0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Negosiasi 21 Jam AS-Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan - Sumbawa News

    3 min read

      

    Negosiasi 21 Jam AS-Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan



    ISLAMABAD, Sumbawanews.com – Harapan dunia untuk melihat berakhirnya konflik bersenjata di Timur Tengah harus tertahan. Setelah melalui negosiasi maraton selama 21 jam yang difasilitasi oleh Pakistan, delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad pada Minggu (12/4/2026) tanpa membawa kesepakatan damai.

    Pertemuan yang digelar di Hotel Serena, Islamabad, ini sejatinya menjadi tonggak sejarah karena merupakan dialog tatap muka tingkat tertinggi antara Washington dan Teheran sejak Revolusi 1979. Namun, dinding perbedaan ideologi dan tuntutan keamanan rupanya masih terlalu tebal untuk ditembus.

    Titik Buntu: Nuklir vs Kompensasi Perang

    Dalam pernyataan persnya sebelum menaiki pesawat kepresidenan, Wapres JD Vance menegaskan bahwa tuntutan utama Presiden Donald Trump adalah komitmen absolut dari Iran untuk menghentikan seluruh program pengembangan senjata nuklir.

    “Faktanya sederhana, kami butuh komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka mencapai kemampuan senjata nuklir dengan cepat. Itulah tujuan 99 persen dari negosiasi ini,” tegas Vance.

    Di sisi lain, delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menlu Abbas Araghchi, menetapkan “garis merah” yang sulit diterima Washington. Iran menuntut:

    1. Ganti rugi (reparasi) atas kerusakan infrastruktur akibat serangan AS-Israel sejak perang pecah 28 Februari lalu.
    2. Pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
    3. Gencatan senjata permanen di Lebanon sebagai bagian dari paket kesepakatan.

    Narasi yang Bertolak Belakang

    Media pemerintah Iran, IRIB, menyebut kegagalan ini disebabkan oleh “tuntutan tidak masuk akal” dari pihak Amerika. Sebaliknya, Washington menilai Teheran belum menunjukkan itikad baik untuk menjamin stabilitas keamanan global, terutama terkait keamanan di Selat Hormuz.

    Meskipun JD Vance menyatakan timnya pulang, kantor berita Iran Tasnim melaporkan adanya peluang perpanjangan diskusi di tingkat teknis. Pakistan, sebagai mediator melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif, terus berupaya menjaga jalur komunikasi agar gencatan senjata sementara selama dua pekan yang sedang berjalan tidak hancur berantakan.

    Analisis Singkat: “Make or Break”

    Kegagalan di Islamabad ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam posisi status quo yang berbahaya. Tanpa kesepakatan di meja perundingan, risiko eskalasi militer di Selat Hormuz diprediksi akan kembali meningkat, yang berpotensi memicu lonjakan harga energi global secara drastis.

    Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Gedung Putih dan Teheran. Apakah diplomasi benar-benar mati, atau ini hanyalah taktik gertakan (brinkmanship) di tengah babak negosiasi yang sangat panjang?


    Komentar
    Additional JS