0
News
    Home Afrika Bbm Dunia Internasional Konflik Timur Tengah

    Negara-negara Afrika Hadapi Kelangkaan BBM Imbas Ketegangan Timur Tengah - Viva

    3 min read

     

    Negara-negara Afrika Hadapi Kelangkaan BBM Imbas Ketegangan Timur Tengah

    Jakarta, VIVA – Sejumlah negara di benua Afrika kini menghadapi kesulitan pasokan bahan bakar, terdampak dari meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memicu lonjakan harga dan pembatasan distribusi di beberapa negara, sementara pemerintah berupaya menstabilkan pasokan bagi warganya.

    Di Zambia, cadangan bensin diperkirakan sekitar 40 juta liter, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 23 hari dengan konsumsi saat ini. Sementara itu, stok minyak tanah sekitar 65,9 juta liter hanya mampu bertahan selama 9,3 hari. 

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Cadangan bahan bakar penerbangan Jet A-1 di negara itu diperkirakan cukup untuk 10 hari, menurut laporan Efficacy News Africa.

    Afrika Selatan juga menghadapi kekurangan solar yang semakin sering terjadi di stasiun pengisian bahan bakar. Untuk mengantisipasi kelangkaan, pemerintah setempat berencana mendiversifikasi sumber pasokan, meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak, dan mempercepat proyek infrastruktur energi nasional.

    Di Somalia, lonjakan harga bensin dan solar yang lebih dari dua kali lipat memaksa pemerintah memberlakukan aturan penjualan baru. Otoritas setempat menetapkan batas keuntungan bagi penjual dan denda bagi pelanggaran, termasuk membatasi kenaikan harga bahan bakar hanya pada hari Minggu, 15 Maret 2026.

    Sementara itu, Zimbabwe mengalami kenaikan harga bahan bakar untuk kedua kalinya pekan ini. Otoritas Pengatur Energi negara itu menaikkan harga bensin sebesar 27 persen menjadi 2,17 dolar AS per liter (sekitar Rp37 ribu) dan solar naik 15 persen menjadi 2,05 dolar AS per liter (sekitar Rp35 ribu). 

    Pemerintah Zimbabwe menegaskan bahwa cadangan bahan bakar nasional masih mencukupi untuk lebih dari tiga bulan ke depan.

    Ketegangan ini juga menarik perhatian dunia. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyeru Israel dan Amerika Serikat untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran yang berisiko lepas kendali, menimbulkan penderitaan bagi warga sipil, dan memengaruhi perekonomian global. 

    “Sudah saatnya supremasi hukum mengalahkan hukum kekuatan. Sudah saatnya diplomasi mengalahkan perang,” ujar Guterres kepada wartawan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin Uni Eropa.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Guterres juga mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz yang ditutup akibat serangan militer AS dan Israel. Ia meminta Iran menghentikan serangan balasan terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk, menekankan bahwa negara-negara tersebut tidak pernah menjadi pihak dalam konflik ini.

    “Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz menyebabkan penderitaan besar bagi banyak orang di seluruh dunia yang tidak ada kaitannya dengan konflik ini,” tegas Guterres. (Ant)


    Komentar
    Additional JS