Israel-AS Perangi Iran, Rusia 'Kebanjiran' Pesanan Ekspor Energi - Republika
Israel-AS Perangi Iran, Rusia 'Kebanjiran' Pesanan Ekspor Energi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika peta energi global berubah akibat ketegangan geopolitik, Rusia justru menemukan peluang baru. Di tengah pembatasan dari Eropa, permintaan terhadap minyak Rusia meningkat tajam dari pasar alternatif.
Situasi ini tidak hanya mengubah arus perdagangan energi global, tetapi juga menciptakan efek domino terhadap harga minyak dunia, dan pada akhirnya memengaruhi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa permintaan global terhadap energi Rusia kini sangat tinggi. Menurutnya, permintaan tersebut bahkan berpotensi melampaui kapasitas pasokan yang tersedia. Hal ini terjadi seiring pergeseran pasar Rusia dari Eropa ke kawasan lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Pernyataan tersebut mempertegas arah kebijakan energi Moskow. Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan bahwa penghentian pasokan energi ke negara-negara Eropa dapat memberikan keuntungan strategis bagi Rusia.
Moskow bahkan berencana mengalihkan ekspor energi ke platform perdagangan baru yang lebih menguntungkan, seiring rencana Eropa untuk secara bertahap membatasi hingga melarang pembelian energi dari Rusia, sebagaimana diberitakan Ria Novosti.
Dinamika ini memperlihatkan bahwa geopolitik energi tengah memasuki fase baru. Ketika Rusia mengalihkan ekspor ke pasar alternatif, harga energi global berpotensi mengalami tekanan naik akibat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Dalam konteks inilah, dampaknya mulai terasa hingga ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dr. Aswin Rivai, Pemerhati Ekonomi dan Dosen FEB-UPN Veteran Jakarta, menilai bahwa lonjakan harga energi akibat dinamika geopolitik akan memperumit arah kebijakan ekonomi global.
Ia menulis, “Ketidakpastian ekonomi global kembali menguat seiring meningkatnya tensi geopolitik dan lonjakan harga energi dunia.” Menurutnya, kondisi ini membuat kebijakan moneter global menjadi semakin sulit diprediksi.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa perubahan sikap bank sentral global turut memperkuat ketidakpastian tersebut. “Pendekatan ‘dua arah’ pada dasarnya adalah pengakuan atas realitas bahwa risiko ekonomi kini bersifat simetris,” tulisnya. Artinya, bank sentral kini harus bersiap menghadapi dua kemungkinan sekaligus, lonjakan inflasi atau perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Halaman 2 / 3
Dalam konteks Indonesia, dampak kenaikan harga energi menjadi semakin signifikan karena ketergantungan pada impor minyak. Menurut Aswin, tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak bersifat cost-push, yang berarti berasal dari kenaikan biaya produksi, bukan dari peningkatan permintaan. Ia menegaskan, “Inflasi akibat kenaikan harga minyak cenderung bersifat cost-push, bukan demand-pull.”
Tekanan tersebut akan muncul melalui berbagai jalur. Kenaikan harga bahan bakar meningkatkan biaya transportasi dan distribusi, sementara sektor industri menghadapi kenaikan biaya produksi yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen. Jika pemerintah menyesuaikan harga BBM bersubsidi, dampak inflasi akan menjadi lebih langsung dan signifikan.
Situasi ini menempatkan Bank Indonesia dalam posisi dilematis. Di satu sisi, bank sentral harus menjaga inflasi tetap terkendali. Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga yang terlalu agresif berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, kenaikan harga minyak global juga sering diikuti penguatan dolar AS, terutama jika kebijakan moneter di negara maju seperti Federal Reserve tetap ketat. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan domestik.
Dalam situasi seperti ini, Aswin menilai bahwa kebijakan moneter Indonesia harus mengedepankan fleksibilitas. Bank Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi, tanpa terjebak pada satu arah kebijakan tertentu.
Halaman 3 / 3

Namun, ia menekankan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup. Pemerintah juga harus memainkan peran penting melalui kebijakan fiskal, terutama dalam pengelolaan subsidi energi. Kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan beban subsidi jika harga domestik dipertahankan. Sebaliknya, jika harga disesuaikan, tekanan terhadap daya beli masyarakat tidak dapat dihindari.
Karena itu, reformasi subsidi menjadi semakin mendesak. Transformasi dari subsidi berbasis komoditas menuju subsidi berbasis penerima dinilai lebih tepat sasaran. Selain itu, penguatan perlindungan sosial seperti bantuan langsung tunai, subsidi transportasi, dan dukungan bagi UMKM menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Dalam jangka menengah, diversifikasi energi dan percepatan transisi menuju energi alternatif juga menjadi strategi penting. Ketergantungan terhadap impor minyak harus dikurangi untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Lonjakan permintaan minyak Rusia dan perubahan peta energi global bukan sekadar dinamika geopolitik yang jauh dari Indonesia. Dampaknya langsung terasa melalui inflasi, nilai tukar, hingga kebijakan fiskal dan moneter domestik.
Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, pendekatan kebijakan yang fleksibel dan terkoordinasi menjadi kunci bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi.