Iran Murka Ali Khamenei Tewas: AS dan Israel Teroris, Langgar Hukum Internasional - Liputan6
Iran Murka Ali Khamenei Tewas: AS dan Israel Teroris, Langgar Hukum Internasional
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
- Siapa yang dituduh Iran melakukan pembunuhan terhadap pemimpin tertingginya?
- Mengapa Iran menganggap serangan tersebut melanggar hukum internasional?
- Bagaimana sikap Rusia terhadap tindakan AS dan Israel ini?
Liputan6.com, Jakarta - Iran menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan aksi terorisme dan pembunuhan terencana (assassination) terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei dan pejabat tinggi lainnya. Pembunuhan itu terjadi pada Sabtu (28/2/2026).
"Tindakan teroris oleh AS dan rezim Zionis [Israel], yang melakukan pembunuhan terencana terhadap pemimpin tertinggi serta pejabat tinggi lainnya melalui agresi militer terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan nasional negara [Iran], merupakan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seluruh prinsip dan norma internasional," kata Kementerian Luar Negeri Iran melalui pernyataan resminya, Minggu (1/3/2026).
Iran menegaskan serangan gabungan kedua negara itu juga melanggar prinsip dan norma hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut Iran, penggunaan kekuatan militer terhadap pimpinan negara berdaulat tidak dapat dibenarkan dalam sistem hukum internasional.
Rusia Sebut AS Langgar Hukum Internasional
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia menuntut AS dan Israel segera menghentikan tindakan agresif terhadap Iran. Serangan itu dianggap melanggar piagam PBB dan hukum internasional.
Berbicara dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, Nebenzia menyebut agresi terhadap Iran itu telah memicu eskalasi di kawasan dan berpotensi menyebar jauh melampaui perbatasannya.
Nebenzia menilai, tindakan AS dan Israel itu merupakan aksi agresi bersenjata tanpa provokasi yang melanggar Piagam PBB dan hukum internasional.
"Aksi agresi bersenjata tanpa provokasi yang melanggar Piagam PBB dan hukum internasional," kata Nebenzia.
Menurutnya, aksi itu berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan dan ekonomi yang serius di kawasan. Eskalasi di sekitar Iran juga dinilai mengancam keamanan nuklir dan radiologis.
Dia mendorong Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengecam serangan tersebut. Nebenzia menyatakan Moskow siap membantu menemukan solusi diplomatik bagi krisis di Iran.
“Kami menekankan perlunya segera melanjutkan penyelesaian politik dan diplomatik, mencari solusi berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan keseimbangan kepentingan. Rusia siap memberikan semua bantuan yang diperlukan,” katanya.
Pembunuhan Ali Khamenei di Tengah Perundingan Nuklir
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengungkapkan keprihatinannya atas serangan AS dan Israel terhadap Iran hingga membunuh Ali Khamenei. Dia menilai, serangan tersebut menunjukkan peluang diplomasi dari perundingan nuklir yang berjalan disia-siakan.
Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB mengenai Iran di Markas PBB New York, Sabtu waktu setempat, Guterres menyoroti serangan AS-Israel terjadi setelah putaran ketiga perundingan tak langsung antara AS dan Iran yang ditengahi Oman.
“Saya sangat menyesalkan peluang diplomasi ini telah disia-siakan,” kata Guterres.
Dia pun menyoroti adanya persiapan yang telah dilakukan untuk pembicaraan teknis di Wina, Austria, pada pekan depan. Pertemuan itu rencananya akan diikuti dengan babak baru pembicaraan politik sebagai kelanjutan dari negosiasi AS-Iran itu.
Guterres kemudian mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di Timur Tengah, dengan semua pihak berkonflik hendaknya kembali ke meja perundingan.
“Saya menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera. Jika tidak, yang terjadi adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan,” kata Guterres, dilansir Antara.
Menurut Guterres, semua langkah harus ditempuh untuk memastikan eskalasi tidak terjadi lagi. Dia mengakui telah menerima laporan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran secara terpisah telah berkomunikasi dengan mitra di Timur Tengah.
Guterres pun menyerukan semua anggota PBB untuk senantiasa mematuhi hukum internasional, termasuk Piagam PBB, memastikan warga sipil terus dilindungi sesuai hukum humaniter internasional, dan menjamin keamanan nuklir.