0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    Konflik AS-Israel vs Iran, Ekspatriat Dubai Tega Tinggalkan Kucing hingga Anjing Peliharaan - Tribunnews

    10 min read

     

    Konflik AS-Israel vs Iran, Ekspatriat Dubai Tega Tinggalkan Kucing hingga Anjing Peliharaan

    Seiring eskalasi militer AS-Israel vs Iran, para ekspatriat di Dubai tidak membawa serta hewan-hewan peliharaan mereka ketika meninggalkan UEA.

    Ringkasan Berita:
    • Eskalasi militer di Timur Tengah menyusul serangan AS-Israel ke Iran membuat para ekspatriat di Dubai pergi pulang atau mengungsi ke negara lain tanpa membawa serta hewan peliharaan mereka.
    • Sejak serangan AS-Israel terhadap Iran meningkat mulai Sabtu (28/2/2026) lalu, ada ratusan hewan peliharaan yang ditinggalkan di UEA baru-baru ini, jumlah yang jauh lebih banyak daripada biasanya.
    • Hewan-hewan peliharaan seperti kucing ditinggal di jalanan, atau anjing diikat dan ditinggalkan di taman.

    TRIBUNNEWS.COM - Para ekspatriat yang tinggal di DubaiUni Emirat Arab (UEA) meninggalkan negara tempat mereka selama ini tinggal seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai Sabtu (28/2/2026) lalu.

    Mirisnya, para ekspatriat itu justru tidak membawa serta hewan-hewan peliharaan mereka ketika meninggalkan UEA.

    Bahkan, ada di antara mereka yang mempertimbangkan opsi eutanasia (tindakan sengaja mengakhiri hidup seseorang atau binatang yang sejatinya bertujuan untuk mengurangi penderitaan) pada hewan peliharaan mereka saat bergegas pergi.

    Pada Minggu (8/3/2026) lalu, media Inggris termasuk Telegraph dan Daily Mail melaporkan lonjakan kasus warga asing/ekspatriat yang meninggalkan hewan peliharaan mereka ketika eskalasi militer Timur Tengah terjadi.

    Jumlah Hewan Peliharaan yang Ditinggalkan Meningkat

    Menurut laporan, ada ratusan hewan peliharaan yang ditinggalkan di UEA baru-baru ini, jumlah yang jauh lebih banyak daripada biasanya.

    Komunitas adopsi anjing, K9 Friends Dubai menyebut, “Kami dibanjiri panggilan dari pemilik yang ingin meninggalkan anjing mereka.” 

    Platform media sosial seperti Facebook juga dipenuhi unggahan soal hewan-hewan peliharaan yang ditinggalkan oleh pemiliknya, termasuk kucing yang terluka yang ditemukan di jalanan dan anjing yang diikat dan ditinggalkan di taman.

    Ditinggal di Gurun

    Sementara itu, di Al Ain, dekat perbatasan Oman-UEA juga banyak hewan peliharaan yang ditinggalkan oleh pemiliknya. dilansir standard.co.uk.

    Sejumlah orang mencoba meninggalkan UEA lewat Oman, tetapi dihentikan karena membawa hewan peliharaan mereka, hal ini menyebabkan mereka meninggalkan hewan-hewan peliharaan di daerah tersebut. 

    Seorang pemilik suaka hewan Six Hounds di Al Ain, Anso Stander mengatakan, “Saya menerima 27 pesan dalam satu hari. Beberapa di antaranya bilang, mereka akan meninggalkan hewan peliharaan mereka jika penampungan tidak dapat menerimanya.”

    Beberapa warga yang mencoba melarikan diri dari Dubai ke Oman terpaksa meninggalkan hewan peliharaan mereka di gurun, setelah diberitahu bahwa mereka tidak dapat membawa hewan peliharaan melintasi perbatasan.

    Anso Stander menambahkan, dua anjing telah ditembak di gurun antara UEA dan Oman.

    Ia menyebut perilaku pemilik hewan peliharaan yang melarikan diri dan meninggalkan hewan mereka "egois dan tidak berperasaan", serta menjelaskan bahwa pemerintah setempat "telah mengendalikan semuanya."

    "Sama sekali tidak ada alasan untuk panik," tutur Anso.

    Kisah Warga Lokal

    Seorang warga di Dubai menyebutkan bahwa ada orang yang meninggalkan sebuah kotak berisi seekor kucing dan empat anak kucing di depan pintu rumahnya. 

    Kotak itu berisi catatan tulisan tangan dalam bahasa Inggris yang kurang sempurna:

    “Karena situasi ini, saya harus kembali ke negara saya dan tidak dapat membawa kucing-kucing itu. Maaf telah meninggalkan mereka di depan pintu Anda.”

