Korupsi Militer China Disorot, PLA Disebut Hadapi Masalah Internal Serius - Sindonews
Korupsi Militer China Disorot, PLA Disebut Hadapi Masalah Internal Serius
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Minggu, 26 April 2026 - 11:57 WIB
Dugaan korupsi sistemik di tubuh militer China kembali jadi sorotan. Berbagai laporan menggambarkan adanya penyalahgunaan logistik hingga penyimpangan dalam pengelolaan perlengkapan militer. Foto/abc.net.au
A A A
JAKARTA - Dugaan korupsi sistemik di tubuh militer China kembali menjadi sorotan setelah berbagai laporan menggambarkan adanya penyalahgunaan logistik, eksploitasi prajurit, hingga penyimpangan dalam pengelolaan perlengkapan militer.
Berbagai laporan dan kesaksian dari dalam tubuh militer menggambarkan bahwa apa yang selama ini diproyeksikan sebagai kekuatan militer modern dan disiplin sesungguhnya menghadapi persoalan serius berupa korupsi, eksploitasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Baca Juga: Junta Myanmar Makin Kuat dengan Dukungan China, Oposisi Melemah
Dikutip dari PML Daily, Minggu (26/4/2026), salah satu bentuk korupsi yang paling mendasar terlihat dari pemotongan jatah makan prajurit. Tunjangan konsumsi tentara dilaporkan dipangkas secara sistematis, membuat banyak rekrutan hanya menerima makanan seadanya, jauh dari standar resmi yang telah ditetapkan.
Alih-alih menerima ayam utuh, ikan layak konsumsi, atau nutrisi memadai, banyak prajurit disebut hanya diberi bagian murah seperti leher ayam, ekor ikan, dan kubis, sementara potongan terbaik dialihkan kepada perwira dan pejabat militer senior.
Praktik ini dinilai menjadi simbol nyata bagaimana struktur hierarki militer lebih banyak menguntungkan elite internal dibandingkan anggota di garis bawah. Pengamat menilai, militer yang bahkan gagal memberi makan prajuritnya secara layak akan kesulitan mempertahankan citra sebagai kekuatan global yang kredibel.
Meluasnya Korupsi
Korupsi juga meluas ke sektor logistik dan operasional. Dalam sejumlah unit kendaraan militer, bahan bakar disebut rutin disedot dan dijual demi keuntungan pribadi. Beberapa laporan bahkan menggambarkan situasi darurat ketika konvoi kendaraan tidak dapat bergerak karena tangki bahan bakarnya telah dikosongkan untuk dijual kembali.
Unit logistik, yang seharusnya menopang kesiapan tempur, disebut berubah menjadi “ladang emas” bagi pejabat yang memperoleh jabatan melalui suap dan kemudian berupaya mengembalikan modal mereka melalui praktik korupsi.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar penyimpangan individual, melainkan pola sistemik yang telah mengakar dalam berbagai lapisan organisasi.
Selain persoalan ekonomi dan logistik, budaya kekerasan terhadap rekrutan baru juga menjadi sorotan. Berbagai laporan menggambarkan praktik perundungan, pemukulan, serta hukuman fisik berat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan militer.
Beberapa rekrutan dilaporkan mengalami gangguan mental serius akibat tekanan tersebut, sementara upaya melarikan diri justru berujung hukuman pidana atas tuduhan desersi.
Kekuatan di Atas Kertas
Situasi ini menunjukkan bahwa disiplin dalam militer tidak selalu dibangun melalui profesionalisme, melainkan sering kali melalui rasa takut dan intimidasi.
Sementara propaganda resmi Partai Komunis China terus menggambarkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sebagai institusi yang “melayani rakyat", sejumlah pengamat menilai pengerahan militer dalam berbagai operasi sipil sering kali lebih berfungsi sebagai alat intimidasi politik ketimbang bantuan kemanusiaan murni.
Persoalan lain yang tak kalah serius muncul dalam pengelolaan persenjataan dan perlengkapan militer. Laporan menyebut senjata berkualitas tinggi kerap dijual ke luar negeri karena pembeli asing menuntut standar inspeksi ketat, sementara untuk kebutuhan domestik, pengawasan kualitas lebih longgar dan manipulasi data lebih mudah terjadi.
Akibatnya, kekuatan militer yang dipamerkan melalui angka dan statistik resmi dinilai berisiko hanya menjadi “kekuatan di atas kertas", dengan sejumlah laporan kesiapan tempur yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi lapangan.
Para pengamat menilai bahwa korupsi di tubuh militer China mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam sistem politik negara tersebut, di mana loyalitas sering kali dibangun melalui transaksi, promosi dapat dipengaruhi suap, dan posisi strategis menjadi alat akumulasi kekayaan.
Titik Lemah Mendasar
Budaya ini disebut merusak institusi, melemahkan tata kelola pemerintahan, serta mengikis kepercayaan publik.
Meski Beijing terus menampilkan citra kekuatan militer modern melalui modernisasi besar-besaran dan ekspansi strategis, berbagai kritik menyebut fondasi internalnya dapat terancam oleh korupsi struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Dalam konteks ini, sebagian analis menilai strategi utama China mungkin lebih banyak bertumpu pada perang informasi, tekanan psikologis, dan proyeksi kekuatan dibandingkan kemampuan perang jangka panjang yang benar-benar solid.
Kesimpulan dari berbagai kritik tersebut menyoroti bahwa korupsi dapat menjadi titik lemah mendasar bagi ambisi geopolitik Beijing.
Di permukaan, PLA mungkin tampil sebagai simbol kebangkitan kekuatan China. Namun di balik parade, modernisasi, dan retorika nasionalisme, berbagai persoalan internal terus memunculkan pertanyaan besar mengenai daya tahan sebenarnya dari kekuatan tersebut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

Trump Serius Ancam Iran dengan Kekuatan Militer AS
Terpopuler
1
2
3
4
5





