0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Kapal Induk USS Abraham Lincoln Konflik Timur Tengah Spesial

    Militer Iran Klaim Serangan Rudal terhadap Kapal Induk USS Abraham Lincoln - Tribunnews

    11 min read

     

    Militer Iran Klaim Serangan Rudal terhadap Kapal Induk USS Abraham Lincoln

    Iran mengklaim telah menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln dengan rudal jelajah, tetapi belum ada konfirmasi dari pihak AS.

    Ringkasan Berita:
    • Iran mengklaim telah menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln dengan rudal jelajah, tetapi belum ada konfirmasi dari pihak AS.
    • Klaim ini bukan yang pertama, karena sebelumnya Iran juga mengaku menyerang kapal yang sama tanpa bukti independen.
    • Ketegangan terjadi di tengah upaya gencatan senjata, namun kedua pihak masih saling membantah adanya negosiasi resmi.


    TRIBUNNEWS.COM - Angkatan bersenjata Iran mengklaim telah menargetkan kapal induk ASUSS Abraham Lincoln dengan rudal jelajah Qader, menurut laporan media pemerintah, Rabu (25/3/2026).

    Press TV merilis sebuah video yang mengklaim bahwa militer Iran menembakkan rudal ke arah USS Abraham Lincoln, membuat kapal induk itu mengubah posisinya.

    Namun, hingga kini belum ada konfirmasi dari pihak AS.

    Sebuah video yang dibagikan kantor berita Fars menunjukkan proyektil diluncurkan ke langit, disertai suara ledakan di latar belakang.

    Media tersebut mengklaim video itu memperlihatkan peluncuran rudal yang menargetkan kapal induk AS, tetapi rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

    Sebelum klaim serangan ini, Laksamana Muda Shahram Irani sebelumnya juga menyatakan bahwa kapal induk AS tersebut terus dipantau.

    Ia menegaskan bahwa kapal itu akan menjadi target jika memasuki jangkauan sistem rudal Iran.

    Pernyataan tersebut disiarkan oleh media pemerintah Iran.

    Kapal induk Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln (CVN-72) sedang berjalan di Samudra Atlantik selama latihan transit selat pada 30 Januari 2019.
    KAPAL INDUK AS - Kapal induk Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln (CVN-72) sedang berjalan di Samudra Atlantik selama latihan transit selat pada 30 Januari 2019. (US Navy)

    Bukan Pertama Kali

    Mengutip The Economic Times, ini bukan pertama kalinya Iran mengklaim telah menyerang kapal induk Amerika Serikat.

    Pada 1 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah menyerang USS Abraham Lincoln menggunakan empat rudal balistik.

    IRGC mengklaim rudal-rudal tersebut berhasil mengenai kapal induk tersebut.

    Baca juga: Iran: Kapal Induk AS Abraham Lincoln Kabur Setelah Dihantam Drone, Hendak Dekati Selat Hormuz

    Namun, klaim itu juga tidak dikonfirmasi oleh pihak Amerika Serikat.

    Klaim-klaim ini muncul di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

    Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari lalu.

    Laporan menyebutkan lebih dari 1.340 orang tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

    Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

    Serangan-serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta berdampak pada pasar global dan sektor penerbangan.

    Upaya Gencatan Senjata

    Dugaan serangan terhadap kapal induk AS ini terjadi di tengah upaya Amerika Serikat untuk mencapai gencatan senjata selama satu bulan melalui rencana 15 poin yang diajukan kepada Iran.

    Presiden AS Donald Trump juga dilaporkan menarik kembali ultimatum 48 jam untuk menyerang infrastruktur listrik Iran.

    Langkah ini dilakukan setelah Iran memperingatkan akan menargetkan infrastruktur energi di kawasan sebagai balasan.

    Trump menyebut adanya diskusi konstruktif antara kedua negara.

    Namun, pejabat Iran membantah adanya komunikasi resmi.

    Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari menegaskan tidak ada pembicaraan dan menolak klaim dari pihak AS.

    Ia menyatakan bahwa era ketergantungan pada jaminan Amerika Serikat telah berakhir.

    Pejabat Iran juga menegaskan bahwa stabilitas kawasan bergantung pada kekuatan militer Iran.

    Zolfaqari mengatakan stabilitas regional dijamin oleh angkatan bersenjata Iran dan tidak akan kembali normal selama ancaman militer terhadap Iran masih ada.

    Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima persyaratan apa pun dari Amerika Serikat.

    Serangan Iran-Israel Terus Berlanjut

    Sementara itu, angkatan bersenjata Iran kembali meluncurkan sejumlah rudal ke arah Israel pada Rabu (25/3/2026), menurut laporan televisi Iran.

    Mengutip Palestine Chronicle, media Israel melaporkan adanya ledakan keras di Tel Aviv setelah sirene berbunyi tanpa henti dari wilayah utara hingga selatan Palestina yang diduduki.

    Laporan menyebutkan bahwa amunisi tandan jatuh di sekitar 30 lokasi, termasuk enam titik di dalam dan sekitar Tel Aviv.

    Ledakan beruntun juga dilaporkan terjadi di Hadera, dengan asap hitam tebal terlihat mengepul di dekat pembangkit listrik setelah serangan rudal.

    Proyektil tambahan dilaporkan jatuh di Binyamina, selatan Haifa, serta di Modi'in, wilayah barat Yerusalem yang diduduki.

    Sebuah pesawat Israel yang hendak mendarat dari Larnaca dilaporkan membatalkan pendaratannya untuk ketiga kalinya dan kembali ke udara di tengah bombardir yang masih berlangsung.

    Eskalasi ini terjadi seiring dengan berlanjutnya operasi Iran dan kelompok di Lebanon secara bersamaan.

    Iran dilaporkan menargetkan berbagai lokasi di wilayah Palestina yang diduduki, sekaligus menyerang pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

    Pada saat yang sama, Perlawanan Islam di Lebanon terus melancarkan operasi sebagai respons atas kembali meningkatnya serangan Israel sejak 2 Maret.

    Pada Rabu (25/3/2026), Garda Revolusi Iran mengumumkan peluncuran gelombang ke-80 Operasi Janji Sejati 4 yang menargetkan lokasi strategis di wilayah utara Palestina yang diduduki serta pangkalan militer AS.

    IRGC menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Lebanon dan rakyatnya.

    Menurut laporan media Israel, sistem pertahanan udara negara tersebut semakin kesulitan mencegat rudal Iran dan drone dari Lebanon.

    Surat kabar Israel Maariv mengakui bahwa Hizbullah masih aktif dan terus meluncurkan rudal hingga menjangkau wilayah yang lebih dalam di Israel.

    Media tersebut juga menyebutkan bahwa Iran berpotensi keluar dari konflik ini dalam posisi yang lebih kuat, bahkan berpeluang unggul.

    Laporan itu turut mencatat meningkatnya kekhawatiran terkait menipisnya persediaan interceptor serta kemampuan militer Israel dalam mempertahankan operasi jangka panjang.

    Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa sekitar 4.462 orang telah terluka sejak awal konflik.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)


    Komentar
    Additional JS