    Kucing-kucing tersebut saat ini berada di bawah perawatan sementara.

    Dalam foto: 
Surat berisi pesan untuk merawat kucing. Diduga, surat tersebut ditulis oleh ekspatriat yang meninggalkan Dubai dan tidak membawa serta kucing peliharaannya beserta empat ekor anak kucing, seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai Sabtu (28/2/2026).
    Dalam foto: Surat berisi pesan untuk merawat kucing. Diduga, surat tersebut ditulis oleh ekspatriat yang meninggalkan Dubai dan tidak membawa serta kucing peliharaannya beserta empat ekor anak kucing, seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai Sabtu (28/2/2026). (Twitter/@areyoflight)
    Seekor anjing yang diikat di tempat sampah, diduga ditinggalkan oleh pemiliknya yang akan meninggalkan Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai Sabtu (28/2/2026).
    Seekor anjing yang diikat di tempat sampah, diduga ditinggalkan oleh pemiliknya yang akan meninggalkan Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai Sabtu (28/2/2026). (HO via standard.co.uk)

    Penampungan Hewan Kewalahan dan Opsi Eutanasia

    Beberapa penampungan hewan sudah penuh dan tidak dapat menerima lebih banyak hewan.

    Pemilik layanan penitipan hewan peliharaan bernama The Barking Lot di Dubai, Aditi Gowri mengatakan, “Penampungan hewan saat ini sudah di ambang batas," dikutip dari The Telegraph.

    “Kami berusaha untuk se-fleksibel mungkin karena kami memahami ini adalah masa yang sulit.”

    Seorang sukarelawan satwa di Dubai, Claire Hopkins, menyebut bahwa komunitas amal satwa saat ini mengalami tekanan keuangan yang besar dengan masuknya hewan dan pekerjaan baru.

    Ia menambahkan, laman penggalangan dana seperti GoFundMe dilarang di Dubai, sehingga semakin sulit untuk melanjutkan pekerjaan mereka di tengah konflik Timur Tengah.  

    Bahkan, Claire mengungkap ada pemilik menanyakan tentang eutanasia terhadap hewan peliharaan yang sehat karena biaya relokasi atau prosedur administratif.

    “Beberapa dokter hewan telah mengonfirmasi bahwa pemilik datang untuk melakukan eutanasia pada hewan peliharaan yang sehat karena mereka tidak ingin berurusan dengan biaya relokasi atau dokumen," kata Claire, dilansir mirror.co.uk.

    "Dengan berat hati saya sampaikan bahwa para dokter hewan telah menerima pertanyaan tentang eutanasia, dan itu menjijikkan."

    "Sebagian besar dokter hewan akan meneruskan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke penampungan hewan, tetapi penampungan kami sudah penuh."

    Menurut Claire, para pemilik hewan peliharaan merasa panik saat konflik memanas.

    “Beberapa pemilik hewan peliharaan stres atau panik. Banyak maskapai penerbangan menolak mengangkut hewan, dan ketersediaan penerbangan telah menurun drastis," lanjutnya.

    Ia menambahkan, “Melakukan vaksinasi rabies akan menunda perjalanan selama tiga minggu.”

    Tidak Bisa Diterima

    Ketua badan amal yang mendukung hewan di zona konflik War Paws Louis Hastie memberikan tanggapan mengenai fenomena penelantaran hewan-hewan peliharaan oleh para ekspatriat di Dubai.

    Menurutnya, hal itu tidak bisa diterima, sekaligus menjadi ironi. Sebab, Dubai dikenal sebagai kota yang kaya.

    “Tidak dapat diterima bahwa penelantaran hewan peliharaan seperti itu terjadi di Dubai, kota yang dikenal kaya," kata Louis, dikutip dari Metro.co.uk.

    Seharusnya, pemerintah UEA membuat kebijakan terkait perlindungan hewan, dalam situasi krisis sekalipun.

    “Pemerintah UEA harus berbuat lebih banyak untuk melindungi hewan peliharaan bahkan dalam situasi konflik," tegasnya.

    Louis menilai, kasus hewan-hewan peliharaan yang ditinggalkan pemiliknya juga terjadi di wilayah konflik lain, dan menegaskan lembaganya akan terus mendampingi makhluk malang tersebut.

    “Ini bukan hanya masalah UEA—ini terjadi di zona konflik lain seperti Irak dan Ukraina. Beberapa orang tidak memandang hewan peliharaan seperti kami. Kami akan tetap bersama hewan-hewan ini sampai semuanya runtuh," tutur Louis.

    (Tribunnews.com/Rizki A.)


    Komentar
    Additional JS