0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Rusia Ukraina Rusia Spesial Ukraina Zelenskyy

    Zelenskyy: Rusia Siapkan Serangan Besar ke Ukraina pada Musim Semi - Tribunnews

    12 min read

     

    Zelenskyy: Rusia Siapkan Serangan Besar ke Ukraina pada Musim Semi

    Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan Rusia menyiapkan serangan besar ke infrastruktur penting di Ukraina pada musim semi mendatang.


    Ringkasan Berita:
    • Zelenskyy mengatakan Rusia sedang menyiapkan serangan baru terhadap fasilitas infrastruktur penting di Ukraina pada musim semi mendatang.
    • Ukraina menyiapkan pertahanan di sejumlah kota, namun Kyiv masih belum siap karena menjadi target serangan besar-besaran sebelumnya.
    • Kanselir Jerman mendesak Trump untuk lebih menekan Rusia dalam upaya perundingan yang diharapkan dapat mengakhiri perang.

    TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1470 pada Rabu (4/3/2026).

    Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa pasukan Rusia tengah menyiapkan serangan baru yang menyasar fasilitas infrastruktur penting Ukraina pada musim semi ini. 

    Zelenskyy mengungkapkan bahwa ia telah memimpin rapat Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional untuk membahas kesiapan negara menghadapi musim dingin mendatang sekaligus potensi ancaman dalam waktu dekat.

    Pertemuan itu dihadiri perwakilan dari seluruh wilayah serta kota-kota besar di Ukraina.

    Menurutnya, setiap daerah telah menyiapkan rencana khusus yang mencakup sektor energi, infrastruktur vital, hingga sistem logistik guna memastikan ketahanan selama musim dingin.

    Namun, ia menyoroti bahwa ibu kota Kyiv masih belum sepenuhnya siap. Meski demikian, Zelenskyy menegaskan pemerintah akan segera mengatasi kekurangan tersebut.

    "Untuk masing-masing wilayah, telah disiapkan rencana khusus – yang mencakup energi, infrastruktur penting, dan logistik – untuk musim dingin mendatang. Sayangnya, Kyiv adalah satu-satunya pengecualian – ibu kota terbukti tidak siap. Tetapi kami akan mengatasi tantangan ini juga," kata Zelenskyy dalam pidatonya, Selasa (3/3/2026).

    Ia memperingatkan bahwa Rusia diperkirakan tidak akan mengurangi frekuensi maupun intensitas serangan pada musim semi. Infrastruktur penting diprediksi tetap menjadi sasaran utama, seperti yang telah terjadi sebelumnya.

    Karena itu, Zelenskyy menekankan pentingnya memperkuat persiapan sejak sekarang. Upaya tersebut meliputi penyediaan sumber listrik dan pemanas alternatif, penambahan cadangan energi, serta langkah-langkah perlindungan yang lebih efektif dengan mempertimbangkan berbagai potensi ancaman.

    Pemerintah Ukraina, lanjutnya, kini memiliki satu tugas bersama yaitu memastikan seluruh wilayah siap menghadapi serangan sekaligus menjaga stabilitas layanan dasar bagi masyarakat, dikutip dari Pravda.

    Baca juga: Putin Siap Bantu Stabilkan Situasi di Timur Tengah, Rusia Akan Gunakan Semua Peluang yang Ada

    Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

    Perang Rusia–Ukraina meletus secara terbuka pada 24 Februari 2022. Pada tanggal tersebut, Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai kota di Ukraina. Suara ledakan artileri dan pergerakan pasukan darat menjadi tanda bahwa ketegangan panjang di antara kedua negara telah berubah menjadi konflik bersenjata secara terang-terangan.

    Sesungguhnya, akar persoalan sudah muncul sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah memperoleh kemerdekaan, Ukraina secara bertahap membangun kedekatan dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kebijakan ini dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di wilayah bekas kekuasaan Soviet.

    Ketegangan meningkat tajam pada 2014 ketika demonstrasi besar terjadi di ibu kota Kyiv, yang dikenal sebagai Revolusi Maidan. Pergantian pemerintahan Ukraina yang lebih condong ke Barat memicu respons keras dari Rusia. Tidak lama berselang, Rusia menganeksasi wilayah Krimea. Di kawasan Donbas, bentrokan pun terjadi antara militer Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

    Sejumlah upaya perdamaian sempat ditempuh, namun belum berhasil mengakhiri konflik secara menyeluruh. Hingga akhirnya, pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Ukraina.

