0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial Vladimir Putin

    Putin Mau Setop Gas ke Eropa akibat Perang Iran, Pasar Asia Dinilai Lebih Menjanjikan - Kompas

    8 min read

     

    Putin Mau Setop Gas ke Eropa akibat Perang Iran, Pasar Asia Dinilai Lebih Menjanjikan

    MOSKWA, KOMPAS.com — Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (4/3/2026) memperingatkan bahwa negaranya dapat menghentikan pasokan gas ke Eropa di tengah lonjakan harga energi akibat krisis Iran.

    Pernyataan itu disampaikan saat harga minyak dan gas global melonjak setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi energi.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Putin mengaitkan kemungkinan tersebut dengan rencana Uni Eropa yang ingin melarang pembelian gas pipa dan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) Rusia secara bertahap hingga 2027.

    Baca juga: Ajudan Bantah Eks Presiden Iran Ahmadinejad Tewas, Rumah Tak Diserang

    Perang Iran picu lonjakan harga energi

    Harga minyak dan gas dunia melonjak menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Teheran ke negara-negara Teluk Arab.

    Detik-detik Iran Sambut Kapal Perang Rusia, Siap Latihan Militer Meski "Digertak" AS

    Konflik tersebut melumpuhkan pengiriman melalui Selat Hormuz dan memaksa penutupan produksi LNG Qatar serta kilang minyak terbesar Arab Saudi.

    Putin menyebut kenaikan harga minyak terjadi akibat “agresi terhadap Iran” serta pembatasan Barat terhadap minyak Rusia.

    Baca juga: Israel Serang Iran, Bagaimana Dampaknya pada Pasar Minyak Dunia?

    Sementara itu, harga gas Eropa meningkat karena para pembeli bersedia membayar lebih mahal akibat situasi di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.

    “Pelanggan telah muncul yang bersedia membeli gas alam yang sama dengan harga lebih tinggi, dalam hal ini karena peristiwa di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, dan seterusnya,” kata Putin.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    “Ini adalah hal yang wajar; tidak ada agenda politik di sini — ini murni bisnis.”

    Baca juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Apa Dampaknya bagi Pasokan dan Harga Minyak Dunia?

    Rusia bisa tinggalkan pasar Eropa

    Menanggapi rencana Uni Eropa untuk menghentikan total impor gas pipa Rusia pada akhir 2027 dan melarang kontrak LNG jangka pendek baru mulai April 2026, Putin mengatakan, mungkin lebih menguntungkan bagi Rusia untuk berhenti memasok pasar Eropa sekarang juga.

    “Sekarang pasar lain sedang terbuka. Dan mungkin akan lebih menguntungkan bagi kami untuk menghentikan pasokan ke pasar Eropa sekarang juga. Untuk beralih ke pasar-pasar yang sedang terbuka dan memantapkan posisi kami di sana,” ujar Putin.

    Namun, ia menegaskan bahwa itu belum merupakan keputusan final.

    “Ini bukan keputusan, ini dalam hal ini disebut berpikir keras. Saya pasti akan menginstruksikan pemerintah untuk mengerjakan isu ini bersama perusahaan-perusahaan kami,” katanya, seraya mengaitkan kemungkinan tersebut dengan apa yang ia sebut sebagai “kebijakan yang keliru” dari Eropa.

    Baca juga: Trump Ngamuk 2 Sekutu AS Ogah Pinjami Pangkalan Militer untuk Serang Iran

    Pasar Eropa menyusut tajam

    Rusia memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia dan merupakan eksportir minyak terbesar kedua secara global.

    Sebelum invasi ke Ukraina pada 2022, Rusia memasok sekitar 40 persen kebutuhan gas pipa Uni Eropa.

    Namun tahun lalu, pasokan itu turun menjadi sekitar 6 persen setelah Eropa berupaya mengurangi ketergantungan terhadap energi Rusia.

    Baca juga: AS-Israel Serang Iran: Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak dan Emas Melonjak

    Posisi Rusia di pasar Eropa sebagian digantikan oleh Norwegia, Amerika Serikat, dan Aljazair.

    Perusahaan gas milik negara Rusia, Gazprom, yang pada 2007 sempat menjadi perusahaan terbesar ketiga di dunia dengan kapitalisasi pasar lebih dari 330 miliar dollar AS (sekitar Rp 5.576 triliun), kini nilainya menyusut menjadi sekitar 40 miliar dollar AS (sekitar Rp 675 triliun).

    Asia jadi alternatif strategis

    Dengan Eropa yang berangsur menjauh, Moskwa semakin mengalihkan ekspor minyak, gas pipa, dan LNG ke China — konsumen dan importir energi terbesar dunia. Putin menegaskan Rusia tetap menjadi pemasok energi yang andal.

    Baca juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 100 Dollar AS per Barrel

    “Rusia selalu dan tetap menjadi pemasok energi yang dapat diandalkan bagi semua mitra kami, termasuk, kebetulan, mitra Eropa,” kata Putin.

    “Dan kami akan terus bekerja dengan cara seperti ini dengan para mitra yang juga merupakan mitra yang dapat diandalkan — misalnya, di Eropa Timur, seperti Slovakia dan Hongaria.”

    Ia juga memperingatkan bahwa jika pembeli premium terus bermunculan, pemasok tradisional lain seperti Amerika Serikat bisa saja meninggalkan pasar Eropa demi pasar yang menawarkan harga lebih tinggi.

    “Jika pembeli premium seperti itu muncul, maka saya pikir, bahkan saya yakin, beberapa pemasok tradisional, seperti Amerika dan perusahaan-perusahaan Amerika, tentu saja akan meninggalkan pasar Eropa untuk pasar yang membayar lebih tinggi,” ujar Putin.

    Baca juga: Korban Berjatuhan, Iran Tetap Tak Mau Menyerah pada AS

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
    P
    Komentar
    Additional JS