0
News
    Home Amerika Serikat Berita Featured Rusia Spesial

    AS Akhirnya Menyerah? Izinkan Lagi Impor Minyak Rusia - Sindonews

    11 min read

     

    AS Akhirnya Menyerah? Izinkan Lagi Impor Minyak Rusia


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Kamis, 23 April 2026 - 22:49 WIB

    Amerika Serikat (AS) mengaku dihujani permintaan dari menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari lebih dari sepuluh negara termiskin di dunia agar AS tidak menghentikan aliran minyak Rusia. Foto/Dok

    A A A

    JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan memperpanjang kelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia . Langkah putar balik ini diambil demi meredam lonjakan harga energi dunia yang kian liar akibat dampak perang di Timur Tengah .

    Sekretaris Tresuri AS, Scott Bessent mengungkapkan bahwa jika kelonggaran ini tidak diberikan, harga minyak mentah dunia bisa meledak hingga USD150 per barel. Saat ini harga minyak dunia sudah berada di level psikologis USD100 akibat blokade Selat Hormuz.

    Dalam kesaksiannya di hadapan Senat pada Rabu (22/4/2026), Bessent mengaku dihujani permintaan dari menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari lebih dari sepuluh negara termiskin di dunia. Mereka memohon agar AS tidak menghentikan aliran minyak Rusia saat jalur energi di Teluk Persia tersumbat.

    Baca Juga: Eropa Terpecah! Italia Desak Blokir Minyak dan Gas Rusia Dibuka

    "Langkah ini bertujuan untuk melindungi konsumen di AS dan sekutu kita dari biaya bahan bakar yang jauh lebih curam," kata Bessent.

    Perpanjangan lisensi umum ini berlaku hingga 16 Mei 2026, memungkinkan pengiriman minyak Rusia yang sudah dimuat di tanker tetap berjalan.

    Penyelamat di Tengah Krisis Selat Hormuz

    Perang AS-Israel melawan Iran telah melumpuhkan Selat Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut. Akibatnya pasokan global terjepit dan memaksa Washington mengambil langkah pragmatis meski harus melunakkan sanksi terhadap Moskow.

    Dengan kelonggaran ini, Departemen Keuangan AS mengklaim telah memasok lebih dari 250 juta barel ke pasar global. "Tanpa tambahan barel dari Rusia ini, harga mungkin sudah mencapai USD150," tambah Bessent.

    Baca Juga: Rusia Haramkan Jual Minyak ke Negara Pendukung Pembatasan Harga, G7 hingga Jepang

    Harga bensin di AS telah melonjak, memberikan tekanan pada sektor rumah tangga menjelang pemilihan di bulan November. Rata-rata harga bahan bakar nasional melebihi USD4 per galon, naik dari USD2,94 pada akhir Februari sebelum konflik Iran, menurut data dari American Automobile Association.

    Gangguan pelayaran di Selat Hormuz telah meningkatkan tekanan pada pasar energi, mendorong harga minyak mentah naik dan meningkatkan biaya bahan bakar di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang bergantung pada pasokan dari Teluk.

    Rusia Panen Cuan di Tengah Perang

    Langkah AS ini memicu kritik tajam. Financial Times menyebut Rusia sebagai "pemenang terbesar dari konflik Timur Tengah." Diperkirakan, Moskow meraup tambahan pendapatan anggaran hingga USD150 juta (Rp2,3 triliun) per hari akibat kenaikan harga minyak global.

    Meski demikian, Bessent membantah bahwa Moskow mendapat keuntungan besar. Ia berargumen bahwa minyak Rusia tetap dijual dengan harga diskon dan penurunan harga global secara keseluruhan lebih menguntungkan dunia daripada tambahan volume yang dijual Rusia.

    Sementara itu Kremlin telah mengonfirmasi adanya peningkatan kecil dalam pendapatan minyak yang terkait dengan konflik di Timur Tengah. Akan tetapi dijelaskan bahwa hal itu tidak krusial bagi anggaran Rusia maupun ekonomi secara lebih luas.

    (akr)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

    Rekomendasi

    Infografis

    Perbandingan Gaji Tentara...

    Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris

    Terpopuler

    1

    2

    3

    4

    5

    Berita Terkini

    Dominasi Dolar AS Kembali...

    Indonesia Impor Pangan...

    Diborong BRICS, Harga...

    Kelangkaan Solar dan...

    Pemerintah Tanggung...

    Hipmi Dorong Hilirisasi...

    Komentar
    Additional JS