Pure Blood Korea Selatan yang Awalnya Taktik untuk Lawan Penjajah, Kini Malah Jadi Spirit Rasisme - Sekitar Bandung
Pure Blood Korea Selatan yang Awalnya Taktik untuk Lawan Penjajah, Kini Malah Jadi Spirit Rasisme

Sekitarbandung.com – Kamu masih ingat dengan perseteruan netizen Asia Tenggara vs netizen Korea Selatan? SEAblings vs Knetz, ejekan Knetz yang bernada rasis.
Berhubung perseteruan ini sudah mereda, mari kita bahas mengapa ketikan jari Knetz bisa loncer banget seperti itu?
Semenanjung Korea Dihuni Bangsanya Sendiri
Kita mundur dulu ke belakang. Selama belasan abad, Semenanjung Korea dihuni oleh bangsanya sendiri.
Hingga puncak penjajahan pada abad ke-20, mereka dijajah Jepang. Identitas mereka diberangus. Bahasa Korea dilarang, nama harus diganti ke nama Jepang, dan sebagainya.
Para nasionalis Korea tentu tidak terima. Rakyat Korea harus bersatu melawan Jepang. Bagaimana caranya supaya rakyat bisa bersatu?
Seperti kata Tyrion Lannister di Game of Thrones season 8, What unites people? Stories. “Apa yang menyatukan sebuah bangsa? Cerita.”
Nasionalisme Korea Sadar Butuh Cerita
Nasionalis Korea menyadari bahwa mereka membutuhkan cerita. Lalu, muncul tokoh nasionalis bernama Yi Kwang-su. Ia merumuskan bahwa sebuah bangsa membutuhkan tiga elemen, yaitu kepribadian, budaya, dan bloodline.
Dibuatlah sebuah cerita bahwa bangsa Korea adalah keturunan dari satu leluhur mitologis. Kisah ini dinamakan Dangun Shinhwa.
Pasca kemerdekaan, Presiden Park Chung-hee (1961-1979) menggunakan konsep ini untuk percepatan pembangunan Korea di tengah ketegangan dengan Korea Utara.
Nilainya ditanamkan ke kurikulum sekolah dan diwariskan ke anak cucu. Park Chung-hee menyebutnya sebagai Dan-il (han) Minjok, yang artinya bangsa satu etnis.
Sesuai maknanya, Dan-il Minjok mengajarkan bahwa Korea itu hanya satu etnis, homogen, murni, dan tidak tercampur selama ribuan tahun. Pure blood kalau kata Harry Potter.
Pemahaman pure blood Korea masih kental sampai sekarang, karena 95 persen orang Korea sekarang berasal dari etnis Korea. Kontras banget dengan Indonesia yang mempunyai banyak etnis.
Baca Juga: 8 Fakta tentang Korea Utara yang Terdengar Palsu, tetapi 100 Persen Nyata
Nasionalisme Berbasis Keturunan Jadi Superpower
Nasionalisme berbasis keturunan ini menjadi superpower dalam hal politik, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Stanford University mengatakan bahwa identitas bangsa ini dianggap mengesampingkan identitas lain yang mencoba bersaing. Ini juga kerap menghambat keragaman budaya dan sosial serta toleransi dalam masyarakat Korea.
Kelompok progresif Korea sudah menyadari akan hal ini. Buruk untuk citra bangsa dan akan sulit untuk maju kalau bergaulnya sama yang itu-itu saja.
Sejak pertengahan dekade 2000, pemerintah Korea perlahan menggeser narasi belok arah ke Damunhwa Sahoe alias masyarakat multikultural.
Narasi ini terus didorong ke lapisan bawah. Salah satu caranya melalui entertainment. Tidak heran kalau reality show Korea saat ini kerap menampilkan para ekspatriat.
Baca Juga: Kim Jong Un Menang 99,93% Suara di Pemilu Korea Utara 2026, Warganet Salfok dengan 0,07% Sisanya
Post Views: 56