di Amerika Serikat, dengan menyebut tunggakan pinjaman kendaraan telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari 30 tahun.
“Semua ini sebenarnya bisa dihindari,” tegasnya.
Ketegangan Kawasan Masih Membara
Ketegangan regional meningkat tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Aksi tersebut memicu serangan balasan Teheran terhadap Israel serta sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk langkah drastis menutup Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan energi dunia.
Gencatan senjata sempat berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Belakangan, Presiden Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, meski situasi di kawasan masih diliputi ketegangan dan saling ancam antara kedua pihak.(*)