Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Pesan Iran untuk Tentara Amerika: Mendekatlah! - Tribunnews

    6 min read

     

    Pesan Iran untuk Tentara Amerika: Mendekatlah!



    Perwakilan Pemimpin Iran di Dewan Pertahanan, Laksamana Ali Akbar Ahmadian, melontarkan pesan menantang kepada pasukan Amerika Serikat di kawasan

    Pesan Iran untuk Tentara Amerika: Mendekatlah!
    Ringkasan Berita:
    • Perwakilan Pemimpin Iran di Dewan Pertahanan, Laksamana Ali Akbar Ahmadian, melontarkan pesan menantang kepada pasukan Amerika Serikat di kawasan.
    • Dalam unggahan di akun X pada Selasa malam, Ahmadian menyampaikan pernyataan yang terkesan provokatif sekaligus penuh percaya diri.

     

    SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah pernyataan keras datang dari pejabat tinggi militer Iran. 

    Perwakilan Pemimpin Iran di Dewan Pertahanan, Laksamana Ali Akbar Ahmadian, melontarkan pesan menantang kepada pasukan Amerika Serikat di kawasan.

    Dalam unggahan di akun X pada Selasa malam, Ahmadian menyampaikan pernyataan yang terkesan provokatif sekaligus penuh percaya diri.

    “Selama bertahun-tahun, kami telah mengharapkan Amerika untuk memasuki titik-titik yang telah ditentukan,” tulisnya di X seperti dikutip dari kantor berita mehrnews.

    Ia menegaskan bahwa Iran telah mempersiapkan diri menghadapi skenario tersebut sejak lama. 

    Bahkan, menurutnya, lebih dari dua dekade Iran mengasah strategi peperangan asimetris, taktik yang mengandalkan serangan tidak konvensional untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar.

    Pernyataan paling mencolok pun dilontarkan di akhir pesannya: “Sekarang, kami hanya punya satu pesan untuk tentara Amerika: mendekatlah.”

    Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Dilaporkan Dorong Trump Lanjutkan Perang Lawan Iran

    Ucapan ini dinilai sebagai sinyal bahwa Iran tidak hanya siap menghadapi kemungkinan konflik langsung, tetapi juga percaya diri dengan strategi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

    Di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya, pernyataan ini berpotensi memperkeruh situasi dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

    Pentagon dilaporkan bersiap mengirim sekitar 3.000 tentara tambahan ke kawasan tersebut. 

    Pasukan ini berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82, unit elite dengan kemampuan reaksi cepat yang dapat dikerahkan ke medan konflik hanya dalam hitungan jam.

    Langkah ini menambah ribuan Marinir AS yang sebelumnya telah lebih dulu bergerak ke kawasan, seiring meningkatnya intensitas operasi militer terhadap Iran. 

    Meski belum ada keputusan resmi untuk memasukkan pasukan ke wilayah Iran, pengerahan ini dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya keterlibatan militer Amerika dalam konflik yang juga melibatkan Israel.

    Para pejabat pertahanan menyebut, penumpukan kekuatan ini membuka kemungkinan skenario yang lebih luas, termasuk potensi operasi langsung di Iran. 

    Namun hingga kini, status penugasan pasukan ke-82 masih belum dipastikan secara detail.

    Di lapangan, situasi terus memanas. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim lebih dari 9.000 target militer di Iran telah dihancurkan sejak operasi dimulai pada 28 Februari. 

    Serangan tersebut disebut menyasar peluncur rudal, kekuatan angkatan laut, hingga fasilitas industri pertahanan Iran, serta menewaskan puluhan tokoh penting militer negara itu.

    Saat ini, Amerika Serikat telah menempatkan sekitar 50.000 personel militer di Timur Tengah. 

    Penambahan pasukan baru mempertegas kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk kemungkinan pengambilalihan jalur strategis seperti Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

    Ketegangan semakin terasa setelah Iran dilaporkan memblokir akses ke selat tersebut, memicu lonjakan harga energi global. 

    Sementara itu, serangan balasan dari Teheran terus berlanjut, dengan gelombang drone dan rudal yang menargetkan Israel dan beberapa negara di kawasan.

    Di tengah situasi genting ini, Presiden Donald Trump menyatakan tengah menunda ancaman serangan terhadap fasilitas energi Iran, dengan alasan adanya “pembicaraan produktif” menuju kesepakatan damai. 

    Namun pihak Iran membantah adanya negosiasi langsung.

    Di dalam negeri AS, dukungan publik terhadap perang masih terbelah. 

    Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan hanya 35 persen warga Amerika mendukung serangan militer, sementara mayoritas, yakni 61 persen, menyatakan penolakan menandakan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap konflik yang berpotensi berkepanjangan.(*)


    Komentar
    Additional JS