Trump Klaim Iran Butuh Waktu 20 Tahun Untuk Pulih - Viva
VIVA –Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan bahwa perang dengan Iran sudah sangat mendekati akhir. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancaranya dengan Fox News di hari-hari terakhir masa gencatan senjata dua minggu dan di tengah ketidakpastian soal kelanjutan pembicaraan damai antara kedua negara itu.
“Saya pikir ini sudah hampir selesai, ya. Menurut saya, ini sudah sangat dekat dengan akhir,” kata dia dikutip dari laman The Express India, Rabu 15 April 2026.
Pernyataan ini muncul tak lama setelah New York Post melaporkan bahwa pembicaraan damai antara Iran dan AS bisa kembali dilanjutkan pada Kamis, beberapa hari setelah negosiasi sebelumnya mandek di Pakistan.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga memberi isyarat bahwa meski perang mungkin segera berakhir, Amerika Serikat belum sepenuhnya selesai dengan Iran.
“Kalau saya menarik diri sekarang, mereka butuh waktu 20 tahun untuk membangun kembali negara itu. Dan kami belum selesai. Kita lihat saja nanti. Saya rasa mereka sangat ingin mencapai kesepakatan,” katanya.
Trump juga menyebut bahwa jika Amerika Serikat tidak melakukan perang terhadap Iran, negara itu kemungkinan sudah memiliki senjata nuklir saat ini.
“Kalau mereka punya senjata nuklir, Anda akan memanggil semua orang di sana dengan sebutan ‘tuan’. Dan Anda tentu tidak ingin itu terjadi,” ujar Presiden AS tersebut.
Sebelumnya, International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan bahwa pihaknya tidak melihat adanya aktivitas Iran dalam mengembangkan program pengayaan nuklirnya.
Meski belum ada kepastian langkah dari kedua pihak setelah masa gencatan senjata berakhir pada 22 April, kemungkinan besar putaran baru perundingan antara AS dan Iran akan digelar pekan ini.
Dengan Pakistan yang berupaya mempertemukan kedua pihak kembali ke meja perundingan, Trump pada Selasa mengatakan bahwa putaran kedua pembicaraan bisa terjadi dalam satu atau dua hari ke depan. Putaran pertama sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan terkait ambisi nuklir Iran, yang oleh Gedung Putih disebut sebagai isu utama yang menghambat kesepakatan.
Pembicaraan antara kedua pihak akhirnya gagal di Islamabad setelah Amerika Serikat menuduh Iran menolak menghentikan program nuklirnya, sementara Teheran menyatakan Washington tidak bersedia memenuhi syarat-syarat perdamaian yang diajukan, termasuk gencatan senjata penuh di Lebanon.