Pentagon Habiskan Rp32 Triliun Per Hari, Harga Satu Bom Setara Rumah Mewah - SindoNews
Pentagon Habiskan Rp32 Triliun Per Hari, Harga Satu Bom Setara Rumah Mewah
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Selasa, 17 Maret 2026 - 11:06 WIB
Dalam enam hari pertama perang, biaya amunisi AS telah menguras dana setara anggaran riset tahunan industri otomotif global. Foto: Reuters
TEL AVIV - Dalam dunia bisnis, uang sebesar Rp192,1 triliun (USD 11,3 miliar) sudah cukup untuk mendanai riset dan pengembangan (R&D) seluruh model baru perusahaan otomotif papan atas seperti Tesla selama setahun penuh, atau membangun lima pabrik semikonduktor tercanggih di dunia.
Namun, bagi Pentagon, angka fantastis tersebut hanyalah biaya "uang jajan" untuk membakar amunisi selama enam hari pertama perang melawan Iran pada Maret 2026.
Laporan terbaru dari pejabat Pentagon kepada para petinggi kongres AS mengungkapkan bahwa agresi militer ini telah menelan biaya lebih dari USD 11,3 miliar hanya dalam waktu 144 jam.
Jika dirata-rata, Amerika Serikat menghabiskan sekitar Rp32 triliun setiap harinya.
1 Bom Seharga Rumah Mewah

Mengapa perang bisa mahal? Karena penggunaan senjata presisi tinggi yang harganya juga luar biasa tinggi. Salah satunya adalah AGM-154 Joint Standoff Weapon, sebuah bom luncur pintar.
Harga satu unitnya berkisar antara USD 578.000 hingga USD 836.000 (sekitar Rp 9,8 miliar hingga Rp 14,2 miliar).
Setiap kali satu pilot menekan tombol peluncuran, Amerika Serikat baru saja menerbangkan satu unit rumah mewah di kawasan elit Jakarta ke medan tempur untuk dihancurkan.
Angkatan Laut AS tercatat memiliki stok 3.000 unit bom ini yang dibeli dua dekade lalu, dan kini stok tersebut terkuras habis dalam hitungan hari.
Seiring berjalannya waktu, Pentagon mulai beralih ke amunisi yang "lebih murah" seperti JDAM (Joint Direct Attack Munition). Meski disebut murah, perangkat pemandu bom ini tetap dipatok seharga USD 38.000 (Rp 646 juta), ditambah hulu ledaknya seharga USD 1.000 (Rp 17 juta).
Memasuki tahun 2026, di tengah ketatnya persaingan ekonomi global dan ketergantungan pada efisiensi teknologi AI, biaya perang ini menciptakan anomali pasar.
Pada awal konflik, pengeluaran mencapai USD 2 miliar per hari (Rp 34 triliun), sebelum akhirnya turun menjadi USD 1 miliar per hari. Namun, jika eskalasi meningkat, biaya ini akan kembali melonjak. Lawan utama dari anggaran ini bukanlah musuh di medan tempur, melainkan skeptisisme di Capitol Hill.
Pemerintahan Donald Trump saat ini menghadapi tekanan besar karena belum memberikan kepastian mengenai durasi dan tujuan akhir perang. Dunia usaha melihat ketidakpastian ini sebagai risiko inflasi global, mengingat dana Rp 192 triliun tersebut seharusnya bisa dialokasikan untuk memperkuat rantai pasok teknologi yang sedang goyah.
Kini, rakyat Amerika dan pasar global hanya bisa melihat bagaimana tumpukan dollar—yang bisa digunakan untuk merevolusi industri otomotif masa depan—menguap menjadi asap di langit Timur Tengah.
Data Penting Perang Iran (Maret 2026):
Total Biaya 6 Hari: USD 11,3 Miliar (Rp 192,1 Triliun).
Biaya Awal per Hari: USD 2 Miliar (Rp 34 Triliun).
Biaya Lanjutan per Hari: USD 1 Miliar (Rp 17 Triliun).
Harga Bom AGM-154: USD 578.000 – USD 836.000 per unit.
Harga Kit Pemandu JDAM: USD 38.000.
Harga Hulu Ledak JDAM: USD 1.000.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

Harga Cabai Rawit Merah Rp100.000 per Kg, Wamendag Salahkan Cuaca