Presiden AS Klaim Negosiasi dengan Iran, Pakar: Trump Sedang Terjepit - Tribunnews
Presiden AS Klaim Negosiasi dengan Iran, Pakar: Trump Sedang Terjepit
Pakar HI dari Universitas Padjadjaran Dina Sulaeman mengomentari situasi terkini perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa pihaknya sedang bernegosiasi dengan Iran.
- Pakar menilai upaya Trump memberikan klaim soal adanya perundingan merupakan caranya untuk menurunkan ketegangan di bidang ekonomi.
- Pasalnya, harga minyak terus naik dan harga saham terus menurun imbas perang di Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM - Pakar Hubungan Internasional (HI) dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Dina Sulaeman mengomentari situasi terkini perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Dina menjelaskan, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa pihaknya sedang bernegosiasi dengan Iran. Namun, hal itu telah dibantah oleh pemerintah Iran.
"Enggak lama kemudian Iran langsung memberikan pernyataan sama sekali tidak ada pembicaraan, baik langsung maupun tidak langsung terkait negosiasi atau apa pun itu dengan Amerika Serikat dan mereka tetap menyatakan akan terus melakukan perlawananan," ucap Dina dalam tayangan di Kompas TV, Selasa (24/3/2026).
Dina menilai bahwa upaya Trump dengan memberikan klaim soal adanya perundingan merupakan caranya untuk menurunkan ketegangan di bidang ekonomi.
Pasalnya, harga minyak terus naik dan harga saham terus menurun imbas perang di Timur Tengah.
"Sekarang dengan pernyataan ini terlihat ada perubahan (harga saham dan minyak) meskipun akhirnya ketika Iran menjawab bahwa sama sekali tidak ada perundingan, ini artinya pasar kemudian bergejolak lagi," tuturnya.
Menurutnya, saat ini Trump dalam posisi kurang diuntungkan karena banyak pihak yang mengalami kesulitan dari perang tersebut.
"Saya pikir Trump memang dalam keadaan betul-betul terjepit dari sisi ekonomi karena banyak sekali yang dirugikan dari perang ini," jelasnya.
Serangan Iran ke Israel
Di tengah klaim Presiden Donald Trump bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah membicarakan resolusi damai, serangan rudal Iran justru menghantam Tel Aviv, Israel pada Selasa (24/3/2026) pagi.
Sebanyak enam orang menderita luka dampak serangan tersebut.
The Times of Israel melaporkan adanya beberapa lokasi jatuhnya rudal di Tel Aviv, Israel setelah rentetan serangan terbaru.
Baca juga: Kebohongan Trump Soal Perundingan dengan Iran Cuma Siasat Turunkan Harga Minyak
Sumber Israel menyebut sebuah bangunan rusak, sementara harian Haaretz mengutip polisi yang mengatakan empat orang mengalami luka ringan.
Layanan darurat menambahkan bahwa tim mereka segera dikerahkan ke sejumlah lokasi di pusat negara.
Media Israel melaporkan enam orang terluka dan sebuah bangunan empat lantai rusak di Tel Aviv, dengan upaya pencarian dan penyisiran masih berlangsung.
Klaim Trump
Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya tengah melakukan “pembicaraan produktif” dengan Iran untuk mencapai “resolusi total” atas perang AS-Israel dengan Republik Islam tersebut pada Senin (23/3/2026).
Ia bahkan menyebut Iran siap menyerahkan uranium yang diperkaya dan berhenti mencari senjata nuklir, sebuah kesepakatan yang menurutnya akan membuat Israel “sangat senang.”
Namun, Iran membantah keras klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menegaskan:
“Selama beberapa hari terakhir memang ada pesan yang disampaikan melalui negara sahabat mengenai permintaan AS untuk bernegosiasi, tetapi tidak ada pembicaraan yang berlangsung selama 24 hari perang ini.”
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf juga menolak tudingan bahwa dirinya memimpin delegasi Iran dalam perundingan. Ia menulis di X:
“Tidak ada negosiasi dengan AS. Berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar minyak dan keluar dari kubangan yang menjerat AS dan Israel.”
Baca juga: Iran Serang Israel setelah Trump Bicara soal Negosiasi Akhiri Perang
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah berbicara dengan Trump dan menilai ada peluang untuk “memanfaatkan pencapaian besar IDF dan militer AS” demi mencapai tujuan perang melalui kesepakatan.
Trump menegaskan bahwa jika kesepakatan tercapai, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan uranium yang diperkaya akan diserahkan.
“Kami ingin tidak ada bom nuklir, tidak ada senjata nuklir, bahkan tidak mendekati itu. Kami ingin perdamaian di Timur Tengah,” kata Trump.
Meski klaim Trump memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz, Iran tetap menolak adanya pembicaraan langsung.
Situasi ini membuat harga minyak dunia berfluktuasi tajam, mencerminkan ketidakpastian atas jalur vital pasokan energi global.
(Tribunnews.com/Deni/Glery)