Iran Tembak dan Hancurkan Jet Tempur Siluman F-35 AS, Disebut untuk Pertama Kalinya - Tribunnews
Iran Tembak dan Hancurkan Jet Tempur Siluman F-35 AS, Disebut untuk Pertama Kalinya
IRGC berhasil tembak jatuh dan hancurkan Pesawat Jet Tempur Siluman F-35 milik AS, Jumat (3/4/2026).
Ringkasan Berita:
- Iran menyatakan berhasil menghancurkan jet tempur siluman F-35 Lightning II milik AS di wilayah udara Iran tengah, dengan puing-puing dilaporkan ditemukan dan kecil kemungkinan pilot selamat.
- Militer Iran memperingatkan akan melancarkan serangan yang lebih besar dan merusak terhadap AS dan Israel, serta menegaskan kemampuan militernya masih kuat meski ada klaim pelemahan dari pihak lawan.
- Ketegangan meningkat sejak serangan gabungan AS–Israel pada Februari 2026.
TRIBUNNEWS.COM - Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, mengumumkan bahwa Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menembak jatuh jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat (AS).
Pesawat jet tempur siluman tersebut beroperasi di atas Iran tengah, dan gambar puing-puing yang hancur beredar di media pada Jumat (3/4/2026).
"Karena ledakan hebat saat benturan dan kecelakaan, kecil kemungkinan pilot dapat melontarkan diri," kata Zolfaghari, mengutip Al Mayadeen, Jumat (3/4/2026).
Hancurnya F-35 menandai setidaknya serangan kedua yang berhasil dilancarkan Iran terhadap pesawat tempur siluman generasi ke-5 tersebut.
Diketahui pada 19 Maret 2026 lalu, F-35 pertama kali dihantam oleh pertahanan udara Iran, yang juga merupakan kali pertama platform pesawat tempur siluman generasi kelima dihantam, mengutip Al Mayadeen, Jumat (3/4/2026).
Dan tanggal 3 April 2026 ini menandai pertama kalinya jet tempur F-35 terkena dan ditembak jatuh di wilayah udara Iran.
Puing-puing F-35 beredar dibagikan oleh lembaga penyiaran milik negara Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
Dari gambar yang beredar menunjukkan bagian dari sirip ekor vertikal F-35 dengan sebagian cetakan Angkatan Udara AS di Eropa di antara puing-puing yang dikumpulkan di dekat lokasi kecelakaan.
Iran Mengancam Keras
Militer Iran mengancam akan meluncurkan serangan yang lebih kuat, lebih luas, dan lebih merusak terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Peringatan itu datang beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim dalam Iran saat ini memiliki sangat sedikit peluncur rudal yang tersisa.
Trump juga menyatakan bahwa kemampuan Iran untuk meluncurkan rudal dan drone telah dibatasi.
Ia menambahkan bahwa perang diperkirakan akan berlanjut selama dua hingga tiga minggu lagi.
Trump juga mengklaim konflik itu mendekati akhir.
Sebagai tanggapan, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengatakan penilaian AS dan Israel terhadap kekuatan militer Iran adalah salah besar.
“Seperti yang kami katakan, kami mengumumkan kepada musuh Zionis-Amerika bahwa informasi Anda tentang kekuatan dan peralatan militer kami tidak lengkap," ujar juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Kamis (2/4/2026)
Anda benar-benar tidak tahu kemampuan kami yang sangat besar dan strategis," lanjutnya, mengutip Anadolu Agency.
Ia juga menepis klaim bahwa pusat produksi rudal Iran dan sistem canggih telah hancur.
“Jangan berpikir bahwa Anda telah menghancurkan pusat produksi rudal strategis kami, drone ofensif jarak jauh kami, pertahanan udara modern dan sistem peperangan elektronik, atau peralatan khusus kami, karena asumsi seperti itu hanya akan memperburuk keadaan,” katanya.
Menurutnya, produksi militer strategis Iran tetap berjalan di lokasi yang tidak diungkapkan.
“Pusat-pusat yang Anda bayangkan tidak penting, dan produksi militer strategis kami berlangsung di tempat-tempat yang tidak Anda kenal dan tidak akan pernah bisa mencapainya,” imbuhnya lagi.
Ia juga memperingatkan bahwa skala serangan Iran akan meningkat.
“Setelah pukulan kuat dan luar biasa yang telah Anda terima sejauh ini, harapkan dari tindakan kami yang lebih kuat, lebih luas, (dan) lebih merusak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perang akan berlanjut.
Bahkan pihak Iran mengumpamakan perang tersebut akan berlanjut hingga musuh-musuh 'di bawah, dipermalukan, menyesal sepenuhnya, dan menyerah'.
Diketahui ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS.
Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Jet-Tempur-F-15E-Strike-Eagle-milik-Angkatan-Udara-Amerika.jpg)