Trump Bela Israel yang Langgar Gencatan Senjata, Sebut Lebanon Tak Termasuk Kesepakatan - Kompas
WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), yang menewaskan dan melukai lebih dari 1.400 orang di wilayah padat penduduk.
Serangan ini kemudian direspons oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan menyebut bahwa konflik Israel dengan Hizbullah sebagai hal yang terpisah dari kesepakatan gencatan senjata AS-Iran.
“Karena Hizbullah, mereka tidak dimasukkan dalam kesepakatan,” kata Trump, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Baca juga: Baru Sehari Gencatan Senjata, Israel Langgar Kesepakatan
“Itu juga akan diselesaikan. Tidak apa-apa.”
Pernyataan Trump diperkuat oleh juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt yang menegaskan bahwa Lebanon memang tidak termasuk dalam kesepakatan yang telah disampaikan kepada para pihak terkait.
“Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata yang telah disampaikan kepada semua pihak yang terlibat,” ujar Leavitt kepada wartawan.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Pakistan dan Iran yang menyebut gencatan senjata berlaku untuk seluruh kawasan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelumnya mengumumkan bahwa gencatan senjata mencakup seluruh wilayah, termasuk Lebanon.
“Dengan kerendahan hati, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama sekutu mereka, telah sepakat untuk segera melakukan gencatan senjata di mana-mana termasuk Lebanon dan wilayah lain, BERLAKU SEGERA,” tulis Sharif di platform X.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut membagikan pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa ketentuan gencatan senjata sudah jelas.
“Ketentuan gencatan senjata Iran-AS jelas dan tegas: AS harus memilih – gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel. Tidak bisa keduanya,” tulis Araghchi.
Ia juga menyoroti serangan Israel ke Lebanon dengan mengatakan, “Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola sekarang ada di tangan AS, dan dunia mengawasi apakah mereka akan menepati komitmennya.”
Iran ancam balas serangan Israel
Perbedaan pandangan ini berisiko menggagalkan gencatan senjata di kawasan. Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran mempertimbangkan langkah serius sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.
Kantor berita Tasnim mengutip sumber yang mengetahui bahwa Iran akan menarik diri dari kesepakatan jika Israel terus melanggar gencatan senjata melalui serangannya ke Lebanon.
Seorang pejabat senior Iran juga mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa Teheran akan “menghukum Israel sebagai respons atas kejahatan yang dilakukannya di Lebanon.”
Pejabat tersebut menegaskan bahwa gencatan senjata mencakup seluruh kawasan.
Baca juga: Israel Lancarkan Serangan Paling Brutal ke Lebanon, 182 Orang Tewas dalam Sehari
“Israel dikenal sering melanggar janji dan hanya akan dicegah oleh peluru,” katanya.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) turut memperingatkan bahwa pertempuran akan kembali pecah jika serangan Israel tidak dihentikan.
“Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera dihentikan, kami akan menjalankan tugas kami dan memberikan respons yang membuat penyesalan kepada para agresor jahat di kawasan,” demikian pernyataan IRGC.
Korban berjatuhan

Serangan Israel di Lebanon disebut sebagai salah satu yang paling intens dalam sejarah konflik di negara tersebut.
Otoritas kesehatan Lebanon menyebut sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.160 lainnya terluka.
Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine mengatakan, skala serangan sangat besar dan memperburuk kondisi di lapangan.
“Kebutuhan terus meningkat, tetapi skala serangan juga sangat besar,” ujarnya.
“Kami menghadapi eskalasi berbahaya di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan wilayah selatan,” lanjutnya.
Serangan juga menghantam berbagai target sipil, termasuk bangunan perumahan, masjid, pusat medis, kendaraan, hingga pemakaman. Salah satu serangan bahkan menargetkan prosesi pemakaman di Lembah Bekaa yang menewaskan sedikitnya 20 orang.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyerukan komunitas internasional untuk menghentikan agresi tersebut.
Israel, kata Salam, “tetap sepenuhnya mengabaikan semua upaya regional dan internasional untuk menghentikan perang—belum lagi pengabaian total terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan hukum humaniter internasional, yang tidak pernah dihormatinya.”
Di sisi lain, Hizbullah menyebut serangan Israel sebagai bentuk “kebencian buta, kriminalitas yang menjadi kebiasaan, dan kebrutalan tanpa batas,” serta menegaskan hak mereka untuk melakukan perlawanan.
Serangan ini juga memperparah krisis kemanusiaan, dengan lebih dari 1,2 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Lebanon.
Baca juga: Israel Bak Api dalam Sekam Gencatan Senjata AS-Iran
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang