Demi Paksa Iran Buka Selat Hormuz, Trump Berencana Blokade Pulau Kharg yang Jadi Pusat Minyak - Tribunnews
Demi Paksa Iran Buka Selat Hormuz, Trump Berencana Blokade Pulau Kharg yang Jadi Pusat Minyak
Trump mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pusat Pulau Kharg di Iran, kecuali Teheran menghentikan serangan di Selat Hormuz.
Ringkasan Berita:
- Trump mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pusat Pulau Kharg di Iran, kecuali Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
- Dalam pekan lalu, pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan presisi skala besar di Pulau Kharg di Iran.
- Baru-baru ini, kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan India dan Pakistan juga berhasil melewati selat tersebut seiring dengan peningkatan negosiasi antar pemerintah.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan rencana untuk menduduki atau memblokade Pulau Kharg di Iran untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.
Rencana Trump ini sebagaimana dilaporkan Axios pada Jumat (20/3/2026), mengutip empat sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Trump mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pusat Pulau Kharg di Iran, kecuali Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Dalam pekan lalu, pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan presisi skala besar di Pulau Kharg di Iran.
“Pasukan AS berhasil menyerang lebih dari 90 target militer Iran di Pulau Kharg, sambil tetap menjaga infrastruktur minyak,” kata CENTCOM AS pada 14 Maret 2026, dilansir Al Arabiya.
"Serangan itu menghancurkan fasilitas penyimpanan ranjau laut, bunker penyimpanan rudal, dan beberapa situs militer lainnya," kata militer AS dalam sebuah unggahan di X pada saat itu.
90 Kapal Melintasi Selat Hormuz
Sekitar 90 kapal, termasuk kapal tanker minyak, telah melintasi Selat Hormuz sejak awal perang dengan Iran dan masih mengekspor jutaan barel minyak pada saat jalur air tersebut secara efektif ditutup, menurut platform data maritim dan perdagangan.
Menurut perusahaan data maritim Lloyd's List Intelligence, banyak kapal yang melewati selat tersebut adalah kapal-kapal yang melakukan transit "gelap" untuk menghindari sanksi dan pengawasan pemerintah Barat, dan kemungkinan besar memiliki hubungan dengan Iran.
Baru-baru ini, kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan India dan Pakistan juga berhasil melewati selat tersebut seiring dengan peningkatan negosiasi antar pemerintah.
Dikutip dari AP News, ketika harga minyak mentah melonjak di atas $100 per barel, Presiden AS Donald Trump menekan sekutu dan mitra dagangnya untuk mengirim kapal perang dan membuka kembali selat tersebut, dengan harapan dapat menurunkan harga minyak.
Sebagian besar lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur air untuk transportasi minyak dan gas global yang memasok sekitar seperlima minyak mentah dunia, telah terhenti sejak awal Maret, setelah perang dimulai.
Baca juga: Iran Tetap Kuat di Selat Hormuz, Trump Mau Kerahkan Ribuan Pasukan Amerika ke Timur Tengah
Sekitar 20 kapal telah diserang di daerah tersebut.
Namun, Iran masih berhasil mengekspor lebih dari 16 juta barel minyak sejak awal Maret, menurut perkiraan platform data dan analisis perdagangan Kpler.
Karena sanksi Barat dan risiko terkait, China menjadi pembeli minyak Iran terbesar.
Menurut analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, volume ekspor minyak Iran tetap "berkelanjutan".
Iran berhasil memperoleh keuntungan dari penjualan minyak dan juga "mempertahankan jalur ekspornya sendiri" dengan mengendalikan titik rawan tersebut, kata Kun Cao, direktur klien di perusahaan konsultan Reddal.
Estimasi data ekspor minyak Iran sebagian besar selaras dengan data lalu lintas maritim.
Menurut Lloyd's List Intelligence, setidaknya 89 kapal melintasi Selat Hormuz antara 1 dan 15 Maret – termasuk 16 kapal tanker minyak, turun dari sekitar 100 hingga 135 kapal yang melintas per hari sebelum perang.
Lebih dari seperlima dari 89 kapal tersebut diyakini berafiliasi dengan Iran, sementara kapal-kapal yang berafiliasi dengan Tiongkok dan Yunani termasuk di antara sisanya, kata laporan tersebut.
Kapal-kapal lain juga berhasil lolos.
Baca juga: Iran Pertimbangkan Tarif Kapal di Selat Hormuz di Tengah Eskalasi Konflik dengan AS-Israel

Beberapa kapal di dekat atau di selat tersebut diketahui telah menyatakan diri sebagai kapal yang terkait dengan Tiongkok atau memiliki seluruh awak kapal berkebangsaan Tiongkok untuk mengurangi risiko diserang, berdasarkan analisis sebelumnya di platform pelacakan kapal MarineTraffic.
Para analis percaya bahwa mereka memanfaatkan hubungan yang lebih dekat antara Tiongkok dan Iran.
Harga minyak telah melonjak lebih dari 40 persen hingga di atas $100 per barel sejak perang Iran dimulai, dan Iran mengancam tidak akan mengizinkan "bahkan satu liter pun minyak" yang ditujukan untuk AS, Israel, dan sekutu mereka untuk melewati wilayah tersebut.
Untuk mencoba menstabilkan harga minyak, AS mengatakan pihaknya mengizinkan kapal tanker minyak Iran untuk melintasi selat tersebut.
“Kapal-kapal Iran sudah mulai berlayar, dan kami membiarkan hal itu terjadi untuk memasok kebutuhan dunia,” kata Menteri Keuangan Scott Bessent dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Senin.
(Tribunnews.com/Nuryanti)
Berita lain terkait Iran Vs Amerika Memanas
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Jet-Jet-Israel-Serang-Iran.jpg)