0
News
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Gencatan Senjata Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Menhan AS Sebut Iran Memohon Gencatan Senjata, Klaim Teheran Takut Ancaman Trump - Kompas

    7 min read

     

    Menhan AS Sebut Iran Memohon Gencatan Senjata, Klaim Teheran Takut Ancaman Trump



    WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengeklaim bahwa Iran “memohon” kesepakatan gencatan senjata menjelang tenggat ancaman dari Presiden Donald Trump.

    Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers pada Rabu (7/4/2026) pagi, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara sejak operasi militer gabungan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Hegseth juga menegaskan bahwa tekanan militer AS menjadi faktor utama yang mendorong Iran menerima kesepakatan tersebut.

    Baca juga: Mojtaba Khamenei Turun Tangan, Jadi Kunci Gencatan Senjata AS-Iran

    Klaim Iran “memohon” gencatan senjata

    Dalam pernyataannya, Hegseth memuji kepemimpinan Trump dalam mendorong tercapainya kesepakatan tersebut.

    Ketegangan Meruncing! Perang AS-Iran di Ambang Pintu

    “Tidak ada presiden lain yang menunjukkan keberanian dan ketegasan seperti panglima tertinggi ini,” ujar Hegseth, seperti dikutip The Independent.

    “Presiden Trump menciptakan momen ini. Iran memohon gencatan senjata ini, dan kita semua tahu itu.”

    Baca juga: Jelang Pidato Tump, Presiden Iran Kirim Surat Terbuka untuk Warga AS

    Ia menyebut bahwa ancaman keras dari Trump, termasuk peringatan untuk “menghapus peradaban Iran dari peta,” menjadi tekanan utama di balik keputusan Teheran.

    Klaim kehancuran kekuatan militer Iran

    Hegseth juga mengeklaim bahwa program rudal Iran telah “secara fungsional dihancurkan,” sementara angkatan lautnya “berada di dasar laut.” Ia menambahkan bahwa angkatan udara Iran juga telah “dimusnahkan.”

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    “Kami menguasai langit mereka,” kata Hegseth.

    Menurutnya, militer AS melancarkan lebih dari 800 serangan ke Iran pada Selasa malam, yang ia klaim sepenuhnya menghancurkan basis industri pertahanan Iran.

    “Mereka tidak lagi bisa membangun roket, peluncur, atau UAV. Pabrik mereka telah diratakan dengan tanah. Mundur secara historis,” ujarnya.

    Baca juga: Netanyahu Kena Amuk Usai AS-Iran Gencatan Senjata, Perang Diklaim Gagal Total

    Ancaman serangan infrastruktur

    Hegseth menyebut, jika Iran menolak proposal gencatan senjata dua minggu dari Trump, target berikutnya adalah infrastruktur vital negara tersebut.

    “Targetnya adalah pembangkit listrik, jembatan, serta infrastruktur minyak dan energi mereka,” kata Hegseth.

    Baca juga: Trump Ancam Serang Keras Iran, Bawa Teheran ke Zaman Batu

    Ia menambahkan bahwa target-target tersebut tidak akan mampu dipertahankan Iran.

    “Target yang tidak bisa mereka pertahankan, dan tidak realistis untuk dibangun kembali. Akan butuh puluhan tahun, dan kami sudah siap sepenuhnya. Mereka tidak bisa melawannya,” lanjutnya.

    Peran Pemimpin Baru Iran

    Baca juga: Bela Serangan ke Iran, Trump: Ini Investasi Sejati untuk Masa Depan Anak

    Hegseth juga menyinggung peran pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam menerima kesepakatan tersebut. Ia mengeklaim bahwa Mojtaba memahami konsekuensi jika Iran menolak tawaran tersebut.

    “Pemimpin baru itu memahami bahwa kesepakatan jauh lebih baik daripada nasib yang menunggu mereka,” ujar Hegseth.

    Ia juga menyebut bahwa rezim baru Iran “kehabisan pilihan dan waktu,” sehingga memilih untuk menyepakati gencatan senjata.

    “Mereka tahu kesepakatan ini berarti mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Berdasarkan ketentuan, setiap material nuklir yang tidak seharusnya mereka miliki akan dihapus,” katanya.

    Baca juga: Trump Ngamuk CNN Beritakan Klaim Iran Menang Perang, Desak Permintaan Maaf

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS