Trump Tawarkan Rencana 15 Poin untuk Akhiri Perang Iran, Ada Gencatan Senjata 1 Bulan - Tribunnews
Trump Tawarkan Rencana 15 Poin untuk Akhiri Perang Iran, Ada Gencatan Senjata 1 Bulan
AS ajukan rencana 15 poin akhiri perang Iran, termasuk gencatan senjata 1 bulan, namun Teheran bantah adanya negosiasi.
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat menawarkan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang dengan Iran melalui jalur diplomatik.
- Proposal tersebut mencakup gencatan senjata sementara selama satu bulan untuk membuka ruang negosiasi lanjutan.
- Namun, Iran membantah adanya komunikasi langsung, sementara dukungan internasional terhadap rencana ini masih belum jelas.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dilaporkan mengajukan proposal damai berupa rencana 15 poin untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
Dilansir dari Al Jazeera, langkah ini muncul di tengah perang yang telah berlangsung beberapa pekan dan terus meluas ke kawasan Timur Tengah.
Upaya tersebut mencerminkan dorongan Washington untuk mencari jalan keluar diplomatik di tengah tekanan militer dan dampak ekonomi global.
Gencatan Senjata 1 Bulan Jadi Tahap Awal
Menurut laporan Deutsche Welle yang mengutip The New York Times, proposal itu mencakup gencatan senjata sementara selama satu bulan.
Selama periode tersebut, kedua pihak diharapkan membuka pembicaraan intensif guna menyusun kesepakatan komprehensif berdasarkan 15 poin yang diajukan.
Utusan AS, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, disebut terlibat dalam penyusunan dan penyampaian rencana tersebut.
Disampaikan Melalui Pakistan
Rencana damai itu dilaporkan tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui jalur diplomatik Pakistan.
Pakistan bahkan menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan antara Washington dan Teheran untuk memfasilitasi dialog langsung.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan negaranya siap mendukung upaya dialog demi mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Baca juga: China Ubah Sikap, Pilih Tengahi Konflik AS-Iran: Jika Perang Terus Berlanjut, Tak Akan Ada Pemenang
Isi Rencana: Nuklir, Rudal, hingga Proksi
Rencana 15 poin tersebut mencakup sejumlah isu strategis yang menjadi sumber ketegangan.
Di antaranya adalah pembatasan program nuklir dan rudal balistik Iran, yang selama ini menjadi perhatian utama AS dan sekutunya.
Selain itu, Iran juga diminta menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan, seperti Hizbullah dan Hamas.
Proposal tersebut juga menyoroti pentingnya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut berdampak langsung pada pasar energi global.
Situasi Lapangan Masih Memanas
Meski jalur diplomasi mulai dibuka, operasi militer antara AS dan Israel terhadap Iran masih terus berlangsung.
Serangan menargetkan fasilitas nuklir, rudal balistik, serta infrastruktur militer Iran sejak akhir Februari.
Sebagai balasan, Iran terus meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Analis: AS Klaim Negosiasi Jalan, Iran Tegas Membantah, Siapa Mainkan Narasi di Balik Perang?
Ketegangan ini turut memicu lonjakan harga energi dan mengganggu jalur distribusi global.
Respons Iran dan Ketidakpastian
Meski Washington mengklaim telah menjalin komunikasi, Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS.
Belum jelas apakah para pejabat Iran telah menerima atau mempertimbangkan proposal tersebut sebagai dasar negosiasi.
Selain itu, posisi Israel terhadap rencana ini juga belum sepenuhnya jelas.
Diplomasi vs Realitas Konflik
Langkah AS menawarkan rencana damai menunjukkan adanya dilema antara tekanan militer dan kebutuhan stabilitas global.
Di satu sisi, Washington ingin mengakhiri konflik yang berisiko meluas, namun di sisi lain operasi militer tetap berjalan.
Hingga kini, belum ada indikasi kuat bahwa perang akan segera mereda, sementara jalur diplomasi masih menghadapi banyak ketidakpastian.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)