0
News
    Home Abu Dhabi Berita Dunia Internasional Konflik Timur Tengah Nuklir Spesial

    Brigade Janji Sejati Ancam Serang Fasilitas Nuklir Barakah di Abu Dhabi, Ketegangan Makin Meningkat - Tribunnews

    6 min read

     

    Brigade Janji Sejati Ancam Serang Fasilitas Nuklir Barakah di Abu Dhabi, Ketegangan Makin Meningkat

    Kelompok yang berafiliasi dengan Houthi ancam serang Barakah Nuclear Power Plant di Abu Dhabi

    Ringkasan Berita:
    • Kelompok “Brigade Janji Sejati di Semenanjung Arab” mengancam akan menargetkan Barakah Nuclear Power Plant di Abu Dhabi, yang diyakini terkait dengan Houthi movement.
    • Houthi juga mengancam melanjutkan serangan terhadap kapal di Red Sea dan mengklaim telah menargetkan ratusan kapal sejak eskalasi konflik regional.
    • Di tengah ketegangan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuka peluang negosiasi damai dengan syarat kedaulatan Iran dihormati, kompensasi kerusakan, dan jaminan serangan tidak terulang.

    TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok milisi yang berafiliasi dengan gerakan Houthi mengeluarkan ancaman baru terhadap fasilitas strategis di kawasan Teluk.

    Kelompok yang menamakan diri “Brigade Janji Sejati di Semenanjung Arab” itu menyatakan akan menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah Nuclear Power Plant yang berada di wilayah Abu Dhabi, United Arab Emirates.

    Ancaman tersebut disampaikan dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (12/3/2026).

    Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menegaskan bahwa fasilitas nuklir tersebut dianggap sebagai target berikutnya dalam operasi yang mereka klaim sebagai bagian dari “pertempuran melawan musuh di kawasan Semenanjung Arab”.

    Mengutip dari Middle East Monitor, Kelompok “Brigade Janji Sejati” secara luas diyakini oleh para analis keamanan sebagai organisasi kedok yang digunakan oleh gerakan Houthi movement untuk melakukan operasi lintas wilayah.

    Gerakan Houthi sendiri diketahui memiliki hubungan erat dengan Iran dan telah terlibat dalam berbagai konflik di kawasan, terutama di Yaman.

    Kelompok ini pertama kali muncul pada Januari 2021 dan sempat menghilang dari sorotan publik.

    Namun, setelah hampir lima tahun, nama kelompok tersebut kembali muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Washington, Teheran, dan Tel Aviv.

    Dalam beberapa pernyataan sebelumnya, kelompok tersebut juga mengancam akan menargetkan kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk kedutaan besar dan fasilitas energi.

    Mereka bahkan menyebut kemungkinan melakukan serangan menggunakan rudal dan drone serta mengganggu jalur distribusi minyak di kawasan Red Sea dan Arabian Sea.

    Ancaman Serangan terhadap Jalur Pelayaran

    Ancaman terhadap fasilitas nuklir Barakah muncul bersamaan dengan meningkatnya aktivitas militer Houthi di jalur pelayaran internasional.

    Kelompok tersebut sebelumnya memperingatkan bahwa mereka dapat kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah.

    Baca juga: Trump Boncos! Baru 6 Hari Perang Iran, AS Sudah Bakar Duit Rp180 Triliun

    Dalam sebuah video yang dirilis baru-baru ini, Houthi mengklaim telah menyerang sebuah kapal Inggris.

    Video tersebut disebut sebagai bagian dari rangkaian operasi yang mereka klaim telah menargetkan 228 kapal sejak eskalasi konflik regional dimulai.

    Klip tersebut diakhiri dengan pesan yang berbunyi “apa yang akan datang akan lebih besar”, yang oleh para pengamat dianggap sebagai sinyal ancaman bahwa serangan serupa dapat kembali terjadi dalam waktu dekat.

    Serangan terhadap jalur pelayaran di kawasan ini berpotensi memicu gangguan serius terhadap perdagangan global.

    Mengingat Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa melalui Terusan Suez.

    Iran Ajukan Syarat Jika Ingin Damai

    Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Iran juga membuka peluang untuk kembali ke meja perundingan guna menghentikan konflik yang telah berlangsung hampir dua pekan.

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan hal tersebut saat melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Rusia diketahui menjadi salah satu sekutu strategis Teheran di panggung geopolitik internasional.

    Dalam percakapan tersebut, Pezeshkian mengisyaratkan bahwa Iran tidak menutup kemungkinan untuk kembali melakukan negosiasi dengan pihak Barat. Namun, Teheran menetapkan tiga syarat utama jika ingin menghentikan konflik.

    Pertama, Amerika Serikat dan sekutunya harus menghormati kedaulatan Iran sebagai negara merdeka.

    Kedua, Iran menuntut adanya kompensasi atas kerusakan yang terjadi akibat serangan gabungan AS dan Israel yang terjadi pada akhir Februari lalu.

    Syarat ketiga adalah adanya jaminan bahwa agresi militer serupa tidak akan kembali terjadi di masa depan.

    Pemerintah Iran menyatakan saat ini mereka masih menunggu respons dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.

    Namun, para pejabat Iran juga menegaskan bahwa tingkat kepercayaan Teheran terhadap Washington masih sangat rendah setelah berbagai konflik yang terjadi sebelumnya.

    (Tribunnews.com / Namira)


    Komentar
    Additional JS