Saat Timur Tengah Bergejolak, Rusia Berpotensi Untung dari Lonjakan Permintaan Energi - Tribunnews
Saat Timur Tengah Bergejolak, Rusia Berpotensi Untung dari Lonjakan Permintaan Energi
Meluasnya konflik di Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi global yang justru dapat menguntungkan Rusia.
Ringkasan Berita:
- Presiden Rusia, Vladimir Putin menuduh Ukraina menyerang kapal LNG Rusia Arctic Metagaz hingga meledak dan tenggelam di Laut Mediterania dekat Libya.
- Di Rusia, drone Ukraina juga dilaporkan menyerang wilayah Saratov dan melukai tiga orang.
- Di tengah konflik Timur Tengah, situasi ini berpotensi menguntungkan Rusia dari sisi energi.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.471 padaKamis (5/3/2026).
Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Ukraina menyerang kapal LNG Rusia Arctic Metagaz yang meledak di Laut Mediterania dekat Libya.
Rusia mengklaim kapal yang membawa 61.000 ton LNG itu dihantam drone Ukraina yang diluncurkan dari pantai Libya.
Di wilayah Saratov, gubernur Roman Busargan mengatakan drone Ukraina merusak fasilitas sipil dan melukai tiga orang.
Serangan tersebut membuat sejumlah bandara di Rusia selatan dan tengah ditutup sementara.
Di sisi lain, krisis energi akibat konflik Timur Tengah dinilai bisa menguntungkan ekonomi Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pembicaraan trilateral dengan Washington dan Moskow akan dilanjutkan setelah situasi kawasan stabil.
Ukraina juga menyatakan akan memboikot pembukaan Paralimpiade di Milan-Cortina, Italy karena keikutsertaan atlet Rusia.
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina dimulai secara terbuka pada 24 Februari 2022, saat Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah wilayah Ukraina.
Serangan ini terjadi setelah hubungan kedua negara memburuk selama bertahun-tahun, terutama karena perbedaan sikap politik dan keamanan.
Akar konflik bermula sejak runtuhnya Uni Soviet, ketika Rusia dan Ukraina menjadi negara merdeka dengan arah kebijakan yang berbeda.
Ukraina kemudian semakin mendekat ke negara-negara Barat, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, melalui kerja sama politik, ekonomi, dan pertahanan.
Langkah Ukraina untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan dan kepentingan nasionalnya.
Baca juga: Zelenskyy: Rusia Siapkan Serangan Besar ke Ukraina pada Musim Semi
Ketegangan meningkat pada 2014 setelah pergantian pemerintahan di Ukraina, yang diikuti dengan pencaplokan Krimea oleh Rusia dan pecahnya konflik bersenjata di wilayah Donbas.
Upaya perdamaian sempat dilakukan melalui jalur diplomasi internasional, namun tidak membuahkan hasil jangka panjang.
Situasi akhirnya memuncak ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Invasi tersebut memicu kecaman dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat, yang kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia.
Di sisi lain, Ukraina menerima bantuan militer dan keuangan dari sekutu-sekutunya.
Hingga kini, konflik masih berlangsung karena persoalan wilayah dan kepentingan strategis kedua pihak belum menemukan titik temu.
Amerika Serikat terus berperan dalam berbagai upaya diplomasi untuk mendorong penyelesaian perang.
Putin Tuduh Ukraina Serang Kapal LNG Rusia
Vladimir Putin menuduh Ukraina menyerang kapal pengangkut gas alam cair (LNG) Rusia yang meledak dan tenggelam di Laut Mediterania di lepas pantai Libya.
Ledakan dilaporkan terjadi di kapal Arctic Metagaz yang membawa sekitar 61.000 ton LNG pada Selasa malam saat berada sekitar 240 km dari pantai Libya.
Kementerian Transportasi Rusia mengklaim kapal tersebut dihantam drone Ukraina yang diluncurkan dari wilayah pantai Libya.
Sejauh ini Ukraina belum memberikan komentar terkait insiden kapal yang sebelumnya juga dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa tersebut.
Drone Ukraina Serang Saratov
Gubernur wilayah Saratov, Roman Busargan, mengatakan drone Ukraina merusak sejumlah lokasi sipil di wilayah barat daya Rusia pada Kamis (5/3/2026) pagi.
Akibat serangan tersebut, Bandara Saratov dan sejumlah bandara lain di wilayah selatan serta tengah Rusia ditutup sejak Rabu malam hingga Kamis (5/3/2026) pagi.
Tiga orang dilaporkan mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Baca juga: Perang AS-Israel Vs Iran, Ukraina Usul Barter Senjata di Timur Tengah
Krisis Energi Timur Tengah Bisa Untungkan Rusia
Meluasnya konflik di Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi global yang justru dapat menguntungkan Rusia.
Gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut dapat mendorong sejumlah negara pembeli beralih ke energi Rusia.
Di sisi lain, kemungkinan perlambatan pasokan senjata Barat ke Ukraina akibat keterlibatan militer AS di Iran dapat memberi keuntungan tambahan bagi Moskow.
Zelensky Sebut Pembicaraan Damai Akan Dilanjutkan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pembicaraan trilateral dengan Washington dan Moskow terkait upaya mengakhiri perang akan dilanjutkan.
Ia menyebut proses tersebut akan kembali berjalan setelah situasi di Iran dan Timur Tengah memungkinkan.
Zelensky juga mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara dengan raja Bahrain serta putra mahkota Kuwait mengenai konflik di Timur Tengah.
Ukraina Boikot Pembukaan Paralimpiade
Ukraina menyatakan akan memboikot upacara pembukaan Paralimpiade yang digelar Jumat di Milan-Cortina, Italy.
Boikot dilakukan sebagai protes terhadap partisipasi atlet dari Rusia.
Baca juga: Benarkah Potongan Tubuh yang Ditemukan di Ketewel Bali Igor Komarov, WNA Ukraina yang Diculik?
Sebelumnya atlet Rusia dan Belarusia dilarang tampil di Paralimpiade Musim Dingin 2022, tetapi diizinkan bertanding sebagai atlet netral di Olimpiade 2024 di Paris.
Republik Ceko, Estonia, Finlandia, Latvia, dan Polandia dijadwalkan ikut bergabung dalam aksi boikot tersebut.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)