    Rusia menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas serta mencegah ekspansi NATO. Meski demikian, banyak negara mengecam tindakan itu. Amerika Serikat dan negara-negara Barat kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia serta memperbesar dukungan militer dan finansial bagi Ukraina.

    Perang Rusia-Ukraina masih berlangsung hingga saat ini dan AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan.

    Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

    • Kanselir Jerman Bertemu Trump di Gedung Putih

    Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berada di Washington untuk melakukan pembicaraan dengan Donald Trump.

    Ia mengatakan Ukraina tidak seharusnya menerima konsesi teritorial lebih lanjut selama percakapannya dengan presiden AS. 

    Friedrich Merz menggarisbawahi perlunya dukungan berkelanjutan untuk Ukraina, yang pekan lalu menandai peringatan keempat invasi skala penuh Rusia.

    “Kita semua ingin melihat perang ini berakhir secepat mungkin. Tetapi Ukraina harus mempertahankan wilayahnya dan kepentingan keamanannya,” kata Merz pada awal kunjungan ketiganya ke Ruang Oval, Selasa (3/3/2026). 

    Ia mengatakan kepada wartawan bahwa ia pikir Trump telah memahami maksudnya setelah ia menunjukkan peta negara yang dilanda perang tersebut.

    Sementara Trump meyakinkan Merz bahwa negosiasi kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina tetap menjadi prioritas "sangat tinggi" baginya.

    Ia yakin AS memiliki banyak amunisi untuk melawan Iran dan menjualnya ke Eropa untuk digunakan di Ukraina.

    Merz juga mendesak Trump untuk menekan Vladimir Putin terkait perang di Ukraina.

    “Rusia sedang mengulur waktu di sini, dan dengan demikian juga bertindak melawan kehendak presiden Amerika. Dalam pembicaraan hari ini, saya menyerukan peningkatan tekanan pada Moskow,” kata kanselir Jerman itu kepada wartawan. 

    AS, Rusia, dan Ukraina ikut serta dalam pembicaraan trilateral yang bertujuan untuk mengamankan kesepakatan perdamaian. 

    Namun, Merz mengatakan hanya pakta yang didukung oleh Eropa yang dapat bertahan lama. 

    “Kami tidak siap untuk menerima kesepakatan yang dinegosiasikan di atas kepala kami,” katanya.

    • Belgia Sita Armada Bayangan Rusia

    Sebuah kapal tanker minyak yang diduga milik "armada bayangan" Rusia yang disita oleh Belgia ditahan dengan jaminan sebesar €10 juta ($12 juta), setelah inspeksi mengungkapkan pelanggaran, menurut laporan pihak berwenang Belgia. 

    Kapal Ethera, yang menurut Belgia merupakan bagian dari armada kapal tua yang digunakan Moskow untuk menghindari sanksi Barat, disita oleh pasukan khusus Belgia di Laut Utara pada hari Minggu. 

    "Investigasi yang dilakukan setelah kapal tersebut dibawa ke pelabuhan Zeebrugge mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut berlayar di bawah bendera Guinea palsu," kata pemerintah Belgia. 

    Secara total, inspektur menemukan 45 pelanggaran, termasuk kerusakan teknis, yang menyebabkan kapal tersebut disita, tambahnya. 

    Kapten kapal tanker berkebangsaan Rusia dan 20 awaknya diperintahkan untuk tetap berada di atas kapal. 

    "Kapal hanya akan meninggalkan pelabuhan setelah memenuhi persyaratan dan uang jaminan telah dibayarkan," kata Menteri Mobilitas Belgia, Jean-Luc Crucke. 

    Rusia sebelumnya menggambarkan penyitaan kapal tanker dan kapal lain yang membawa kargo Rusia sebagai tindakan pembajakan, menurut laporan The Guardian.

    • Presiden Komisi Eropa dan Zelenskyy Bahas Pipa Gas Druzhba

    Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, membahas pipa gas Druzhba.

    Pipa gas tersebut menjadi pusat perselisihan dengan Hongaria dan Slovakia dan telah menghambat persetujuan pinjaman Uni Eropa sebesar €90 miliar kepada Kyiv.

    Seorang juru bicara komisi mengatakan kedua pemimpin tersebut telah membahas masalah ini selama panggilan telepon tetapi tidak dapat membagikan detail percakapan tersebut. 

    Sebelumnya, von der Leyen mengatakan mereka telah membahas topik-topik termasuk pinjaman, sanksi terhadap Rusia, dan dampak yang lebih luas dari perkembangan di Timur Tengah terhadap harga energi, keamanan energi, dan ketersediaan material pertahanan yang sangat dibutuhkan.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)


    Komentar
    Additional JS