0
News
    Home Berita Donald Trump Featured Iran Nuklir Spesial

    Trump Sebut Iran Setuju Serahkan 'Debu Nuklir', Akankah Picu Risiko Baru? - Viva

    3 min read

     

    Trump Sebut Iran Setuju Serahkan 'Debu Nuklir', Akankah Picu Risiko Baru?


    VIVA –Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali membuat klaim terkait dengan Iran. Kamis 16 April waktu setempat, Trump menyebut Iran telah setuju menyerahkan ‘debu nuklir’ ke Amerika Serikat.

    Istilah ‘debu nuklir’ ini mengacu pada uranium yang telah diperkaya tinggi (menurut Badan Energi Atom Internasional) yakng kini terkubur di bawah tanah setelah serangan AS Juni lalu terhadap tiga fasilitas utama nuklir Iran. Untuk diketahui keberadaan material ini menjadi salah satu sumber ketegangan diantara kedua negara tersebut. Uranium yang diperkaya tersebut berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Melansir laman Washington Post, Jumat 17 April 2026, sebelum kesepakatan gencatan senjata pada pekan lalu, Trump sempat meminta militer AS menyusun rencana operasi tingkat tinggi dan sangat kompleks untuk mengambil material radiokatif tersebut tanpa persetujuan Iran.

    “Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan mereka sudah menyepakati itu. Mereka menyetujuinya dengan sangat tegas. Mereka juga setuju untuk menyerahkan kepada kami ‘debu nuklir’ yang berada jauh di bawah tanah akibat serangan yang kami lakukan dengan pesawat pembom B-2. Kami memiliki banyak kesepakatan dengan Iran, dan saya pikir sesuatu yang sangat positif dan penting akan terjadi,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis waktu setempat.

    Sebelumnya wakil presiden AS, JD Vance juga telah melakukan perundingan dengan pejabat Iran di Islamabad pekan lalu. Namun sayangnya perudingan tersebut tidak berbuah manis. Meski begitu, kedua negara disebut masih terus berkomunikasi hingga saat ini. Bahkan dalam beberapa waktu ke depan Iran dan AS akan kembali menggelar perundingan putaran kedua.

    Mengingaat Iran sejak lama menyatakan tak berniat memiliki senjata nuklir, janji tersebut mungkin bukan terobosan besar. Namun jika Iran menyerahkan stok uranium yang sudah diperkaya itu akan menjadi konsekuensi yang besar. Meski dampaknya terbatas jika Iran masih memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium kembali.

    Keinginan AS untuk Menghentikan Iran Membuat Senjata Nuklir.

    Sejak lama Trump dan pemerintahnya ingin membatasi kemampuan Iran dalam membuat senjata nuklir. Pada tahun 2015, dalam kesepakatan nuklir dengan pemerintahan presiden Obama, Iran setuju membatasi kepemilikan uranium hingga sekitar 136kg dengan tingkat pengayaan 3,67 persen.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Namun setelah Trump keluar dari kesepakatan itu pada masa jabatan pertamanya, Iran mulai meningkatkan pengayaan uranium hingga mendekati tingkat yang bisa digunakan untuk senjata. Bahkan pada 2021, mereka mengumumkan telah mencapai level 60 persen.

    “Iran ingin membuat kesepakatan, dan kami bernegosiasi dengan sangat baik dengan mereka. Mereka sekarang bersedia melakukan hal-hal yasng dua bulan lalu tidak mau mereka lakukan,” ujar Trump.


    Komentar
    Additional JS