Media Ibrani Bongkar Runtuhnya Doktrin Militer Israel Akibat Perang Iran dan Badai Al-Aqsa - Republika
Media Ibrani Bongkar Runtuhnya Doktrin Militer Israel Akibat Perang Iran dan Badai Al-Aqsa
EPA/ABIR SULTAN Tim darurat Israel bekerja di lokasi serangan rudal Iran di daerah perumahan di Tel Aviv, Israel, 24 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Upaya Israel yang terus-menerus menuju "kemenangan total", menurut sebuah artikel di Majalah +972, telah menyeret Israel ke dalam pusaran perang terbuka, terutama konfrontasi dengan Iran.
Hal ini mengakibatkan terkikisnya legitimasi internasional dan semakin dalamnya kemerosotan moral di dalam masyarakat Israel.
Sponsored
Penulis artikel tersebut, dikutip dari Aljazeera, Ahad (26/4/2026), Amir Fakhouri—seorang pengacara, sosiolog, dan Direktur Akademik Pusat Nisan di Institut Van Leer di Yerusalem—bersama jurnalis Miron Rabaport, mencatat bahwa penamaan operasi militer Israel terbaru mencerminkan pergeseran dalam doktrin tempur.
Menuju kehancuran total
Sementara sebelumnya Israel memilih nama-nama yang meredam kesan kekerasan atau memperkuat citra keteguhan.
Ini antara lain seperti "Perisai Pelindung" pada 2014 dan "Pedang Besi" setelah serangan 7 Oktober 2023, nama operasi terbaru di Lebanon, "Kegelapan Abadi", mencerminkan, menurut kedua penulis, arah yang lebih langsung menuju kehancuran total.
Keduanya mengutip serangan udara yang menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya di Lebanon, dengan pandangan bahwa tujuannya bukan lagi sekadar militer, melainkan lebih mendekati genosida atau penghapusan keberadaan.
Halaman 2 / 5
Kedua penulis menambahkan Israel, meskipun ada gencatan senjata saat ini, terus menghancurkan desa-desa dan infrastruktur di selatan Lebanon.
Hal ini dengan tujuan menciptakan zona penyangga permanen dan mencegah kembalinya penduduk, dalam konteks yang mirip dengan apa yang terjadi di Gaza.
Mereka mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, bahwa ratusan ribu warga Lebanon di selatan Sungai Litani tidak akan diizinkan kembali dan rumah-rumah mereka akan dihancurkan.
Solusi militer permanen
Fakhuri dan Rabaport berpendapat bahwa kebijakan-kebijakan ini mencerminkan penerimaan Israel terhadap apa yang disebut oleh sosiolog politik Israel, Yagil Levy, sebagai doktrin keamanan permanen.
Doktrin ini tidak hanya bertujuan menghilangkan ancaman saat ini, tetapi juga berusaha mencegah ancaman di masa depan melalui penghancuran besar-besaran terhadap kehidupan sipil dan pengusiran penduduk, sambil menyingkirkan segala solusi politik demi solusi militer permanen.
Keduanya menegaskan bahwa pendekatan ini terlihat jelas dalam Perang Gaza setelah 7 Oktober 2023.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadopsi slogan "Kemenangan Penuh", yang menurut kedua penulis berubah menjadi kebijakan yang didasarkan pada penghancuran besar-besaran terhadap kota-kota dan infrastruktur.
Halaman 3 / 5
Keduanya menganggap sebagai bagian dari arah komprehensif di dalam lembaga politik dan militer Israel.
Artikel tersebut menunjukkan bahwa apa yang sebelumnya dikenal sebagai kebijakan pengelolaan konflik di Gaza melalui blokade, serangan udara berkala, dan menjaga keseimbangan dengan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), telah runtuh bersama Badai Al-Aqsa.
Perang tanpa batasan hukum
Namun, alih-alih mencari penyelesaian politik, Israel—menurut Fakhouri dan Rapaport—justru memperluas cakupan kekuatan militernya hingga mencakup Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran.
Ini dalam kerangka yang mereka sebut sebagai perang abadi tanpa batasan hukum atau politik.
Kedua penulis berpendapat bahwa serangan terhadap Iran pada Juni 2025 mewakili eskalasi baru dalam konsep keamanan abadi.
Hal ini karena tujuannya tidak hanya menyerang fasilitas militer atau nuklir, melainkan meluas hingga upaya mengubah sistem politik itu sendiri di negara besar dengan kedalaman budaya dan populasi yang signifikan.
Kedua penulis mencatat bahwa jalur ini mengungkap batas-batas kekuatan Israel, karena tujuan menggulingkan rezim Iran tidak tercapai, melainkan perang berakhir pada kebuntuan strategis.
Halaman 4 / 5
Mereka mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan yang mengatakan Israel tidak bisa hidup tanpa musuh.
Kedua penulis memperingatkan bahwa negara-negara seperti Turki mungkin akan digambarkan sebagai musuh baru di masa mendatang.
Dalam analisis yang lebih luas, kedua penulis berpendapat bahwa perang terakhir tidak menghasilkan sistem keamanan permanen seperti yang diharapkan, melainkan mengungkap kontradiksi mendasar.
Apakah itu? Yaitu setiap ancaman yang ditangani melahirkan ancaman baru, sehingga keamanan itu sendiri menjadi kondisi yang tidak dapat dicapai secara permanen.
Biaya politik yang semakin meningkat
Kedua penulis menambahkan bahwa menurunnya dukungan publik terhadap Israel di Amerika Serikat, terutama di dalam Partai Demokrat, mencerminkan pergeseran politik yang semakin nyata.
Ini mungkin membatasi kemampuannya untuk melanjutkan pendekatan militer tanpa harus menanggung biaya politik yang semakin meningkat.
Fakhuri dan Rapaport berpendapat bahwa runtuhnya baik pengelolaan konflik maupun doktrin keamanan abadi meninggalkan Israel dalam kekosongan strategis dan moral.
Halaman 5 / 5
Kekuatan militer terus beroperasi tanpa tujuan politik yang jelas, sementara retorika publik dipenuhi dengan bahasa genosida.
Artikel tersebut mencatat bahwa publik Israel mulai melihat retakan-retakan tersebut.
Meskipun para komentator dan politisi memamerkan "prestasi besar" dalam perang Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, survei Channel 13 menunjukkan bahwa hanya 33 persen yang percaya Israel dan Washington menang dalam perang tersebut, sementara 28 persen berpendapat bahwa Iranlah yang menang.
Kedua penulis menyimpulkan bahwa situasi ini mungkin membuka peluang bagi munculnya pendekatan baru yang didasarkan pada kompromi dan pengakuan batas-batas, alih-alih ilusi penguasaan melalui kekuatan.
Namun, kata mereka, hal itu tidak akan terjadi secara otomatis, melainkan memerlukan tekanan internasional dan perubahan internal dalam kesadaran politik Israel.
Berita Terkait
Kanselir Jerman: Iran Sukses Buat Malu Amerika
Internasional - 17 jam yang lalu
Presiden Pezeshkian Tegaskan Iran tak akan Pernah Berunding di Bawah Ancaman atau Blokade AS
Internasional - 26 April 2026, 10:49
Israel Sesumbar akan Kembalikan Iran ke Zaman Batu, Tapi Tunggu Bantuan AS
Internasional - 24 April 2026, 13:44
Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz tak Dibuka dalam 48 Jam
Energi - 22 March 2026, 07:42
Israel Bombardir Permukiman Kristen di Pinggiran Beirut, Ancam Lebanon Dijadikan Seperti Gaza
Internasional - 14 March 2026, 06:20