0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Israel Konflik Timur Tengah Palestina Pendidikan Spesial Tepi Barat

    Remaja Palestina Tewas Ditembak Tentara Israel Setelah Pulang Sekolah di Tepi Barat - Tribunnews

    9 min read

     

    Remaja Palestina Tewas Ditembak Tentara Israel Setelah Pulang Sekolah di Tepi Barat

    Tangkap layar YouTube Al Jazeera English A-A+ KONDISI GAZA - Kondisi Gaza setelah gencatan senjata tercapai, diunggah YouTube Al Jazeera English pada 13 Oktober 2025 
    Ringkasan Berita:
    • Youssef Shtayyeh, remaja Palestina berusia 15 tahun, tewas ditembak tentara Israel hanya beberapa menit setelah pulang sekolah di Kota Nablus, Tepi Barat utara, pada April 2026.
    • Sore itu, Youssef baru saja tiba di rumah dan meletakkan tas sekolahnya di lorong. Tak lama kemudian, ia keluar untuk menemui teman-temannya di dekat rumah.
    • Namun, sekitar 100 meter dari kediamannya, nyawanya melayang setelah terkena tembakan pasukan Israel.

    SERAMBINEWS.COM, TEPI BARAT — Youssef Shtayyeh, remaja Palestina berusia 15 tahun, tewas ditembak tentara Israel hanya beberapa menit setelah pulang sekolah di Kota Nablus, Tepi Barat utara, pada April 2026.

    Sore itu, Youssef baru saja tiba di rumah dan meletakkan tas sekolahnya di lorong. Tak lama kemudian, ia keluar untuk menemui teman-temannya di dekat rumah.

    Namun, sekitar 100 meter dari kediamannya, nyawanya melayang setelah terkena tembakan pasukan Israel.

    Peristiwa tragis itu menambah panjang daftar anak Palestina yang tewas dalam operasi militer Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat sejak 1967.

    UNICEF: Satu Anak Palestina Tewas Setiap Pekan

    Menurut data UNICEF, rata-rata satu anak Palestina tewas setiap pekan di Tepi Barat sejak Januari 2025.

    Rekomendasi Untuk Anda

    Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2021, ketika rata-rata kematian anak terjadi setiap tiga pekan.

    Dalam laporan tertanggal 12 Mei 2026, UNICEF mencatat sedikitnya 70 anak dan remaja Palestina telah tewas di Tepi Barat sepanjang tahun ini.

    Mayoritas korban berusia 15–16 tahun, dan 65 di antaranya disebut meninggal akibat tindakan pasukan Israel.

    Peningkatan korban terjadi setelah Israel memperluas operasi militernya terhadap kelompok bersenjata Palestina di Tepi Barat utara.

    Baca juga: Israel Kewalahan Hadapi Drone Hizbullah, Hingga Pasang Ratusan Ribu Meter Jaring Pelindung

    Kronologi Penembakan Youssef

    Berdasarkan laporan AFP, insiden penembakan terjadi pada 23 April 2026 di sebuah jalan kecil di atas jalan utama Kota Nablus.

    Saat itu, Youssef dan beberapa temannya diduga melempar batu ke arah konvoi militer Israel yang melintas di bawah jalan tersebut.

    Sepasang suami istri yang berada di lokasi mengatakan mereka melihat satu jip militer berhenti, disusul kendaraan lain.

    “Seorang tentara keluar, lalu dua lainnya ikut turun. Mereka mulai menembaki anak-anak itu,” ujar pengemudi mobil kepada AFP.

    Saksi tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.

    Seorang warga sekitar sempat merekam situasi setelah penembakan. Dalam video terdengar dua kali suara tembakan diikuti teriakan panik.

    Dalam kondisi terluka parah, Youssef disebut sempat mencoba membuka pintu mobil warga yang melintas.

    “Tolong jangan tinggalkan saya. Saya takut. Bawa saya ke ayah saya, bawa saya pulang,” kata Youssef, seperti diceritakan saksi mata.

    Pengemudi kemudian membawa Youssef ke rumah sakit. Namun kondisinya sudah kritis saat tiba di fasilitas kesehatan.

    Baca juga: Israel Menggila di Lebanon, Puluhan Tewas dan Anak-anak Jadi Korban Serangan Brutal

    Dokter: Luka Tembak Sangat Mematikan

    Dokter bedah Bahaa Fattouh yang menangani Youssef mengatakan peluru masuk dari bagian belakang tubuh dan menembus dada.

    “Luka tembak masuk dari belakang dan keluar melalui dada,” ujarnya.

    Tim medis sempat melakukan resusitasi dan operasi darurat. Namun jantung Youssef kembali berhenti berdetak dan nyawanya tidak tertolong.

    Fattouh juga mengungkapkan perubahan pola luka yang kini sering ditangani rumah sakit di Tepi Barat sejak perang pecah setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

    Menurutnya, sebelumnya rumah sakit lebih sering menerima korban luka ringan akibat peluru karet di kaki atau tangan. Kini, banyak pasien datang dengan luka fatal di kepala dan dada.

    “Sebagian besar pasien meninggal di meja operasi,” katanya.

    Ia menilai luka-luka tersebut tampak “dirancang untuk membunuh”.

    Respons Militer Israel

    Militer Israel menyatakan penembakan dilakukan sesuai “prosedur penangkapan standar”.

    Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut:

    “Seorang teroris melempar batu ke arah tentara. Para tentara menerapkan prosedur penangkapan standar yang berakhir dengan penembakan terhadap tersangka.”

    Sementara itu, harian Israel Haaretz mengutip Komandan Militer Israel untuk Tepi Barat, Mayor Jenderal Avi Bluth, yang mengatakan pasukan Israel telah membunuh 42 warga Palestina karena aksi pelemparan batu sepanjang 2025.

    Bluth menyebut tindakan melempar batu sebagai bentuk “terorisme”.

    Keluarga Pertanyakan Penembakan

    Ayah Youssef, Sameh Shtayyeh, mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi sebelum putranya ditembak.

    Pria 48 tahun yang bekerja sebagai kontraktor bangunan itu mempertanyakan alasan penggunaan kekuatan mematikan terhadap anak-anak.

    “Apakah dia melempar batu atau tidak, apa bedanya? Di mana bahayanya bagi patroli tentara?” ujarnya.

    Sameh membandingkan situasi tersebut dengan demonstrasi di negara lain seperti Israel atau Perancis, di mana pelaku kerusuhan biasanya ditangkap, bukan ditembak mati.

    Mimpi Menonton Cristiano Ronaldo Tak Pernah Terwujud

    Youssef kemudian dimakamkan di Desa Tell, sekitar lima kilometer dari Nablus. Makamnya dipenuhi bunga dan terus diziarahi keluarga serta warga setempat.

    Di area makam terpajang foto Youssef saat bermain sepak bola — olahraga yang sangat ia cintai.

    Sebelum tragedi itu terjadi, Sameh pernah berjanji akan membawa putranya ke Arab Saudi untuk menyaksikan langsung Cristiano Ronaldo bermain.

    Kini, janji itu tinggal kenangan.

    “Ketika saya pulang ke rumah, Youssef tidak lagi menyambut saya,” kata Sameh lirih.

    Kursi belakang mobil yang biasanya ditempati putranya kini kosong. Kehilangan itu masih membekas dalam kehidupan keluarga mereka hingga hari ini.

    Komentar
    Additional JS